HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098,06, Tekanan Politik dan Harga Minyak Picu Aksi Jual Saham

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098,06, Tekanan Politik dan Harga Minyak Picu Aksi Jual Saham
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 184,25 poin atau 3,49 persen ke level 5.098,06 pada perdagangan Kamis (29/10/2026), mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham Asia di tengah meningkatnya kecenderungan investor menghindari aset berisiko atau risk off.

Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga mengalami penurunan sebesar 24,19 poin atau 4,48 persen sehingga berakhir pada posisi 515,28.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global yang meningkatkan kehati-hatian investor.

Dari dalam negeri, demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar menjadi salah satu faktor yang meningkatkan persepsi risiko politik di kalangan pelaku pasar.

Selain itu, harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel turut menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia.

“IHSG melemah setelah demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar meningkatkan risiko politik, sedangkan harga minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel menambah tekanan terhadap fiskal,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Arus Modal Asing Keluar dan Rupiah Melemah, Investor Tunggu Data Inflasi

Nico mengungkapkan bahwa arus keluar modal asing atau foreign outflow mengalami peningkatan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.

Kondisi tersebut turut menambah tekanan terhadap pasar saham domestik karena investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat.

Pelaku pasar juga mengambil sikap berhati-hati menjelang pengumuman sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang dijadwalkan dirilis pada pekan berikutnya.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Oktober 2026 yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai perkembangan tekanan harga di dalam negeri.

Kehati-hatian investor muncul setelah inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat meningkat menjadi 3,28 persen.

Perkembangan inflasi berikutnya menjadi salah satu faktor penting yang dipantau pelaku pasar untuk menilai kondisi perekonomian domestik.

Saham Teknologi Global Tertekan, Investor Soroti Kebijakan The Fed dan BOJ

Dari sisi eksternal, mayoritas bursa saham Asia mengalami pelemahan setelah laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar dinilai mengecewakan pelaku pasar.

Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi dalam jumlah besar di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kekhawatiran terhadap prospek investasi AI turut memengaruhi sentimen pasar saham regional karena sektor teknologi menjadi salah satu perhatian utama investor global.

Dari Jepang, perhatian investor tertuju pada pertemuan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Meski belum diperkirakan mengubah tingkat suku bunga, BOJ dinilai berpotensi memberikan sinyal kenaikan pada Desember 2026 seiring tekanan inflasi yang masih berlangsung.

Perubahan arah kebijakan moneter Jepang menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan di kawasan Asia.

Sementara itu, bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (28/10/2026) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar.

Meski keputusan tersebut sesuai perkiraan, dua pejabat The Fed menyampaikan perbedaan pendapat dengan mendukung kenaikan suku bunga.

Perbedaan pandangan di internal bank sentral Amerika Serikat tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati arah kebijakan moneter global.

Seluruh 11 Sektor Saham BEI Melemah, Barang Baku Turun Paling Dalam

Dari sisi perdagangan domestik, IHSG sebenarnya mengawali sesi Kamis dengan bergerak di zona positif.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena indeks berbalik melemah dan bergerak ke wilayah negatif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, tekanan jual terus berlanjut sehingga IHSG tetap berada di zona merah sampai perdagangan saham berakhir.

Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia mengalami pelemahan.

Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 4,44 persen, disusul sektor infrastruktur yang melemah 4,31 persen.

Sektor industri juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 4,18 persen.

Pelemahan seluruh sektor tersebut menunjukkan bahwa aksi jual berlangsung secara luas dan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok saham tertentu.

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan terbesar, yakni ALKA, YPAS, TMAS, KJEN, dan MKNT.

Sebaliknya, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah IDEA, SOFA, MEJA, LMAX, dan SPRE.

Sebanyak 653 Saham Turun, Transaksi BEI Capai Rp11,28 Triliun

Aktivitas perdagangan saham di BEI sepanjang Kamis tercatat mencapai 1,31 juta kali transaksi.

Total volume perdagangan mencapai 22,64 miliar lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp11,28 triliun.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 104 saham mengalami kenaikan harga, sedangkan 653 saham mencatatkan penurunan.

Sementara itu, sebanyak 206 saham tidak mengalami perubahan harga hingga penutupan perdagangan.

Jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat, mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham domestik.

Mayoritas Bursa Asia Melemah, Nikkei Jepang Justru Menguat

Pelemahan IHSG berlangsung sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga ditutup di zona negatif.

Indeks saham Korea Selatan Kospi turun 1,24 persen dan berakhir pada posisi 5.937,66.

Indeks Shanghai di China melemah 0,82 persen hingga berada pada level 3.651,43.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong mengalami penurunan sebesar 0,59 persen dan ditutup pada posisi 22.958,65.

Indeks Straits Times Singapura turut melemah tipis sebesar 0,03 persen hingga berakhir pada level 5.396,03.

Berbeda dengan mayoritas bursa regional, indeks Nikkei Jepang justru mencatatkan penguatan sebesar 1,00 persen dan ditutup pada level 64.594,00.

Dengan demikian, pelemahan IHSG pada perdagangan Kamis terjadi di tengah tekanan pasar saham regional, meningkatnya arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran investor terhadap perkembangan politik dan kondisi fiskal Indonesia.

Pelaku pasar selanjutnya masih mencermati perkembangan harga minyak dunia, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, kinerja perusahaan teknologi global, serta rilis data inflasi domestik sebagai faktor yang dapat memengaruhi sentimen perdagangan berikutnya.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026