
Pantau - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mempercepat transformasi ekonomi dari sektor ekstraktif menuju ekonomi berkelanjutan berbasis hilirisasi industri dengan menargetkan minimal 50 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam tiga tahun ke depan.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk mengurangi ketergantungan fiskal Kaltim terhadap dana transfer pemerintah pusat sekaligus menghadapi tantangan penahanan dana bagi hasil yang menjadi salah satu sumber pendapatan daerah.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menyampaikan komitmen tersebut saat membuka Forum Konsultasi Daerah (FKD) Rencana Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur 2045 di Samarinda, Selasa.
"Kebijakan transformasi ditempuh guna mengurangi ketergantungan fiskal terhadap dana transfer pusat dan menghadapi tantangan penahanan dana bagi hasil," kata Seno Aji.
Menurut Seno, struktur perekonomian Kaltim selama ini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan batu bara serta minyak dan gas bumi (migas), sehingga diperlukan langkah strategis untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif dinilai berpotensi menimbulkan tantangan dalam menjaga keberlanjutan pendapatan daerah, terutama ketika terjadi perubahan kebijakan fiskal maupun penurunan penerimaan dari sumber daya alam.
Pemprov Kaltim Targetkan PAD Menyumbang 50 Persen APBD dalam Tiga Tahun
Seno menjelaskan bahwa salah satu tantangan fiskal yang dihadapi Kalimantan Timur adalah dana bagi hasil yang seharusnya diterima daerah dalam jumlah besar, tetapi hingga kini masih tertahan di pemerintah pusat.
Kondisi tersebut mendorong Pemprov Kaltim mempercepat perubahan struktur perekonomian agar tidak terus bergantung pada penerimaan dari sektor pertambangan dan transfer anggaran pemerintah pusat.
"Karena itu, Kaltim harus segera menyiapkan transformasi ekonomi baru,” jelas Seno.
Berdasarkan kondisi perekonomian saat ini, sekitar 34 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Timur masih didominasi sektor ekonomi ekstraktif.
Besarnya kontribusi sektor tersebut menunjukkan bahwa pertambangan dan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam masih memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian daerah.
Pemprov Kaltim berupaya mengurangi ketergantungan tersebut melalui pengembangan industri pengolahan dan sektor ekonomi non-ekstraktif yang berpotensi menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.
Transformasi ekonomi juga diarahkan untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang dapat memperkuat kemampuan fiskal pemerintah daerah.
“Kita harapkan postur APBD kita ke depan sebagian besar sudah bersumber dari pendapatan asli daerah,” tegas Seno.
Pemprov Kaltim menargetkan dalam tiga tahun mendatang minimal 50 persen dari postur APBD telah bersumber dari PAD sebagai salah satu indikator keberhasilan transformasi ekonomi menuju kemandirian fiskal.
Hilirisasi Sawit Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi Baru Kalimantan Timur
Seno menyampaikan bahwa laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Kalimantan Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ekonomi non-ekstraktif sebagai sumber pertumbuhan baru.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah industri pengolahan melalui hilirisasi energi dan komoditas kelapa sawit.
Pengembangan industri hilirisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas yang dihasilkan di Kalimantan Timur sekaligus memperluas kegiatan ekonomi masyarakat.
Saat ini, kegiatan hilirisasi kelapa sawit telah berjalan di Kota Bontang dan Kota Balikpapan melalui keberadaan sejumlah pabrik pengolahan yang menghasilkan minyak goreng.
Namun, Pemprov Kaltim menginginkan pengembangan industri sawit tidak hanya terbatas pada produksi minyak goreng, melainkan diperluas menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Beberapa pabrik minyak goreng sudah ada di Bontang dan Balikpapan. Kami ingin tidak berhenti di minyak goreng saja, karena banyak sekali turunan sawit ini seperti keju, kosmetik, dan lainnya,” ungkapnya.
Pengembangan produk turunan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas sawit melalui kegiatan pengolahan di dalam wilayah Kalimantan Timur.
KEK Maloy di Kutai Timur Disiapkan Jadi Pusat Pengembangan Hilirisasi Sawit
Pemprov Kaltim berencana memperluas pengembangan industri hilirisasi kelapa sawit menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Nusantara (MBTN) di Kabupaten Kutai Timur.
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan industri pengolahan komoditas sawit dan berbagai produk turunannya.
Melalui penguatan industri hilirisasi, pemerintah daerah berharap semakin banyak pemilik modal dan pelaku usaha yang tertarik menanamkan investasi dengan membangun fasilitas produksi secara langsung di Kalimantan Timur.
Kehadiran pabrik pengolahan di wilayah Kaltim diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Selain berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, investasi industri hilirisasi juga diharapkan membuka kesempatan kerja baru dan membantu menurunkan angka kemiskinan.
Pengembangan sektor industri pengolahan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam dan tidak sepenuhnya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemprov Kaltim menilai keterbukaan terhadap investasi baru menjadi faktor penting dalam mempercepat pembangunan industri dan penguatan ekonomi berkelanjutan.
Kaltim Siapkan Diri Jadi Superhub Ekonomi Pendukung IKN
Selain memperkuat industri pengolahan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga mempersiapkan wilayahnya untuk menjadi superhub ekonomi yang mendukung perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat kegiatan ekonomi, industri, dan investasi.
Pemprov Kaltim berupaya menyelaraskan pembangunan industri hilirisasi dengan kebutuhan pengembangan kawasan ekonomi yang berkaitan dengan keberadaan IKN.
Melalui strategi tersebut, pemerintah daerah berharap pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sektor pertambangan, tetapi juga berkembang melalui kegiatan industri dan investasi yang menghasilkan nilai tambah.
Transformasi ekonomi menuju 2045 juga diarahkan untuk menciptakan struktur perekonomian yang lebih tangguh dalam menghadapi perubahan kondisi fiskal dan tantangan pembangunan.
Peningkatan Kualitas SDM Jadi Prioritas Transformasi Ekonomi Kaltim
Wakil Gubernur Seno Aji menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi Kalimantan Timur tidak hanya ditentukan oleh pembangunan industri dan masuknya investasi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
Menurutnya, seluruh rencana transformasi ekonomi harus berjalan selaras dengan program unggulan Gubernur dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Salah satu prioritas utama adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia agar generasi muda memiliki kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan industri serta kegiatan ekonomi baru.
"Tentu saja rencana ini harus selaras dengan program unggulan Gubernur dan Pemprov Kaltim. Salah satunya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia agar generasi muda kita memiliki kompetensi untuk mendukung program unggulan ini," kata Seno Aji.
Peningkatan kompetensi generasi muda diharapkan dapat mendukung kebutuhan tenaga kerja pada sektor industri hilirisasi, investasi, dan berbagai bidang ekonomi berkelanjutan.
Melalui penguatan sumber daya manusia, pemerintah daerah berupaya memastikan masyarakat Kalimantan Timur dapat memperoleh manfaat dari perubahan struktur perekonomian yang sedang dipersiapkan.
Pemprov Kaltim menempatkan hilirisasi industri, peningkatan investasi, penguatan PAD, dan pengembangan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian dari agenda transformasi ekonomi menuju 2045.
Strategi tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian fiskal daerah, mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif, serta meningkatkan kontribusi Kalimantan Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mendukung perkembangan Ibu Kota Nusantara.
- Penulis :
- Arian Mesa




