HOME  ⁄  Ekonomi

Penyaluran KUR di NTT Tembus Rp2,72 Triliun hingga September 2026, Kota Kupang Catat Realisasi Tertinggi

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Penyaluran KUR di NTT Tembus Rp2,72 Triliun hingga September 2026, Kota Kupang Catat Realisasi Tertinggi
Foto: Kepala Kantor Wilayah DJPb NTT Budi Setyawan menyampaikan paparan dalam kegiatan jumpa pers Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang, Kamis 29/10/2026 (sumber: ANTARA/Yoseph Boli Bataona)

Pantau - Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai Rp2,72 triliun kepada 53.692 debitur hingga September 2026, meningkat 30,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi NTT, Budi Setyawan, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan peran KUR dalam memperluas akses permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai sektor ekonomi.

"Angka tersebut menunjukkan bahwa KUR menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM, termasuk di sektor perdagangan dan pertanian," kata Budi Setyawan di Kupang, Rabu.

Secara tahunan, nilai penyaluran KUR di NTT meningkat dari Rp2,08 triliun pada September 2025 menjadi Rp2,72 triliun pada September 2026.

Jumlah penerima pembiayaan juga bertambah sebanyak 4.735 debitur, dari sebelumnya 48.957 debitur pada September 2025 menjadi 53.692 debitur pada September 2026.

Kota Kupang Pimpin Penyaluran KUR di NTT

Berdasarkan wilayah penyaluran, Kota Kupang menjadi daerah dengan realisasi KUR tertinggi di NTT hingga September 2026, yakni mencapai Rp339,9 miliar kepada 4.013 debitur.

Nilai tersebut menyumbang sekitar 12,5 persen dari keseluruhan penyaluran KUR di Provinsi NTT.

Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Belu dengan realisasi pembiayaan sebesar Rp196,85 miliar yang disalurkan kepada 3.483 debitur.

Sementara itu, Kabupaten Sikka mencatat penyaluran KUR sebesar Rp193,43 miliar dengan jumlah penerima mencapai 4.415 debitur.

Dari sisi lembaga penyalur, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendominasi penyaluran KUR di NTT dengan realisasi mencapai Rp2,22 triliun kepada 48.920 debitur.

Realisasi penyaluran melalui BRI tersebut telah mencapai 94,28 persen dari target pembiayaan yang ditetapkan.

Sektor Perdagangan dan Pertanian Dominasi Pembiayaan KUR

Berdasarkan sektor usaha, penyaluran KUR di NTT masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran dengan nilai pembiayaan mencapai Rp1,29 triliun.

Sektor tersebut menyumbang sekitar 47,36 persen dari total penyaluran KUR di NTT dengan jumlah penerima sebanyak 23.175 debitur.

Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menempati posisi berikutnya dengan realisasi pembiayaan sebesar Rp579,12 miliar kepada 16.683 debitur.

Kontribusi sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan mencapai 21,26 persen dari keseluruhan penyaluran KUR di NTT hingga September 2026.

Sementara itu, berdasarkan skema pembiayaan, KUR Mikro menjadi jenis kredit dengan realisasi penyaluran terbesar, yakni mencapai Rp1,98 triliun kepada 50.814 debitur.

Penyaluran KUR Mikro tersebut telah mencapai 88,23 persen dari target yang ditetapkan.

Besarnya penyaluran pada skema KUR Mikro menunjukkan tingginya porsi pembiayaan yang diterima pelaku usaha berskala mikro dibandingkan jenis pembiayaan KUR lainnya.

KUR Perumahan Lampaui Target dengan Realisasi Rp240,46 Miliar

Selain pembiayaan bagi pelaku UMKM, DJPb juga mencatat realisasi penyaluran KUR Perumahan (KPP) hingga 30 September 2026 mencapai Rp240,46 miliar.

Realisasi tersebut telah mencapai 100,47 persen dari target sebesar Rp239,33 miliar sehingga penyalurannya melampaui target yang ditetapkan.

Berdasarkan jenis pembiayaan, KUR Perumahan dari sisi permintaan atau demand mencapai Rp95,31 miliar yang disalurkan kepada 476 debitur.

Sementara itu, pembiayaan dari sisi penyediaan perumahan atau supply mencapai Rp145,15 miliar dengan jumlah penerima sebanyak 86 debitur.

Dengan capaian tersebut, realisasi KUR Perumahan tercatat melampaui target sebesar Rp1,13 miliar hingga akhir September 2026.

DJPb Tekankan Dampak KUR terhadap Pertumbuhan Usaha Masyarakat

Budi Setyawan menegaskan bahwa keberhasilan program KUR tidak cukup hanya diukur dari besarnya nilai kredit yang berhasil disalurkan maupun jumlah debitur yang memperoleh pembiayaan.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut juga harus dilihat dari dampaknya terhadap peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, peningkatan produktivitas, serta penguatan ketahanan dan keberlanjutan usaha penerima kredit.

Pembiayaan KUR diharapkan dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mengembangkan kegiatan usaha, meningkatkan kemampuan produksi, serta memperluas jangkauan pemasaran produk.

"Jadi, di balik penyaluran KUR, kita melihat ada pelaku usaha yang berupaya memperluas warung, petani yang menambah modal, serta pelaku usaha lainnya yang menggerakkan perekonomian masyarakat," tambahnya.

DJPb menekankan pentingnya pemanfaatan pembiayaan secara produktif agar peningkatan penyaluran KUR juga memberikan dampak terhadap perkembangan usaha dan aktivitas perekonomian masyarakat di NTT.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026