
Pantau - Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan desa.
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan arahan tersebut pada Selasa (27/10/2026), dengan menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam penerapan hasil penelitian kepada masyarakat.
Program tersebut diarahkan untuk memperluas penggunaan teknologi pengolahan sampah berskala kecil agar penanganan limbah dapat dilakukan lebih dekat dengan sumbernya.
BRIN telah mengembangkan teknologi pengolahan sampah untuk empat tingkatan, yakni rumah tangga, desa, kecamatan, dan kota.
Timbulan Sampah Nasional Capai 24,8 Juta Ton per Tahun
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 mencatat timbulan sampah mencapai 24,8 juta ton per tahun berdasarkan laporan kabupaten dan kota yang masuk.
Dalam data tersebut, rumah tangga disebut menyumbang 56,7 persen dari total timbulan sampah.
Sementara itu, sampah yang telah terkelola dengan baik baru mencapai 34,55 persen.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa 63,76 persen sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) masih ditangani melalui penimbunan terbuka.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong penanganan sampah sejak tingkat rumah tangga.
BRIN Siapkan Teknologi Pengolahan Sampah dengan Biaya di Bawah Rp1 Juta
BRIN menyatakan telah memiliki teknologi pengolahan sampah yang dapat diterapkan pada berbagai skala kebutuhan masyarakat.
Untuk tingkat rumah tangga, biaya teknologi yang dikembangkan disebut kurang dari Rp1 juta.
Selain teknologi rumah tangga, BRIN mengembangkan sistem pengolahan yang dapat digunakan di tingkat desa, kecamatan, hingga perkotaan.
Salah satu inovasi yang telah diterapkan adalah teknologi pirolisis cepat atau Faspol untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar.
Teknologi tersebut telah diterapkan di 84 kabupaten, meskipun kapasitas pengolahannya masih tergolong kecil.
Berdasarkan informasi BRIN, satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar satu liter bahan bakar melalui teknologi tersebut.
PLTSa Merah Putih Bantargebang Mampu Olah 100 Ton Sampah per Hari
Untuk pengolahan sampah berskala perkotaan, BRIN mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantargebang.
Fasilitas percontohan tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 100 ton sampah per hari.
Pengembangan teknologi pada berbagai skala dilakukan karena kebutuhan pengelolaan sampah di perkotaan berbeda dengan kondisi di desa dan rumah tangga.
Teknologi pengolahan sampah berskala besar tidak selalu dapat diterapkan secara langsung di wilayah dengan jumlah timbulan sampah lebih kecil.
Karena itu, BRIN dan perguruan tinggi diarahkan mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Perguruan Tinggi Dilibatkan untuk Terapkan Hasil Riset di Masyarakat
Arif Satria menjelaskan bahwa peran BRIN dalam pengembangan teknologi berfokus pada kegiatan penelitian dan pembuatan purwarupa.
BRIN bukan lembaga yang bertugas memproduksi secara massal peralatan pengubah sampah menjadi bahan bakar.
Oleh sebab itu, keterlibatan perguruan tinggi diperlukan untuk membantu memperluas penerapan teknologi hasil penelitian di masyarakat.
Peneliti BRIN mengingatkan bahwa keberhasilan pengolahan sampah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan peralatan.
Penerapan teknologi juga harus mempertimbangkan karakteristik sampah setempat, kemampuan operator, kualitas pengoperasian, dan pemeliharaan alat.
Selain itu, diperlukan pemantauan serta kepastian pengelolaan produk hasil pengolahan dan residu yang tersisa.
Pengelolaan Sampah Desa Membutuhkan Operator dan Perawatan
Kehadiran teknologi pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan desa memerlukan dukungan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan peralatan.
Kecocokan teknologi dengan jenis sampah yang dihasilkan masyarakat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan sebelum penerapan.
Kegiatan pengoperasian dan perawatan juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar peralatan dapat digunakan sesuai fungsinya.
Melalui kerja sama BRIN, perguruan tinggi, dan pemerintah, hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk membantu penanganan sampah dari sumbernya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




