HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Memanas dan Harga Minyak Dunia Melonjak

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Memanas dan Harga Minyak Dunia Melonjak
Foto: (Sumber :Petugas melayani penukaran uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz.)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (26/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Rupiah tercatat turun 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp18.089 per dolar AS dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya sebesar Rp18.080 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan harga minyak mentah hingga melampaui 100 dolar AS per barel.

“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas 100 dolar AS per barel,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Harga Minyak Dunia Melonjak akibat Kekhawatiran Konflik Timur Tengah

Mengutip laporan Xinhua, harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026 akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Desember ditutup pada Sabtu (24/10/2026) di level 116,72 dolar AS per barel atau meningkat 3,14 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember ditutup pada harga 103,27 dolar AS per barel atau naik 3,82 persen.

Lonjakan harga minyak tersebut terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kemungkinan pecahnya kembali pertempuran di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran itu muncul setelah beredar laporan mengenai dugaan rencana Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang Iran setelah pelaksanaan pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026.

Media pemerintah Iran juga melaporkan adanya serangan terhadap sejumlah kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.

Di tengah perkembangan tersebut, Washington dilaporkan telah memerintahkan staf non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi.

Situasi geopolitik yang belum stabil tersebut turut memengaruhi sentimen pelaku pasar keuangan global, termasuk terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Aliran Dana Asing Keluar dari Pasar Saham Indonesia

Selain tekanan geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi keluarnya dana investor asing dari pasar saham domestik atau capital outflow.

Lukman menjelaskan bahwa arus keluar dana asing dari pasar ekuitas Indonesia masih berada pada tingkat yang cukup besar sehingga menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah.

“Outflow masih cukup besar, rata-rata harian masih Rp1-2 triliunan,” ungkap Lukman.

Tekanan dari keluarnya dana asing tersebut menambah tantangan bagi rupiah di tengah penguatan sentimen kehati-hatian investor akibat ketidakpastian kondisi geopolitik internasional.

Pergerakan mata uang domestik pun masih dipengaruhi perkembangan situasi di Timur Tengah serta dinamika pasar keuangan global.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp18.050–Rp18.150 per Dolar AS

Dengan mempertimbangkan tekanan geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, serta arus keluar dana asing dari pasar saham domestik, Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi mengalami pelemahan.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS sepanjang perdagangan Senin (26/10/2026).

Perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi arah perdagangan rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026