HOME  ⁄  Ekonomi

IPB University Salurkan Tiga Varietas Bibit Cabai Unggul ke Petani Merauke untuk Dorong Kemandirian Benih

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IPB University Salurkan Tiga Varietas Bibit Cabai Unggul ke Petani Merauke untuk Dorong Kemandirian Benih
Foto: Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University kirimkan  bantuan bibit cabai varietas Bonita IPB, Neno Tavi IPB, dan Patriot IPB kepada petani Kampung Kumbe, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (sumber: Humas IPB)

Pantau - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University menyalurkan bantuan tiga varietas bibit cabai unggul kepada petani di Kampung Kumbe, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, guna mendukung pengembangan budi daya cabai sekaligus mendorong kemandirian produksi benih di wilayah tersebut.

Bantuan yang disalurkan terdiri atas tiga varietas cabai hasil inovasi IPB University, yakni Bonita IPB, Neno Tavi IPB, dan Patriot IPB yang memiliki karakteristik serta keunggulan masing-masing.

Ketua TEP 9 IPB University, Prof Muhamad Syukur, dalam keterangannya di Bogor pada Sabtu menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan inovasi varietas cabai kepada petani di kawasan transmigrasi.

Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung oleh Prof Muhamad Syukur bersama Ketua TEP 8 IPB University, Dr Zulfikar Damaralam Sahid.

Bantuan bibit cabai tersebut diterima Kepala Kampung Kumbe, Edoardus A Basik Basik, yang mewakili para petani penerima bantuan di wilayah tersebut.

Selain menyalurkan bibit, tim IPB University juga memberikan pelatihan teknis agar petani mampu mengembangkan budi daya cabai sekaligus memproduksi benih secara mandiri.

Bonita IPB dan Neno Tavi IPB Bisa Diperbanyak Petani Secara Mandiri

Prof Muhamad Syukur yang juga merupakan Ketua Inovator Bonita IPB menjelaskan bahwa varietas Bonita IPB merupakan cabai rawit merah nonhibrida dengan potensi produktivitas mencapai 16 ton per hektare.

Varietas tersebut memiliki sifat toleran terhadap virus sehingga dapat menjadi salah satu pilihan bagi petani dalam mengembangkan kegiatan budi daya cabai.

Bonita IPB juga memiliki tipe ORI dan mampu beradaptasi pada berbagai kondisi ketinggian lahan, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi.

Salah satu keunggulan utama Bonita IPB adalah sifat nonhibridanya yang memungkinkan petani memperbanyak sendiri benih dari tanaman yang telah dibudidayakan.

Dengan karakteristik tersebut, petani tidak harus selalu bergantung pada pembelian benih baru untuk melakukan penanaman berikutnya.

Sementara itu, Ketua TEP 8 IPB University, Dr Zulfikar Damaralam Sahid, menjelaskan bahwa Neno Tavi IPB merupakan varietas cabai keriting nonhibrida dengan potensi produktivitas mencapai 20 ton per hektare.

Varietas Neno Tavi IPB juga memiliki keunggulan berupa ketahanan terhadap virus yang dapat mendukung keberhasilan kegiatan budi daya cabai.

Dr Zulfikar yang merupakan anggota tim inovator Neno Tavi IPB menyampaikan bahwa sifat nonhibrida varietas tersebut memungkinkan petani memproduksi sendiri benih untuk kebutuhan musim tanam berikutnya.

Kemampuan memperbanyak benih dari varietas Bonita IPB dan Neno Tavi IPB diharapkan dapat menjadi salah satu faktor pendukung terwujudnya kemandirian benih cabai di kalangan petani Distrik Malind.

IPB University Uji Adaptasi Cabai Patriot IPB di Kawasan Transmigrasi

Selain dua varietas nonhibrida, petani Kampung Kumbe juga menerima bantuan bibit Patriot IPB yang merupakan varietas cabai rawit merah hibrida hasil inovasi IPB University.

Patriot IPB merupakan varietas baru yang namanya diberikan secara khusus sebagai bentuk dedikasi tim IPB University terhadap pelaksanaan Program Ekspedisi Patriot.

Berbeda dengan Bonita IPB dan Neno Tavi IPB, varietas Patriot IPB masih berada pada tahap awal uji coba penanaman di kawasan transmigrasi.

Prof Muhamad Syukur berharap varietas tersebut mampu menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan dan lahan pertanian di kawasan transmigrasi, khususnya Kabupaten Merauke.

Distrik Malind sendiri merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Merauke yang memiliki kegiatan penanaman cabai cukup luas.

Kondisi tersebut menjadikan Distrik Malind sebagai salah satu lokasi untuk pengembangan budi daya sekaligus pengujian kemampuan adaptasi varietas cabai hasil inovasi IPB University.

Pengujian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kesesuaian varietas cabai dengan kondisi lingkungan pertanian setempat.

Sebanyak 40 Peserta Ikuti Pelatihan Produksi Benih Cabai

Selain memberikan bantuan bibit, TEP 9 IPB University menyelenggarakan Pelatihan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budi Daya dan Produksi Benih Cabai di Kampung Kumbe pada awal Oktober 2026.

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 40 peserta yang terdiri atas petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), aparat kampung, serta anggota kelompok tani.

Pelatihan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai teknik budi daya cabai serta proses produksi benih secara mandiri.

Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan tidak hanya mampu menanam cabai, tetapi juga memiliki kemampuan menyediakan benih untuk kebutuhan penanaman berikutnya.

Peningkatan keterampilan produksi benih menjadi bagian dari upaya IPB University untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pasokan benih dari luar wilayah.

Program tersebut juga menggabungkan pemanfaatan inovasi varietas unggul dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian.

Prof Muhamad Syukur berharap varietas Bonita IPB dan Neno Tavi IPB dapat beradaptasi dengan baik terhadap kondisi lingkungan pertanian di Merauke.

Dengan kemampuan adaptasi yang sesuai, kedua varietas nonhibrida tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan petani untuk meningkatkan produksi cabai sekaligus memperkuat kemandirian benih di Distrik Malind.

Melalui bantuan bibit dan pelatihan teknis tersebut, IPB University berupaya mendukung pengembangan pertanian cabai secara berkelanjutan di kawasan transmigrasi Kabupaten Merauke.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026