HOME  ⁄  Ekonomi

Uji Coba MBG Prasmanan di Kudus Disukai Siswa SD, Satgas Nilai Makanan Lebih Segar dan Minim Sisa

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Uji Coba MBG Prasmanan di Kudus Disukai Siswa SD, Satgas Nilai Makanan Lebih Segar dan Minim Sisa
Foto: (Sumber :Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Kudus Bellinda Sabrina Putri Birton saat memantau pelaksanaan uji coba MBG model prasmanan di salah satu sekolah dasar (SD) negara di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. ANTARA/HO-Pemkab Kudus..)

Pantau - Mayoritas siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memberikan respons positif terhadap uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan karena makanan disajikan lebih hangat dan siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Kudus Bellinda Sabrina Putri Birton mengatakan metode prasmanan dinilai lebih praktis dibandingkan penyajian makanan menggunakan kemasan yang harus disiapkan sebelum didistribusikan ke sekolah.

"Melalui model prasmanan, penyajian makanan tentu lebih cepat dan makanan masih hangat dibandingkan dengan metode sebelumnya, yakni makanan dikemas terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke sekolah," kata Bellinda di Kudus, Kamis (29/10/2026).

Uji coba tersebut merupakan inisiatif pemerintah pusat yang dilaksanakan selama dua pekan di dua SD negeri di Kecamatan Kaliwungu dan Mejobo.

Program ini menyasar siswa kelas V dan VI sebagai tahap awal penerapan metode prasmanan.

Sistem Prasmanan Dinilai Bisa Mengurangi Sisa Makanan

Bellinda menjelaskan bahwa metode prasmanan memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai porsi dan kebutuhan masing-masing.

Siswa juga memiliki kesempatan memilih lauk yang tersedia berdasarkan kesukaan maupun kondisi kesehatan tertentu.

"Jika tidak menyukai makanan tertentu atau memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu, siswa tidak perlu mengambilnya dan bisa memilih makanan lain yang tersedia," ujarnya.

Menurut Bellinda, sistem tersebut berpotensi mengurangi jumlah makanan yang tidak dikonsumsi karena siswa tidak harus menerima seluruh menu dalam porsi yang telah ditentukan.

Selain itu, makanan dapat langsung disantap setelah disajikan tanpa melalui proses pengemasan yang membutuhkan waktu tambahan.

Ia menilai penyajian secara langsung dapat membantu menjaga suhu dan kesegaran makanan ketika diterima siswa.

Uji Coba Berlangsung di Dua SD Negeri

Pelaksanaan uji coba MBG prasmanan dilakukan di dua sekolah dasar negeri yang berada di Kecamatan Kaliwungu dan Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Selama dua pekan pelaksanaan, siswa kelas V dan VI menjadi kelompok sasaran untuk menilai efektivitas metode penyajian tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan Satgas MBG, pelaksanaan program di kedua sekolah berjalan dengan baik.

Para siswa dan guru juga memberikan tanggapan positif terhadap perubahan sistem penyajian makanan.

Meski demikian, Bellinda menegaskan bahwa pelaksanaan metode prasmanan masih membutuhkan penyesuaian, terutama dalam pendampingan siswa ketika mengambil makanan.

"Akan tetapi, tetap diperlukan adaptasi dan sosialisasi lebih lanjut. Di lapangan, dibutuhkan perwakilan dari dapur penyedia MBG untuk datang ke sekolah dan mendampingi anak-anak saat mengambil makanan," ujarnya.

Dalam pelaksanaan uji coba, petugas yang membantu melayani siswa ketika mengambil makanan berasal dari pihak sekolah.

Satgas Usulkan MBG Prasmanan untuk Siswa Kelas V hingga SMA

Bellinda mengatakan penerapan sistem prasmanan untuk siswa kelas rendah masih perlu dipertimbangkan karena membutuhkan pengawasan dan pendampingan lebih intensif.

Menurutnya, siswa kelas I dan II SD belum tentu memiliki kemampuan yang sama dengan siswa kelas tinggi dalam mengambil makanan secara mandiri.

Karena itu, Satgas MBG Kudus menilai penerapan metode prasmanan perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat kemandirian peserta didik.

"Nantinya perlu dikaji kembali atau dilakukan audiensi dengan pemerintah pusat terkait penerapan MBG prasmanan, khususnya untuk siswa kelas I dan II SD. Model prasmanan kemungkinan lebih sesuai untuk siswa kelas V SD hingga SMA, sedangkan siswa kelas I hingga IV SD masih menggunakan metode tepak," ujarnya.

Usulan tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan pemerintah pusat sebelum diterapkan secara luas.

Kudus Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat

Bellinda menegaskan bahwa hasil uji coba MBG prasmanan belum menjadi dasar penerapan otomatis di seluruh sekolah.

Keputusan mengenai perluasan metode penyajian tersebut masih menunggu petunjuk dan kebijakan resmi pemerintah pusat.

Pemerintah Kabupaten Kudus menyatakan siap menyesuaikan pelaksanaan program apabila sistem prasmanan nantinya ditetapkan sebagai salah satu metode penyajian MBG.

"Jika nantinya ada keputusan untuk memberlakukan metode prasmanan, Insya Allah Kabupaten Kudus siap melaksanakannya," ujarnya.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026