
Pantau - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai penjajakan dan pencocokan usaha atau business matching untuk pembiayaan dan perdagangan syariah dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 mencapai Rp3,16 triliun selama penyelenggaraan pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta.
Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan syariah sebesar Rp2,6 triliun dan perdagangan syariah mencapai Rp558,4 miliar.
Selain itu, ISEF 2026 membukukan penjualan produk makanan halal dan fesyen sebesar Rp13,85 miliar serta komitmen kerja sama pasar uang dan pasar valuta asing syariah senilai Rp6,05 triliun.
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro menyampaikan bahwa pencapaian tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang terbangun melalui penyelenggaraan ISEF 2026.
“Capaian ini mencerminkan aktivitas yang terbangun. Ke depan, yang terpenting adalah memastikan capaian tersebut memberikan manfaat nyata bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,” kata Solikin dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Pembiayaan Syariah ISEF 2026 Tembus Rp2,6 Triliun
Bank Indonesia mencatat pembiayaan syariah menjadi penyumbang terbesar dalam kegiatan business matching ISEF 2026 dengan nilai mencapai Rp2,6 triliun.
Sementara itu, nilai penjajakan perdagangan syariah tercatat sebesar Rp558,4 miliar sehingga total keduanya mencapai sekitar Rp3,16 triliun.
Di luar kegiatan penjajakan bisnis, transaksi penjualan produk makanan halal dan fesyen selama penyelenggaraan ISEF mencapai Rp13,85 miliar.
ISEF 2026 juga menghasilkan komitmen kerja sama di sektor pasar uang dan pasar valuta asing syariah sebesar Rp6,05 triliun.
Pencapaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan antara pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, dan investor.
BI Dorong Tiga Pilar Penguatan Ekonomi dan Keuangan Syariah
Solikin menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah perlu diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari peningkatan aktivitas usaha, tetapi juga dari semakin luasnya kesempatan masyarakat untuk terlibat dan memperoleh manfaat.
Karena itu, pembiayaan syariah perlu terhubung dengan kegiatan produktif, sedangkan keuangan sosial syariah diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
BI menekankan tiga pilar utama dalam memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, yaitu:
1. Integrasi rantai nilai halal dari hulu hingga hilir, untuk memperkuat keterhubungan berbagai sektor dalam industri halal.
2. Perluasan pembiayaan syariah, melalui inovasi serta integrasi antara keuangan komersial dan keuangan sosial syariah.
3. Peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah, dengan dukungan transformasi digital untuk memperluas akses masyarakat.
Ketiga pilar tersebut menjadi perhatian BI dalam mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berkelanjutan.
ISEF 2026 Dikunjungi 93 Ribu Orang dan Libatkan Seribu Pelaku Industri Halal
Berdasarkan catatan Bank Indonesia, ISEF 2026 dikunjungi sekitar 93 ribu orang selama lima hari penyelenggaraan.
Jangkauan informasi kegiatan melalui media massa dan media sosial juga tercatat mencapai 26,5 juta orang.
Selain pengunjung, ISEF 2026 melibatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal dari berbagai sektor.
Peserta kegiatan mencakup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga keuangan syariah, pelaku industri kreatif, serta investor domestik dan internasional.
ISEF 2026 mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”.
Selama penyelenggaraan, lebih dari 100 kegiatan dilaksanakan secara langsung maupun daring untuk mendukung penguatan ekosistem ekonomi syariah.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pengembangan industri halal, perluasan akses pembiayaan, peningkatan peluang usaha, serta penguatan gagasan dan kepemimpinan ekonomi syariah.
Program pemberdayaan perempuan dan generasi muda juga menjadi bagian dari kegiatan melalui edukasi, kewirausahaan, dan inovasi.
BI Harapkan Hasil ISEF Berdampak pada Kesejahteraan Masyarakat
Solikin mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan ISEF 2026 sebagai pijakan untuk memperluas kontribusi ekonomi dan keuangan syariah terhadap perekonomian nasional.
Ia menilai kolaborasi yang telah terbangun selama penyelenggaraan perlu dilanjutkan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat.
“Keberhasilan kita ke depan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dijalankan, tetapi oleh perubahan nyata yang kita hasilkan bagi dunia usaha dan kesejahteraan masyarakat,” kata Solikin.
Bank Indonesia berharap berbagai inisiatif yang dihasilkan melalui ISEF 2026 dapat terus berkembang untuk memperkuat ekosistem industri halal, memperluas pembiayaan produktif, dan mendukung kesejahteraan masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




