
Pantau - PT Indonesia AirAsia mencatat tingkat keterisian penumpang atau load factor sebesar 82 persen hingga September 2026, meskipun menghadapi lonjakan harga bahan bakar pesawat dan pelemahan rupiah yang turut menekan kinerja keuangan perusahaan.
Maskapai tersebut membukukan pendapatan usaha Rp5,78 triliun atau turun 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah tekanan biaya operasional, Indonesia AirAsia mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp1,74 triliun.
Direktur Utama Indonesia AirAsia Achmad Sadikin Abdurachman mengatakan tantangan utama industri penerbangan saat ini berasal dari meningkatnya biaya operasional, bukan melemahnya permintaan perjalanan.
“Tantangan terbesar yang dihadapi industri penerbangan saat ini bukanlah permintaan penumpang, melainkan kenaikan biaya untuk melayani permintaan tersebut,” kata Achmad Sadikin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
AirAsia Angkut 3,92 Juta Penumpang hingga September 2026
Indonesia AirAsia mencatat telah melayani 3,92 juta penumpang melalui 26.455 penerbangan hingga September 2026.
Tingkat keterisian penumpang tetap terjaga pada angka 82 persen di tengah penyesuaian kapasitas penerbangan.
Perusahaan mencatat kapasitas penerbangan berdasarkan indikator Available Seat Kilometer (ASK) turun 23,6 persen secara tahunan.
Sementara itu, pendapatan per kursi-kilometer tersedia atau Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) meningkat 25,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut didukung optimalisasi jaringan penerbangan dan penyesuaian kapasitas untuk meningkatkan produktivitas operasional.
Harga tiket rata-rata juga meningkat 11,5 persen secara tahunan menjadi Rp1,23 juta.
Harga Avtur Melonjak 50,5 Persen, Beban Bahan Bakar Capai Rp2,83 Triliun
Tekanan terbesar terhadap kinerja keuangan Indonesia AirAsia berasal dari kenaikan biaya bahan bakar pesawat.
Hingga September 2026, beban bahan bakar perusahaan mencapai Rp2,83 triliun atau meningkat 19,1 persen secara tahunan.
Kenaikan tersebut dipengaruhi lonjakan harga avtur dunia sebesar 50,5 persen serta pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 6,3 persen terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut turut menyebabkan perusahaan membukukan rugi sebelum pajak Rp1,74 triliun.
Apabila kerugian akibat selisih kurs tidak diperhitungkan, rugi sebelum pajak Indonesia AirAsia tercatat sebesar Rp913,29 miliar.
Penjualan Tiket Sumbang Pendapatan Rp4,96 Triliun
Dari total pendapatan usaha Rp5,78 triliun, penjualan tiket penumpang menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp4,96 triliun.
Sementara itu, pendapatan dari layanan tambahan atau ancillary revenue mencapai Rp822,53 miliar.
Pendapatan tambahan tersebut berasal dari layanan bagasi, penjualan makanan dalam pesawat, penerbangan sewaan atau charter, serta kargo udara.
Perusahaan berupaya mengoptimalkan berbagai sumber pendapatan tersebut untuk meningkatkan nilai ekonomi setiap penerbangan.
“Kami memaksimalkan setiap instrumen yang berada dalam kendali kami, mulai dari pengelolaan kapasitas dan produktivitas armada, hingga optimalisasi pendapatan per penerbangan serta pengendalian biaya. Prioritas kami bukan sekadar menambah frekuensi penerbangan, melainkan memastikan setiap penerbangan menghasilkan imbal hasil ekonomi yang lebih kuat,” ujarnya.
AirAsia Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Penumpang Akhir Tahun
Memasuki sisa tahun 2026, Indonesia AirAsia akan memprioritaskan jaringan rute yang memiliki permintaan berkelanjutan.
Maskapai juga berencana meningkatkan pemanfaatan armada secara selektif untuk menjaga efisiensi operasional.
Strategi tersebut disiapkan untuk menghadapi potensi peningkatan perjalanan selama musim liburan akhir tahun atau peak season.
Perusahaan turut memanfaatkan jaringan AirAsia Group melalui layanan penerbangan lanjutan Fly-Thru yang menjangkau lebih dari 130 destinasi.
“Kami melihat potensi pertumbuhan tetap terbuka karena permintaan pasar yang mendasarinya masih terjaga. Melalui strategi rute yang lebih terarah, peningkatan produktivitas, serta dukungan ekosistem AirAsia Group, kami memiliki fondasi yang jelas untuk pemulihan kinerja secara bertahap. Kami akan terus menjaga fleksibilitas operasional agar dapat beradaptasi secara cepat terhadap pergerakan harga bahan bakar, nilai tukar mata uang, maupun kebutuhan pasar,” kata Achmad Sadikin.
Indonesia AirAsia Raih Penghargaan Skytrax 2026
Di tengah tekanan industri penerbangan, Indonesia AirAsia memperoleh penghargaan Best Low-Cost Airline in Indonesia dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2026.
Penghargaan tersebut menjadi pencapaian pertama Indonesia AirAsia dalam kategori itu.
Achmad Sadikin mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh karyawan perusahaan untuk mempertahankan kualitas layanan.
“Penghargaan Skytrax ini menjadi motivasi luar biasa bagi seluruh Allstars kami. Meski terdapat banyak faktor eksternal di luar kendali kami, prioritas utama kami adalah menjalankan bisnis secara efektif. Didukung oleh pasar yang tangguh, kekuatan jaringan rute AirAsia Group, serta dedikasi seluruh tim, kami optimis dapat melewati tantangan saat ini dan membangun kinerja yang lebih sehat serta berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Achmad Sadikin.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




