
Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat realisasi investasi sebesar Rp72,54 triliun sepanjang Januari hingga September 2026, tumbuh 9,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berhasil menyerap 340.334 tenaga kerja dari 82.420 proyek investasi.
Capaian tersebut telah memenuhi 73,21 persen dari target investasi tahunan sebesar Rp99,09 triliun yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, menyampaikan data tersebut dalam paparan realisasi investasi triwulan III 2026 di Semarang, Senin.
"Secara kumulatif Januari sampai dengan September 2026 itu capaian realisasi investasi di Jawa Tengah yaitu Rp72,54 triliun," katanya, saat menyampaikan paparan capaian Realiasi Investasi Triwulan III tahun 2026.
Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp40,77 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp31,77 triliun.
Investasi Asing Dominasi Realisasi Penanaman Modal Jawa Tengah
Berdasarkan data DPMPTSP Jawa Tengah, realisasi PMA sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp40,77 triliun atau sekitar 56,2 persen dari total investasi.
Sementara itu, realisasi PMDN tercatat sebesar Rp31,77 triliun dengan kontribusi sekitar 43,8 persen.
Dengan komposisi tersebut, investasi asing tercatat lebih besar Rp9 triliun dibandingkan investasi yang berasal dari dalam negeri.
Dominasi PMA menunjukkan besarnya kontribusi investor asing terhadap capaian penanaman modal Jawa Tengah selama sembilan bulan pertama 2026.
Johan menjelaskan bahwa realisasi investasi sebesar Rp72,54 triliun telah mencapai 73,21 persen dari target resmi BKPM sebesar Rp99,09 triliun.
Dengan capaian tersebut, Jawa Tengah masih membutuhkan tambahan investasi sekitar Rp26,55 triliun untuk memenuhi target resmi sepanjang 2026.
Johan juga menanggapi pernyataan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengenai peluang realisasi investasi daerah yang dapat mencapai Rp110 triliun.
Menurutnya, angka Rp110 triliun merupakan capaian yang mungkin dituju, tetapi berbeda dari target resmi yang digunakan pemerintah sebagai acuan pengukuran kinerja investasi.
"Pak Gubernur (Ahmad Luthfi) benar kalau target (capaian investasi bisa mencapai Rp110 triliun, red ). Tapi kalau secara resmi target dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Rp99,09 triliun," katanya.
Johan menjelaskan bahwa capaian investasi Jawa Tengah pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp110 triliun telah memasukkan realisasi investasi dari kelompok usaha mikro dan kecil (UMK).
Sementara itu, angka realisasi investasi Januari hingga September 2026 yang dipaparkan DPMPTSP belum mencakup komponen investasi UMK.
"Adapun tahun kemarin memang capaian kita Rp110 triliun itu sudah ditambah dengan capaian realisasi UMK, dan itu belum kita masukkan," lanjutnya.
Perbedaan cakupan penghitungan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membandingkan angka realisasi investasi antartahun.
Investasi Triwulan III 2026 Naik 16,78 Persen
Selain mencatat pertumbuhan secara kumulatif, kinerja investasi Jawa Tengah pada triwulan III 2026 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi investasi selama Juli hingga September 2026 mencapai Rp24 triliun.
Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi investasi triwulan III 2025 yang tercatat sebesar Rp20,55 triliun.
Secara tahunan, pertumbuhan investasi pada triwulan III 2026 mencapai 16,78 persen.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan investasi secara kumulatif selama Januari hingga September 2026 yang sebesar 9,7 persen.
Peningkatan investasi pada triwulan III turut memperkuat capaian penanaman modal Jawa Tengah dalam upaya memenuhi target tahunan yang telah ditetapkan.
Sebanyak 340.334 Tenaga Kerja Terserap dari 82.420 Proyek
Dari sisi ketenagakerjaan, realisasi investasi Jawa Tengah selama Januari hingga September 2026 menghasilkan 340.334 kesempatan kerja.
Jumlah tersebut berasal dari 82.420 proyek investasi yang tercatat sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Penyerapan tenaga kerja mengalami peningkatan sebesar 4,25 persen dibandingkan periode Januari hingga September 2025.
Johan menjelaskan bahwa industri barang dari kulit dan alas kaki menjadi sektor dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja terbesar.
Sektor tersebut tercatat menyerap sebanyak 77.330 tenaga kerja dari kegiatan investasi yang terealisasi.
Posisi kedua ditempati industri tekstil dengan jumlah tenaga kerja terserap mencapai 69.422 orang.
Sementara itu, kelompok industri lainnya menyerap sebanyak 30.132 tenaga kerja.
Jika digabungkan, ketiga kelompok industri tersebut menyerap 176.884 tenaga kerja atau sekitar 52 persen dari total penyerapan tenaga kerja melalui realisasi investasi Jawa Tengah.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan peran sektor industri, terutama industri barang dari kulit dan alas kaki serta tekstil, dalam menciptakan kesempatan kerja di Jawa Tengah.
Peningkatan penyerapan tenaga kerja juga menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi selama sembilan bulan pertama 2026 diikuti bertambahnya kesempatan kerja yang tercatat dari berbagai proyek penanaman modal.
Pemprov Jawa Tengah Siapkan 12 Kawasan Industri Baru
Johan menyampaikan bahwa capaian investasi Jawa Tengah tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah menjaga iklim usaha agar tetap kondusif bagi investor.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat pelayanan perizinan dan memberikan pendampingan kepada investor yang berencana menanamkan modal di wilayah tersebut.
Pendampingan dilakukan sejak tahap awal penjajakan peluang investasi hingga proses realisasi penanaman modal.
Langkah tersebut diarahkan untuk membantu kelancaran proses investasi sekaligus mendorong rencana penanaman modal agar dapat direalisasikan.
Selain meningkatkan pelayanan perizinan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong pengembangan kawasan industri sebagai salah satu strategi menarik investasi.
Saat ini, Jawa Tengah memiliki 12 kawasan industri, termasuk dua kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berada di Kendal dan Batang.
Keberadaan kawasan industri tersebut menjadi bagian dari dukungan infrastruktur dan pengembangan wilayah untuk menunjang kegiatan investasi serta pertumbuhan sektor industri.
KEK Kendal dan Batang juga menjadi bagian dari pengembangan pusat kegiatan ekonomi dan industri di Jawa Tengah.
Untuk memperluas peluang investasi, pemerintah daerah merencanakan penambahan 12 kawasan industri baru di sejumlah kabupaten dan kota.
Rencana pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas ketersediaan lokasi penanaman modal sekaligus mendukung pemerataan kegiatan ekonomi di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Penambahan kawasan industri juga diarahkan untuk membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru melalui pertumbuhan kegiatan usaha dan industri.
Jawa Tengah Masih Butuh Rp26,55 Triliun untuk Capai Target Investasi
Dengan realisasi Rp72,54 triliun hingga September 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih perlu mengejar tambahan investasi sekitar Rp26,55 triliun untuk memenuhi target resmi BKPM sebesar Rp99,09 triliun.
Capaian selama sembilan bulan pertama tahun ini didominasi PMA sebesar Rp40,77 triliun dan PMDN sebesar Rp31,77 triliun.
Sementara itu, pertumbuhan investasi triwulan III sebesar 16,78 persen menjadi salah satu indikator peningkatan aktivitas penanaman modal dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, sebanyak 340.334 orang tercatat terserap melalui 82.420 proyek investasi, dengan kontribusi terbesar berasal dari industri barang dari kulit dan alas kaki serta tekstil.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya mempertahankan pertumbuhan tersebut melalui penguatan pelayanan perizinan, pendampingan investor, pemeliharaan iklim usaha, dan rencana pembangunan 12 kawasan industri baru.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian target investasi 2026 sekaligus memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.
- Penulis :
- Arian Mesa




