
Pantau - Hilirisasi nikel menjadi salah satu sektor yang berpotensi mendukung pengembangan industri kendaraan listrik dan kemandirian energi Indonesia, seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kendaraan listrik setelah antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) terjadi di Bali pada Oktober 2026.
Kelangkaan BBM yang terjadi pada pekan ketiga Oktober menyebabkan sejumlah pengendara harus mengantre hingga lebih dari empat jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga Bali mulai mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik sebagai alternatif transportasi sehari-hari.
Antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) berangsur berkurang setelah Pertamina melakukan normalisasi distribusi dan pemerintah daerah menerapkan kebijakan ganjil-genap untuk pembelian BBM bersubsidi.
Kelangkaan BBM di Bali Dorong Minat Kendaraan Listrik
Warga Denpasar bernama Rai (55) mengungkapkan bahwa antrean panjang di SPBU sempat menyulitkan aktivitas masyarakat yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar minyak.
Ia menceritakan bahwa kendaraan listrik milik rekannya menjadi salah satu sarana transportasi yang dapat diandalkan ketika pasokan bensin sulit diperoleh.
“Waktu itu ada teman yang pakai motor listrik, dia jadi penyelamat kalau ada yang perlu dicari di luar kantor. Sampai bantu cariin pom bensin (SPBU) yang masih jualan,” ujar Rai kepada ANTARA, Minggu (18/10/2026).
Rai mengatakan kondisi SPBU di sekitar tempat tinggalnya di Nusa Dua, Kuta Selatan, mulai kembali normal sejak Jumat (16/10/2026).
Meski antrean telah berkurang, pengalaman kesulitan memperoleh BBM membuatnya mulai mempertimbangkan untuk mengganti mobil konvensional dengan mobil listrik.
Keinginan serupa disampaikan Antania (29), warga yang telah tertarik menggunakan sepeda motor listrik sebelum kelangkaan BBM terjadi.
Menurut Antania, kemacetan yang semakin parah akibat antrean pembelian BBM di kawasan Seminyak, Kuta, membuat ketertarikannya terhadap motor listrik semakin besar.
Pengguna Motor Listrik Ungkap Biaya Operasional Lebih Hemat
Antania mengaku telah mencari informasi mengenai penggunaan sepeda motor listrik, termasuk melalui percakapan dengan pengemudi ojek daring yang menggunakan kendaraan tersebut.
“Driver-nya rekomen banget, karena teknologinya katanya udah oke banget, dan biayanya kalau dihitung-hitung jauh lebih murah,” kata Antania.
Pengalaman serupa disampaikan Meliyani (29), pemilik sepeda motor listrik yang merasakan perbedaan biaya operasional dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.
Meliyani sebelumnya menggunakan sepeda motor konvensional dan motor listrik secara bergantian untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Namun, kenaikan harga BBM nonsubsidi akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran membuatnya semakin sering menggunakan motor listrik.
“For sekarang ini sangat menguntungkan, sih, motor listrik. Karena BBM lagi mahal, kadang langka, jadi benar-benar kepakai motor listriknya. Dan juga, ya, lebih irit untuk ngecas ketimbang beli bensin,” kata Meliyani.
Menurut Meliyani, pengisian daya listrik membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan pembelian bensin untuk kebutuhan transportasinya.
Hilirisasi Nikel Berkaitan dengan Pengembangan Industri Kendaraan Listrik
Pengembangan kendaraan listrik menjadi salah satu sektor yang berkaitan dengan hilirisasi nikel di Indonesia.
Nikel merupakan bahan baku yang dapat digunakan dalam produksi sejumlah jenis baterai kendaraan listrik.
Melalui pengolahan nikel menjadi produk bernilai tambah, Indonesia memiliki peluang untuk mendukung rantai pasok industri baterai dan kendaraan listrik.
Namun, pemanfaatan kendaraan listrik secara luas juga membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya dan sistem penyediaan energi yang memadai.
Pengalaman sejumlah warga Bali menunjukkan bahwa ketersediaan kendaraan listrik dapat menjadi alternatif ketika distribusi BBM mengalami gangguan.
Meski demikian, pengalaman tersebut belum dapat dianggap mewakili pandangan seluruh masyarakat Bali mengenai penggunaan kendaraan listrik.
Kemandirian Energi Membutuhkan Ekosistem Kendaraan Listrik yang Andal
Kelangkaan BBM di Bali memperlihatkan dampak gangguan pasokan bahan bakar terhadap mobilitas masyarakat.
Normalisasi distribusi oleh Pertamina dan penerapan kebijakan pembelian BBM bersubsidi oleh pemerintah daerah membantu mengurangi antrean di SPBU.
Di sisi lain, pengalaman warga yang menggunakan kendaraan listrik menunjukkan adanya alternatif transportasi yang tidak bergantung langsung pada pasokan bensin.
Pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang andal menjadi salah satu kebutuhan dalam mendukung peralihan dari kendaraan konvensional.
Hilirisasi nikel dapat berperan dalam mendukung penyediaan bahan baku industri baterai, sementara penguatan infrastruktur pengisian daya diperlukan untuk menunjang penggunaannya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan industri dan transportasi yang berkaitan dengan tujuan memperkuat kemandirian energi nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan




