
Pantau - Asian Development Bank Institute (ADBI) mendorong pemerintah Indonesia memperkuat peran sektor swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) secara bersamaan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).
Dekan sekaligus CEO ADBI Bambang Brodjonegoro menilai Indonesia membutuhkan dua mesin pertumbuhan ekonomi yang saling melengkapi agar mampu mempercepat industrialisasi dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Menurutnya, kehadiran Danantara menunjukkan upaya Indonesia mengadopsi pendekatan Tiongkok yang menempatkan BUMN sebagai salah satu penggerak utama perekonomian.
Namun, Bambang menegaskan bahwa penguatan BUMN harus berjalan beriringan dengan pengembangan sektor swasta yang memiliki daya saing tinggi.
“Mengapa kita tidak melaju dengan dua mesin sekaligus daripada hanya bertumpu pada satu mesin? Satu mesin digerakkan oleh sektor swasta, dan satu mesin lagi digerakkan oleh BUMN dengan mandat penugasan yang jelas,” kata Bambang dalam acara Kadin Geoeconomics Policy Dialogue di Jakarta, Senin (26/10/2026).
ADBI Soroti Keberhasilan Industrialisasi Jepang dan Korea Selatan
Bambang menjelaskan bahwa pengalaman Jepang dan Korea Selatan dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam mempercepat transformasi ekonomi.
Kedua negara tersebut berhasil mencapai status negara berpendapatan tinggi dengan mengandalkan pengembangan industri manufaktur dan ekspor.
Menurutnya, keberhasilan itu tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kemampuan perusahaan swasta untuk berinovasi dan meningkatkan teknologi.
Pemerintah berperan mengarahkan kebijakan industri sekaligus mendorong perusahaan nasional memperluas kegiatan usaha.
Bambang mencontohkan Toyota di Jepang yang awalnya bergerak dalam industri tekstil sebelum berkembang menjadi perusahaan otomotif.
Perusahaan tersebut memanfaatkan kemampuan teknologi mesin tekstil serta mempelajari teknologi otomotif Amerika Serikat melalui rekayasa balik (reverse engineering).
Transformasi serupa juga terjadi pada sejumlah perusahaan besar Korea Selatan.
Samsung yang semula bergerak di bidang perdagangan, LG di industri kosmetik, Hyundai di sektor konstruksi, dan SK di industri tekstil kemudian berkembang ke berbagai bidang teknologi dan manufaktur.
“Pesan inilah yang ingin saya tekankan untuk Indonesia. Sektor swasta itu sangat penting, tetapi Anda tidak bisa berpuas diri atau hanya menikmati apa yang sudah diraih hari ini. Pemerintah harus terus mendorong sektor swasta agar bersama-sama membawa bangsa ini lolos dari jebakan pendapatan menengah,” kata Bambang.
Pemerintah Diminta Perkuat Pembiayaan dan Kebijakan Industri
Bambang menilai dukungan pemerintah terhadap sektor swasta tidak cukup hanya melalui penyusunan kebijakan industri.
Menurutnya, pemerintah juga perlu menyediakan dukungan pembiayaan agar perusahaan mampu melakukan modernisasi dan meningkatkan daya saing.
Ia mencontohkan Jepang yang menyediakan skema pembiayaan khusus untuk mendukung modernisasi industri.
Sementara itu, Korea Selatan memberikan fasilitas kredit ekspor untuk membantu perusahaan nasional memperluas pasar internasional.
Bambang juga menekankan pentingnya regulasi yang konsisten dan penyediaan infrastruktur dasar bagi kegiatan industri.
Selain itu, pemerintah dinilai perlu menerapkan kerja sama dengan sektor swasta yang memiliki target capaian terukur (contracted milestone).
Pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memastikan dukungan pemerintah menghasilkan peningkatan kemampuan industri.
Integrasi Ekonomi Global Dinilai Penting bagi Indonesia
Selain memperkuat industri dalam negeri, Bambang menyoroti pentingnya keterlibatan Indonesia dalam jaringan perdagangan dan produksi internasional.
Ia merujuk pada pengalaman Tiongkok setelah bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 11 Desember 2001.
Menurutnya, keterlibatan Tiongkok dalam sistem perdagangan global turut mendukung peningkatan pendapatan per kapita negara tersebut.
Pengalaman serupa juga terlihat pada sejumlah negara Eropa Tengah dan Timur yang bergabung dengan Uni Eropa pada Mei 2004.
Negara-negara tersebut meliputi Ceko, Estonia, Hungaria, Latvia, Lithuania, Polandia, Slowakia, dan Slovenia yang kemudian mengalami peningkatan pendapatan hingga masuk kelompok negara berpendapatan tinggi.
“Pelajaran penting dari kedua kisah ini (Tiongkok dan Uni Eropa) adalah integrasi ekonomi itu mutlak diperlukan,” kata Bambang.
Ia menilai Indonesia perlu memperluas keterhubungan industri nasional dengan rantai pasok dan rantai nilai global.
Kadin Didorong Hubungkan Industri Nasional dengan Pasar Global
Dalam konteks Indonesia, Bambang memandang Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dapat berperan sebagai penghubung antara pembeli dan pemasok yang kredibel.
Peran tersebut diperlukan untuk membantu perusahaan nasional masuk ke jaringan produksi internasional.
Menurutnya, keterhubungan dengan pasar global dapat mendukung penguatan rantai pasok dan peningkatan daya saing industri Indonesia.
Bambang juga mengusulkan tiga proyek percontohan (pilot projects) yang dapat segera dijalankan untuk mempercepat transformasi industri nasional.
Proyek pertama adalah meningkatkan kemampuan dan daya saing pemasok agar mampu memenuhi kebutuhan industri.
Proyek kedua berupa pengembangan layanan pendukung industri, termasuk penyediaan utilitas bersama, logistik, dan fasilitas pengujian.
Sementara itu, proyek ketiga berfokus pada penguatan kemampuan rekayasa teknik (engineering) melalui penerapan dan peningkatan teknologi.
Melalui penguatan sektor swasta, optimalisasi peran BUMN, serta integrasi ekonomi global, Bambang menilai Indonesia memiliki peluang mempercepat transformasi menuju negara berpendapatan tinggi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




