HOME  ⁄  Ekonomi

Airlangga Targetkan Penghematan Devisa Rp150 Triliun Lewat Pengembangan KEK Kesehatan, Dorong Warga Berobat di Indonesia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Airlangga Targetkan Penghematan Devisa Rp150 Triliun Lewat Pengembangan KEK Kesehatan, Dorong Warga Berobat di Indonesia
Foto: (Sumber :Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi perse Rapat Koordinasi (Rakor) Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026) (ANTARA/Bayu Saputra).)

Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan potensi penghematan devisa negara hingga Rp150 triliun melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor kesehatan untuk mengurangi jumlah masyarakat Indonesia yang memilih menjalani pengobatan di luar negeri.

Target tersebut disampaikan Airlangga dalam Rapat Koordinasi Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Pemerintah berupaya meningkatkan daya tarik fasilitas kesehatan dalam negeri melalui penyempurnaan layanan dan fasilitas di kawasan ekonomi khusus yang bergerak di bidang kesehatan.

Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat memperoleh layanan pengobatan di Indonesia sehingga pengeluaran untuk layanan kesehatan tidak terus mengalir ke luar negeri.

“(KEK) ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri, spending-nya sekitar Rp150 triliun, dan ini yang bisa kita substitusi dengan KEK-KEK,” kata Airlangga.

Pemerintah Bidik Penghematan Rp150 Triliun dari Dua Juta Pasien

Airlangga menjelaskan bahwa potensi penghematan devisa sebesar Rp150 triliun dihitung berdasarkan asumsi jumlah masyarakat Indonesia yang menjalani pengobatan di luar negeri.

Perhitungan tersebut menggunakan estimasi sebanyak dua juta pasien dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp75 juta per orang.

Dengan asumsi tersebut, total pengeluaran masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan di luar negeri mencapai Rp150 triliun.

Pemerintah melihat pengeluaran tersebut sebagai potensi ekonomi yang dapat dipertahankan di dalam negeri apabila fasilitas kesehatan nasional mampu memenuhi kebutuhan pasien.

Pengembangan KEK kesehatan menjadi salah satu strategi untuk menyediakan layanan medis yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini memilih rumah sakit di luar negeri.

Melalui peningkatan fasilitas dan pelayanan, pemerintah berharap masyarakat memiliki lebih banyak pilihan pengobatan tanpa harus bepergian ke negara lain.

Pengalihan belanja kesehatan ke fasilitas dalam negeri juga diharapkan dapat membantu menekan aliran devisa keluar sekaligus memperkuat sektor layanan kesehatan nasional.

Dua Juta Warga Indonesia Berobat ke Luar Negeri Setiap Tahun

Airlangga mengungkapkan bahwa sekitar dua juta warga Indonesia diperkirakan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan setiap tahun.

Singapura dan Malaysia menjadi dua negara yang disebut sebagai tujuan utama masyarakat Indonesia dalam mencari pengobatan.

Besarnya jumlah pasien tersebut menyebabkan pengeluaran devisa yang cukup signifikan dari sektor kesehatan.

Menurut Airlangga, total devisa yang keluar akibat aktivitas pengobatan masyarakat Indonesia di luar negeri diperkirakan mencapai Rp200 triliun.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan kawasan ekonomi khusus yang berfokus pada pelayanan kesehatan.

Pemerintah berupaya menghadirkan fasilitas kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan pasien dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap layanan medis luar negeri dapat dikurangi.

Pengembangan KEK kesehatan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan sektor kesehatan nasional dalam menyediakan layanan bagi masyarakat.

Tiga KEK Kesehatan Jadi Andalan Pemerintah

Saat ini Indonesia memiliki tiga kawasan ekonomi khusus yang bergerak di sektor kesehatan dan menjadi bagian dari strategi pengembangan layanan medis nasional.

Ketiga kawasan tersebut adalah KEK Sanur di Bali, KEK Edukasi, Teknologi dan Kesehatan Internasional Banten, serta KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam.

Keberadaan kawasan tersebut diarahkan untuk memperkuat penyediaan fasilitas kesehatan sekaligus meningkatkan daya saing layanan medis Indonesia.

KEK Sanur menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan untuk mendukung pelayanan kesehatan dan pariwisata medis.

Sementara itu, KEK Edukasi, Teknologi dan Kesehatan Internasional Banten menggabungkan pengembangan sektor pendidikan, teknologi, dan layanan kesehatan.

Adapun KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang berorientasi pada layanan kesehatan dan pariwisata medis.

Ketiga KEK tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam menyediakan alternatif pengobatan bagi masyarakat yang selama ini memilih fasilitas kesehatan di luar negeri.

Pengembangan Fasilitas Kesehatan Diharapkan Tekan Aliran Devisa Keluar

Airlangga menegaskan bahwa penyempurnaan fasilitas KEK kesehatan menjadi langkah penting untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan layanan medis dalam negeri.

Pengembangan tersebut ditujukan untuk memperkuat kemampuan fasilitas kesehatan nasional dalam memenuhi kebutuhan pengobatan masyarakat.

Dengan tersedianya pilihan layanan kesehatan di Indonesia, pemerintah berharap sebagian pengeluaran yang sebelumnya digunakan untuk berobat ke luar negeri dapat dialihkan ke dalam negeri.

Potensi penghematan Rp150 triliun tersebut masih merupakan target berdasarkan asumsi jumlah pasien dan rata-rata pengeluaran, bukan penghematan yang telah terealisasi.

Pencapaian target akan bergantung pada kemampuan fasilitas kesehatan dalam negeri menarik masyarakat yang sebelumnya memilih pengobatan di negara lain.

Melalui pengembangan tiga KEK kesehatan, pemerintah menargetkan penguatan sektor pelayanan medis nasional sekaligus pengurangan aliran devisa akibat aktivitas pengobatan masyarakat Indonesia di luar negeri.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026