HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah ke 5.249,07 pada Rabu Pagi, Investor Cermati Suku Bunga The Fed dan Risiko Konflik Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Melemah ke 5.249,07 pada Rabu Pagi, Investor Cermati Suku Bunga The Fed dan Risiko Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber :Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (26/10/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 17,06 poin atau 0,32 persen ke level 5.249,07 pada perdagangan Rabu (28/10/2026) pagi, seiring sikap hati-hati investor dalam mencermati arah kebijakan moneter global dan perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan turun 2,30 poin atau 0,43 persen ke posisi 530,72.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami tekanan apabila tidak mampu bertahan di atas level penopang terdekat.

Menurutnya, pergerakan pasar saham domestik dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk ekspektasi keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan Eropa, perkembangan geopolitik, serta kondisi ekonomi dalam negeri.

IHSG Berpotensi Uji Level 5.185 hingga 4.980

Liza memperkirakan IHSG masih rentan melanjutkan pelemahan menuju level penopang atau support terdekat di 5.185.

Apabila indeks menembus level tersebut, tekanan jual berpotensi membawa IHSG menuju area 5.012 hingga 4.980.

Sebaliknya, jika terjadi pembalikan arah atau rebound, IHSG diperkirakan menghadapi level hambatan atau resistance terdekat di 5.317.

Apabila level tersebut berhasil ditembus, indeks berpeluang bergerak menuju area 5.349 hingga 5.418.

“IHSG diperkirakan rentan lanjut menguji support terdekat di 5.185, Jika breakdown, IHSG bisa lanjut menuju support 5.012 atau 4.980. Sedangkan jika IHSG rebound resistance terdekat di level 5.317, jika mampu break IHSG bisa kembali di kisaran resistance 5.349 atau 5.418,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Perkiraan tersebut menjadi gambaran teknikal mengenai kemungkinan pergerakan IHSG di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed dan ECB

Dari pasar internasional, investor memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan pekan ini.

Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) juga diproyeksikan tidak mengubah tingkat suku bunga acuannya.

Liza mengatakan keputusan kedua bank sentral tersebut menjadi perhatian utama pelaku pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter global.

“Investor juga menantikan rilis sejumlah data ekonomi AS pekan ini untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi perekonomian dan ruang pelonggaran kebijakan moneter ke depan,” ujar Liza.

Data ekonomi Amerika Serikat dinilai penting untuk memperkirakan peluang perubahan kebijakan suku bunga pada periode berikutnya.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia telah memutuskan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026.

Keputusan tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan investor dalam menilai kondisi pasar keuangan Indonesia.

Ketegangan Timur Tengah Masih Bayangi Pasar Keuangan

Selain kebijakan moneter, perkembangan situasi geopolitik Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Liza mengatakan terdapat upaya diplomatik untuk meredakan konflik setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyerukan diakhirinya kondisi yang disebut sebagai situasi bukan perang maupun damai.

Pejabat Arab Saudi, Pakistan, dan Turki dilaporkan mengadakan pertemuan di Teheran serta menyepakati kelanjutan pembahasan diplomatik.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Emir Qatar di Moskow.

Namun, upaya diplomatik tersebut berlangsung ketika risiko keamanan kawasan masih tinggi.

“Meski membuka peluang deeskalasi, serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko keamanan regional masih belum mereda,” ujar Liza.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena ketegangan di kawasan penghasil minyak dapat memengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi global.

OJK dan BEI Siapkan Kebijakan untuk Perkuat Kepercayaan Investor

Di pasar domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI telah mengumumkan sejumlah inisiatif kebijakan selama dua pekan terakhir.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan investor di tengah proses evaluasi dari penyedia indeks global MSCI.

Sementara itu, pemerintah tengah mengkaji sejumlah kebijakan stimulus menjelang periode Natal dan Tahun Baru 2026.

Kebijakan yang dipertimbangkan meliputi pemberian kembali diskon tarif listrik, penambahan pasokan bahan bakar minyak bersubsidi, serta diskon tiket pesawat.

Langkah tersebut diarahkan untuk menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Namun, Liza mengingatkan bahwa pemberian stimulus harus memperhatikan kemampuan keuangan negara.

"Namun, stimulus itu perlu mempertimbangkan keterbatasan ruang fiskal dan tambahan beban subsidi energi," ujar Liza.

Ia menyarankan pemerintah memprioritaskan bantuan bagi rumah tangga miskin dan kelompok rentan.

Selain itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat ketahanan pangan, memperlancar distribusi barang, dan mengoptimalkan operasi pasar agar pengendalian inflasi dapat berlangsung lebih berkelanjutan.

Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Harga Minyak Tekan Ruang Fiskal

Kementerian Keuangan menyatakan optimisme bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap terkendali pada level 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Proyeksi tersebut disampaikan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp18.156 per dolar AS dan kenaikan harga minyak Brent menjadi 115,81 dolar AS per barel.

Di sisi lain, CORE Indonesia memperkirakan ruang fiskal menuju batas defisit APBN sebesar 3 persen terhadap PDB hanya tersisa sekitar Rp39 triliun.

Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah diperkirakan dapat menambah kebutuhan subsidi serta kompensasi energi sebesar Rp30 triliun hingga Rp50 triliun di atas proyeksi pemerintah pada kuartal IV 2026.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemberian stimulus ekonomi dan pengendalian defisit anggaran.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati keputusan bank sentral global, perkembangan konflik Timur Tengah, serta arah kebijakan fiskal domestik sebagai faktor yang memengaruhi pergerakan IHSG.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026