HOME  ⁄  Ekonomi

Pasokan Kedelai Impor di Surakarta Aman, Harga Naik 14,5 Persen dan Keuntungan Perajin Tahu Tempe Menipis

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Pasokan Kedelai Impor di Surakarta Aman, Harga Naik 14,5 Persen dan Keuntungan Perajin Tahu Tempe Menipis
Foto: Seorang pekerja saat memproduksi tahu di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu 24/10/2026 (sumber: ANTARA/Khaerul Izan)

Pantau - Perajin tahu dan tempe di Kota Surakarta, Jawa Tengah, memastikan pasokan kedelai impor masih aman dan mudah diperoleh, meskipun harga bahan baku tersebut naik 14,5 persen sejak awal tahun 2026 hingga mencapai Rp11.450 per kilogram.

Harga kedelai impor tersebut masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.000 per kilogram.

Perajin tahu asal Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta, Eko Triadi, mengatakan kenaikan harga kedelai masih tergolong wajar karena belum melampaui batas acuan pemerintah.

"Pasokan masih aman, kami bisa dengan mudah mendapatkan di warung langganan," kata Eko di Surakarta, Sabtu.

Menurut Eko, kemudahan memperoleh kedelai menjadi faktor penting bagi perajin untuk menjaga kelangsungan produksi tahu dan tempe setiap hari.

Ia menjelaskan bahwa harga kedelai yang dijual secara eceran dan grosir memiliki selisih, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga perajin masih dapat menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan produksi.

Eko memilih membeli kedelai dalam kemasan enam kilogram karena dinilai lebih praktis dan dapat mempercepat pekerjaan meskipun terdapat selisih harga hingga Rp500.

"Kalau saya lebih memilih membeli yang sudah dibungkus per 6 kilogram, meski harga terpaut hingga Rp500 namun pekerjaan lebih cepat," ujarnya.

Eko berharap harga kedelai dapat kembali turun hingga di bawah Rp11.000 per kilogram agar keuntungan usaha meningkat dan biaya operasional, termasuk pembayaran gaji karyawan, tetap terpenuhi.

Harga Kedelai Naik 14,5 Persen, Perajin Tempe Kurangi Takaran

Kondisi serupa dialami perajin tempe asal Mojosongo, Yogha Estu Prakoso, yang mengakui pasokan kedelai impor masih tersedia tanpa kendala berarti.

Namun, Yogha mengatakan persoalan utama yang dihadapi perajin saat ini adalah kenaikan harga kedelai yang terus menekan keuntungan usaha.

Harga kedelai yang pada awal 2026 berada di kisaran Rp10.000 per kilogram kini meningkat menjadi Rp11.450 per kilogram atau naik Rp1.450 per kilogram, setara 14,5 persen.

"Untuk pasokan aman, hanya saja keuntungan semakin menipis, karena kami tidak mungkin menaikkan harga jual tempe," katanya.

Yogha menjelaskan bahwa usaha produksi tempe miliknya membutuhkan sekitar dua kuintal atau 200 kilogram kedelai setiap hari.

Dengan harga kedelai Rp11.450 per kilogram, kebutuhan pembelian bahan baku untuk produksi tersebut mencapai sekitar Rp2,29 juta per hari.

Sementara itu, tempe hasil produksinya dijual dengan harga mulai Rp900 hingga Rp2.500 per potong, bergantung pada ukuran produk.

Meski biaya bahan baku meningkat, Yogha memilih mempertahankan harga jual tempe agar tetap terjangkau bagi konsumen.

Untuk menjaga keuntungan usaha, ia melakukan penyesuaian dengan mengurangi takaran atau ukuran tempe yang diproduksi.

"Harga tempe masih biasa, kami tidak menaikkan meski harga kedelai mengalami kenaikan. Namun kami juga mengurangi takaran agar bisa mendapatkan untung," ujarnya.

Importir Pastikan Pasokan Kedelai Aman dan Harga Sesuai Ketentuan

VP of Corporate Communications and Sustainability FKS Group, Beatrice Susanto, mengatakan pihaknya telah mengunjungi sejumlah perajin tahu dan tempe untuk memantau langsung kondisi pasokan serta harga kedelai.

Sebagai salah satu importir kedelai, FKS Group ingin memastikan distribusi bahan baku kepada perajin berjalan lancar dan harga penjualannya tetap mengikuti ketentuan pemerintah.

"Kami pastikan pasokan kedelai aman dan harganya pun sesuai yang ditetapkan pemerintah," kata Beatrice.

Pemerintah sebelumnya menetapkan HAP kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe maksimal Rp12.000 per kilogram, sedangkan kedelai lokal maksimal Rp11.400 per kilogram.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 330 Tahun 2026.

Dengan harga kedelai impor di Surakarta sebesar Rp11.450 per kilogram, harga pembelian di tingkat perajin masih lebih rendah Rp550 dibandingkan batas maksimal yang ditetapkan pemerintah.

Pemerintah Peringatkan Importir agar Tidak Menaikkan Harga Semaunya

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya meminta importir dan distributor kedelai bekerja sama menjaga stabilitas harga bahan baku tahu dan tempe.

Amran menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan usaha perajin, khususnya pelaku usaha kecil dan mikro yang bergantung pada kedelai sebagai bahan baku utama.

Pemerintah juga memastikan akan menelusuri sumber kenaikan harga apabila ditemukan lonjakan yang merugikan perajin tahu dan tempe.

"Kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu tempe. Kami akan cek sumbernya dari mana. Jangan menaikkan harga semena-mena," kata Amran.

Menurut Amran, kedelai merupakan komoditas strategis nasional karena menjadi bahan baku utama berbagai produk pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Ia juga menekankan perlunya penguatan produksi kedelai dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor.

Kebutuhan Kedelai Nasional Capai 2,7 Juta Ton, Sebanyak 95 Persen Masih Impor

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan kedelai nasional sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton.

Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 95 persen atau sebanyak 2,6 juta ton masih dipenuhi melalui impor.

Besarnya porsi impor menunjukkan bahwa produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata produksi kedelai nasional tercatat sekitar 227 ribu ton per tahun.

Produksi tersebut berasal dari rata-rata luas tanam sekitar 136 ribu hektare dengan tingkat produktivitas mencapai 1,6 ton per hektare.

Sementara itu, hingga April 2026, produksi kedelai nasional tercatat sebanyak 4.982 ton dengan luas tanam mencapai 7.018 hektare.

Pemerintah menghadapi tantangan untuk meningkatkan luas tanam, produktivitas, dan kapasitas produksi kedelai lokal guna memperkuat ketahanan pangan nasional.

Di tengah tingginya ketergantungan terhadap impor, perajin tahu dan tempe di Surakarta masih dapat memperoleh bahan baku dengan harga di bawah batas acuan pemerintah, meskipun kenaikan harga kedelai telah menekan keuntungan usaha mereka.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026