HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp18.015 per Dolar AS, Rencana BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG Jadi Sentimen Positif

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp18.015 per Dolar AS, Rencana BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG Jadi Sentimen Positif
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Nasabah melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym..)

Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 31 poin atau 0,07 persen menjadi Rp18.015 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10/2026), seiring sentimen positif dari rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan 80 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah ditutup pada posisi Rp18.046 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai rencana penyesuaian komposisi IHSG dapat memberikan dukungan terhadap pasar saham domestik dan nilai tukar rupiah.

“Rupiah walau masih penuh ketidakpastian, namun langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham HSC dari IHSG diharapkan bisa memberikan sentimen positif dan dukungan pada ekuitas domestik rupiah,” ucap Lukman kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

BEI Berencana Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan terdapat 80 saham dengan kategori HSC atau konsentrasi kepemilikan tinggi yang saat ini masuk dalam perhitungan IHSG.

Sebanyak 80 saham tersebut memiliki bobot sekitar 18 persen terhadap indeks.

BEI berencana mengeluarkan saham-saham tersebut dari perhitungan IHSG untuk menghasilkan gambaran pergerakan indeks yang lebih wajar.

Kebijakan tersebut mempertimbangkan potensi risiko dari saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi.

Jeffrey menjelaskan bahwa pengeluaran saham HSC dari IHSG tidak berarti saham tersebut dihapus pencatatannya dari BEI atau mengalami delisting.

Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan oleh investor di bursa.

Namun, pergerakan harga saham HSC tidak lagi memengaruhi pergerakan IHSG setelah kebijakan diterapkan.

Konflik Timur Tengah dan Ukraina Masih Tekan Rupiah

Meski menguat pada pembukaan perdagangan, rupiah masih menghadapi tekanan dari perkembangan geopolitik internasional.

Lukman menyoroti meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta berlanjutnya perang antara Rusia dan Ukraina.

Menurutnya, kedua konflik tersebut berpotensi meningkatkan harga minyak mentah dunia dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Eskalasi Timteng dan perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan harga minyak mentah yang masih terus naik akan kembali memberikan tekanan pada rupiah,” ujar Lukman.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diperhatikan dalam pergerakan nilai tukar.

Harga Minyak WTI Naik ke 103,66 Dolar AS per Barel

Berdasarkan laporan Xinhua, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 2,25 dolar AS atau 2,22 persen.

Kenaikan tersebut membawa harga minyak WTI ditutup pada level 103,66 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 31 sen atau 0,28 persen.

Harga minyak Brent tercatat ditutup pada posisi 109,55 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Pergerakan harga minyak tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar keuangan global.

Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.100

Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan perkembangan eksternal, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Rencana BEI mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG dinilai dapat menjadi faktor pendukung bagi pasar keuangan domestik.

Namun, ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia masih berpotensi membatasi penguatan rupiah.

Pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati perkembangan kebijakan bursa dan kondisi ekonomi global dalam menentukan arah perdagangan mata uang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026