
Pantau - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menggandeng Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memperluas pasar ekspor kelapa sawit Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri perkebunan nasional menjelang pemberlakuan regulasi bebas deforestasi Uni Eropa pada 1 Januari 2027.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis antara PTPN IV PalmCo dan Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag untuk memperkuat akses pasar komoditas perkebunan Indonesia di tingkat internasional.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan perdagangan global, khususnya penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
"Langkah ini menjadi manuver krusial bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperluas akses pasar internasional di tengah bayang-bayang ketatnya regulasi EUDR yang akan berlaku efektif pada 1 Januari 2027," kata Jatmiko saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (21/10).
Jatmiko menjelaskan bahwa kerja sama dengan Kemendag tidak hanya ditujukan untuk menghadapi kebijakan perdagangan Eropa yang dinilai diskriminatif terhadap komoditas sawit Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi bisnis perusahaan.
Melalui kolaborasi tersebut, PTPN IV PalmCo berupaya mengubah perannya dari pemasok komoditas domestik menjadi eksportir langsung atau direct exporter yang mampu menjalin hubungan perdagangan dengan pembeli internasional.
PTPN IV PalmCo Targetkan Ekspor CPO Capai 25 Persen pada 2027
Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV Rury C. Baskoro mengatakan kapasitas produksi kelapa sawit perusahaan yang besar harus diimbangi dengan kemampuan memperluas pasar ekspor secara mandiri.
Menurut Rury, transformasi bisnis perusahaan mulai menunjukkan perkembangan positif melalui peningkatan porsi ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, porsi ekspor CPO PTPN IV PalmCo masih berada di kisaran satu persen dari produksi perusahaan.
Namun, hingga September 2026, kontribusi ekspor tersebut telah meningkat menjadi sepuluh persen seiring penguatan strategi pemasaran internasional.
PTPN IV PalmCo menargetkan porsi ekspor CPO meningkat menjadi 25 persen pada 2027 dengan perkiraan volume mencapai sekitar 759.000 ton.
"Insya Allah, tahun depan kami menargetkan porsi ekspor mencapai 25 persen, atau kurang lebih sekitar 759.000 ton," ujar Rury dalam gelar wicara bertajuk Indonesian Sustainable Palm Oil: Global Competitiveness and Expanding International Market di ICE BSD.
Rury menjelaskan bahwa peningkatan ekspor tersebut mencerminkan perubahan strategi perusahaan dalam membangun hubungan perdagangan langsung dengan berbagai pelaku pasar global.
Hubungan bisnis tersebut mencakup pembeli internasional, perusahaan pengolahan atau refiners, pedagang komoditas atau traders, hingga pengguna akhir atau end-user di berbagai negara tujuan ekspor.
Meski berupaya meningkatkan penjualan internasional, Rury memastikan bahwa PTPN IV PalmCo tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasokan kelapa sawit di dalam negeri.
Hadapi Aturan EUDR, PalmCo Perkuat Sertifikasi Sawit Berkelanjutan
Pemberlakuan EUDR menjadi perhatian industri kelapa sawit karena regulasi Uni Eropa tersebut menetapkan persyaratan ketat mengenai asal-usul komoditas dan kepatuhan terhadap prinsip bebas deforestasi.
Aturan tersebut juga mengharuskan importir dan operator perdagangan memastikan komoditas yang dipasarkan memenuhi persyaratan keberlanjutan dan ketertelusuran rantai pasok.
Pelanggaran terhadap ketentuan EUDR berpotensi menimbulkan sanksi berupa denda hingga empat persen dari total pendapatan tahunan importir atau operator terkait apabila produk terbukti tidak memenuhi ketentuan bebas deforestasi.
Menghadapi regulasi tersebut, Jatmiko menekankan pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.
Menurutnya, penerapan ESG tidak lagi sekadar kewajiban untuk memenuhi aturan, tetapi harus menjadi strategi bisnis untuk memperkuat kepercayaan pembeli internasional dan meningkatkan daya saing perusahaan.
"Dalam hal ini, kinerja ESG tidak hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga menjamin akses pasar jangka panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi industri perkebunan nasional," kata Jatmiko.
Sementara itu, Rury menyatakan bahwa PTPN IV PalmCo memiliki keunggulan dari sisi sejarah pengelolaan lahan perkebunan yang telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda.
Menurutnya, kondisi historis tersebut menjadi dasar keyakinan perusahaan bahwa kegiatan operasional perkebunannya tidak melibatkan pembukaan hutan baru maupun pengambilalihan lahan masyarakat.
"Kebun kami adalah peninggalan Belanda. Jadi bisa dipastikan tidak ada aktivitas deforestasi baru, tidak ada okupasi lahan dari masyarakat, dan tidak ada pengambilan lahan dari hutan," kata Rury.
Selain mengandalkan sejarah pengelolaan perkebunan, PTPN IV PalmCo juga memiliki sertifikasi keberlanjutan nasional dan internasional, yakni Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat standar keberlanjutan serta ketertelusuran atau traceability produk kelapa sawit dalam rantai pasok perdagangan internasional.
Kemendag Bidik Pasar Sawit China, India, Pakistan, dan Filipina
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid mengatakan Indonesia perlu mengambil langkah proaktif untuk mencari peluang pasar ekspor baru di tengah kondisi pasar Eropa yang mengalami stagnasi.
Menurut Miftah, data ITC Export Potential Map menunjukkan bahwa komoditas kelapa sawit Indonesia masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional.
Pemerintah berupaya memperkuat pasar ekspor yang sudah terbentuk melalui pendekatan antarpemerintah atau government-to-government (G-to-G), terutama dengan negara mitra dagang utama seperti China dan India.
Selain mempertahankan pasar di kedua negara tersebut, pemerintah juga melihat peluang perluasan ekspor kelapa sawit ke Pakistan dan Filipina.
Kerja sama antara Kemendag dan PTPN IV PalmCo diharapkan dapat memperkuat hubungan perdagangan dengan pembeli internasional sekaligus membuka peluang ekspor ke negara tujuan baru.
Kolaborasi tersebut juga tidak terbatas pada kelapa sawit karena mencakup lima komoditas perkebunan utama, yakni kelapa sawit, karet, kopi, teh, dan gambir.
Pengembangan perdagangan kelima komoditas tersebut akan dilakukan melalui penguatan sektor hulu hingga hilir untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan Indonesia.
Program Desa Bisa Ekspor Sasar Petani Gambir Sumatera Barat
Selain memperluas akses pasar internasional, kerja sama PTPN IV PalmCo dan Kemendag juga diarahkan untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui program prioritas pemerintah, Desa Bisa Ekspor.
"Sebagai bentuk nyata penciptaan nilai ekonomi yang inklusif, kolaborasi ini juga menyepakati integrasi PTPN IV PalmCo ke dalam program prioritas 'Desa Bisa Ekspor'," ucap Miftah.
Miftah menjelaskan bahwa pelaksanaan awal atau proyek percontohan program tersebut akan difokuskan pada pengembangan komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui penguatan kapasitas produksi, peningkatan kualitas komoditas, serta perluasan akses menuju pasar ekspor.
Selain itu, pengembangan komoditas gambir juga diarahkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan di sektor hulu perkebunan melalui penguatan standardisasi dan hilirisasi.
Miftah menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah dan PTPN IV PalmCo harus menghasilkan langkah konkret yang memberikan manfaat langsung bagi pelaku industri perkebunan nasional.
Implementasi kolaborasi tersebut diharapkan mencakup penyediaan informasi dan analisis pasar yang akurat, fasilitasi hubungan bisnis dengan pembeli internasional, peningkatan volume ekspor, serta pengembangan kemitraan perdagangan global yang berkelanjutan.
"Kerja sama ini diharapkan bukan sekadar penandatanganan dokumen di atas kertas, tetapi terwujud dalam intelijen pasar yang presisi, fasilitasi bisnis dengan pembeli internasional, serta bertambahnya volume ekspor dan kemitraan global berkelanjutan bagi Indonesia," katanya.
Melalui kerja sama tersebut, PTPN IV PalmCo dan Kemendag berupaya memperkuat posisi komoditas perkebunan Indonesia di pasar internasional sekaligus meningkatkan kesiapan industri menghadapi persyaratan perdagangan global yang semakin ketat.
- Penulis :
- Leon Weldrick




