
Pantau - TNI Angkatan Udara (AU) melalui Skadron Pendidikan (Skadik) 103 memberikan pelatihan kepada para siswa untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan pesawat tanpa awak atau drone yang dilengkapi teknologi pendeteksi titik panas.
Komandan Skadik 103 TNI AU, Letkol Pnb (N) Galih Kusumayuda, mengatakan pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi drone untuk mendukung penanganan bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan.
Hal tersebut disampaikan Galih kepada awak media saat menerima kunjungan untuk melihat fasilitas pelatihan pilot drone di Markas Skadik 103, Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu.
Galih menjelaskan bahwa para siswa dibekali kemampuan mendeteksi dan melacak titik panas atau hotspot yang berpotensi menjadi sumber kebakaran hutan dan lahan.
"Contohnya kemarin ada karhutla yang lagi marak, kita juga sudah kasih training ke mereka (siswa) bagaimana menjejak hotspot-hotspot itu," kata Galih.
Drone Dilengkapi Sensor Termal untuk Deteksi Titik Api
Menurut Galih, penggunaan drone sangat efektif dalam mendukung penanganan karhutla karena mampu menemukan titik api baru sebelum kebakaran meluas ke wilayah lainnya.
Kemampuan tersebut memungkinkan petugas melakukan langkah pemadaman lebih awal setelah lokasi titik api berhasil diidentifikasi.
Galih menjelaskan bahwa teknologi sensor termal pada drone memungkinkan penggunanya mendeteksi suhu di suatu wilayah sekaligus mengidentifikasi lokasi dengan temperatur tinggi.
Dengan teknologi tersebut, pemantauan kawasan hutan dan lahan yang berpotensi mengalami kebakaran dapat dilakukan secara lebih optimal.
Selain mendeteksi suhu, drone juga mampu melakukan pemantauan dalam waktu lama di kawasan yang dipenuhi asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kemampuan itu dinilai memberikan keunggulan dalam pemantauan titik api dibandingkan penggunaan helikopter, terutama ketika kondisi wilayah terdampak kebakaran menyulitkan pengamatan langsung.
Pemanfaatan drone juga memungkinkan petugas memperoleh informasi mengenai lokasi titik panas yang dapat digunakan untuk mendukung upaya penanganan kebakaran.
Siswa Skadik 103 Dibekali Kemampuan Pengoperasian Sensor Drone
Selain pelatihan penanganan karhutla, para siswa Skadik 103 TNI AU mendapatkan pembelajaran mengenai dasar-dasar pengoperasian berbagai sensor drone yang dibutuhkan dalam pelaksanaan misi tertentu.
Materi tersebut diberikan agar para siswa memahami fungsi dan penggunaan teknologi sensor sesuai dengan kebutuhan operasi yang akan dijalankan.
"Jadi di sini para siswa memang kita sudah ajarkan basic-basic menggunakan sensor-sensor drone yang diperlukan untuk misi-misi," jelas dia.
Galih berharap para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di Skadik 103 mampu menguasai teknologi drone dan memanfaatkannya secara maksimal dalam berbagai penugasan.
Kemampuan pengoperasian pesawat tanpa awak tersebut diharapkan tidak hanya digunakan untuk mendukung kepentingan militer, tetapi juga membantu pelaksanaan misi kemanusiaan.
Salah satu penerapannya adalah mendukung penanganan bencana melalui pemantauan wilayah terdampak serta pendeteksian kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
Galih juga berharap keterampilan para lulusan Skadik 103 dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan operasi militer selain perang (OMSP), termasuk kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Melalui pelatihan tersebut, Skadik 103 TNI AU berupaya mempersiapkan personel yang mampu mengoperasikan teknologi pesawat tanpa awak sesuai dengan kebutuhan tugas di lapangan.
- Penulis :
- Shila Glorya




