
Pantau - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyiapkan pasokan air hingga 5.000 meter kubik per hari untuk mendukung operasional proyek strategis nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Langsung (PSEL) di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu.
Penyediaan air tersebut menjadi salah satu kebutuhan utama dalam mendukung pengoperasian fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang diproyeksikan beroperasi selama 30 tahun.
Direktur Utama Perumda Tirta Bhagasasi Reza Luthfi Hasan mengatakan kesiapan pasokan air harus diperhitungkan sejak tahap persiapan proyek karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan operasional fasilitas.
"Persiapan operasional PSEL Burangkeng tidak hanya berkaitan dengan kesiapan teknologi olah sampah. Ketersediaan pasokan air dalam jumlah besar serta berkelanjutan juga menjadi salah satu faktor penting yang harus dipastikan sejak jauh-jauh hari," kata Reza di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (15/10/2026).
PSEL Burangkeng Diproyeksikan Butuh 5.000 Meter Kubik Air Setiap Hari
Reza menjelaskan bahwa kebutuhan air untuk PSEL Burangkeng diperkirakan mencapai 5.000 meter kubik per hari ketika fasilitas mulai beroperasi.
Jumlah tersebut harus dipenuhi secara berkelanjutan untuk menjaga kelancaran proses pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Menurutnya, kebutuhan air pada fasilitas PSEL berbeda dengan penggunaan air biasa karena pasokan harus tersedia secara terus-menerus.
Perencanaan penyediaan air juga perlu mempertimbangkan masa operasional proyek yang mencapai puluhan tahun.
Karena itu, sistem pasokan yang disiapkan harus memiliki tingkat keandalan tinggi agar tidak mengganggu kegiatan pengolahan sampah dan pembangkitan listrik.
Air Digunakan untuk Menghasilkan Uap Penggerak Turbin
Reza menerangkan bahwa air memiliki peran penting dalam proses pembangkitan listrik pada fasilitas PSEL.
Air digunakan untuk menghasilkan uap yang kemudian dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak turbin pembangkit listrik.
Dengan demikian, ketersediaan air bukan hanya kebutuhan penunjang, tetapi merupakan bagian dari proses utama operasional fasilitas.
"Karena itu, gangguan pasokan air berpotensi mempengaruhi proses operasional di fasilitas tersebut," katanya.
Menurutnya, gangguan distribusi air dapat berdampak pada kelancaran proses produksi energi listrik dari pengolahan sampah.
Hal tersebut menjadi alasan Perumda Tirta Bhagasasi mulai mempersiapkan skema penyediaan air sebelum fasilitas PSEL Burangkeng beroperasi.
Tirta Bhagasasi Koordinasi dengan Danantara dan Mitra Proyek
Perumda Tirta Bhagasasi mulai membahas kebutuhan pasokan air bersama sejumlah pihak yang terlibat dalam pembangunan PSEL Burangkeng.
Pihak-pihak tersebut meliputi Danantara, pemerintah daerah, serta Everbright Harmony sebagai mitra strategis pembangunan fasilitas pengolahan sampah.
Pembahasan difokuskan pada skema penyediaan air yang dapat memenuhi kebutuhan operasional proyek dalam jangka panjang.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan pasokan air dapat tersedia sesuai kebutuhan fasilitas ketika mulai beroperasi.
Selain mempertimbangkan volume kebutuhan harian, perencanaan juga diarahkan pada keberlanjutan distribusi air selama masa operasional.
Pasokan Air Disiapkan untuk Mendukung Operasional Selama 30 Tahun
Proyek PSEL Burangkeng diproyeksikan beroperasi selama 30 tahun sebagai fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Kabupaten Bekasi.
Selama periode tersebut, kebutuhan air harus dipenuhi melalui sistem penyediaan yang mampu menjaga kontinuitas pasokan.
Perumda Tirta Bhagasasi menilai perencanaan jangka panjang diperlukan karena fasilitas pembangkit listrik membutuhkan dukungan air secara konsisten.
Persiapan pasokan air menjadi bagian dari upaya mendukung kesiapan operasional PSEL Burangkeng, selain pembangunan teknologi pengolahan sampah.
Melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra proyek, Perumda Tirta Bhagasasi berupaya memastikan kebutuhan air fasilitas tersebut dapat terpenuhi ketika mulai beroperasi.
- Penulis :
- Aditya Yohan




