
Pantau - US-ASEAN Business Council (USABC) menilai sektor digital Indonesia memiliki peluang investasi yang sangat menjanjikan, terutama dalam pengembangan infrastruktur pusat data, kecerdasan artifisial (AI), dan layanan ekonomi digital yang terus berkembang.
Dalam laporan USABC bertajuk White Paper: 8 Rekomendasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8 Persen, kontribusi AI terhadap perekonomian Indonesia diperkirakan mencapai 366 miliar dolar AS pada 2030.
Perwakilan USABC Indonesia Bhredipta Socarana mengatakan peluang tersebut perlu didukung kepastian regulasi, peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), dan kerja sama antara pemerintah dengan pelaku industri.
USABC Soroti Peluang Investasi Pusat Data dan AI
Bhredipta menyampaikan sektor digital menjadi salah satu bidang yang menarik perhatian perusahaan untuk mengembangkan investasi di Indonesia.
“Salah satu sektor yang cukup menjanjikan saat ini tentu saja adalah sektor digital. Kami telah banyak berdiskusi mengenai infrastruktur digital, seperti pusat data (data center). Hal ini akan menciptakan kapasitas komputasi yang besar, mendukung teknologi AI, dan sebagainya,” ujar Bhredipta dalam taklimat media di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, pembangunan pusat data dapat meningkatkan kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan teknologi AI dan layanan digital lainnya.
Ketersediaan infrastruktur tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pengembangan industri berbasis teknologi.
USABC juga melihat peluang pertumbuhan ekonomi digital melalui pemanfaatan AI, komputasi awan atau cloud, serta teknologi keamanan siber di berbagai sektor usaha.
Kepastian Regulasi Jadi Tantangan Investasi Digital
Meski peluang investasinya dinilai besar, USABC mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam pengembangan sektor digital Indonesia.
Tantangan tersebut meliputi regulasi, kapasitas sumber daya manusia, kelembagaan, dan keselarasan tujuan kebijakan.
Bhredipta menekankan pentingnya kepastian aturan agar perusahaan memiliki kejelasan dalam menjalankan kegiatan bisnis dan merencanakan investasi.
Menurutnya, kemudahan berusaha atau ease of doing business menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dalam menentukan pengembangan usaha.
USABC menilai pembenahan kebijakan perlu dilakukan bersamaan dengan peningkatan kemampuan lembaga pemerintah dalam memahami perkembangan teknologi.
USABC Rekomendasikan Pelatihan SDM dan Pengaturan Data
Untuk mengatasi tantangan tersebut, USABC mengajukan sejumlah rekomendasi dalam pengembangan sektor digital nasional.
Salah satunya adalah membangun kemampuan SDM melalui rekrutmen khusus dan pelatihan berkelanjutan.
USABC juga mendorong peningkatan pemahaman pegawai pemerintah mengenai kebijakan digital dan proses perizinan.
Dalam pengelolaan data, organisasi tersebut merekomendasikan pembedaan aturan untuk data yang disimpan (stored data), data yang sedang dikirim (data in-transit), dan pemrosesan data sesaat (momentary processing).
Rekomendasi lainnya mencakup uji coba persyaratan digital utama dan penerapan pendekatan berbasis risiko dalam pengaturan AI.
USABC turut mengusulkan penetapan standar interoperabilitas agar sistem domestik dan internasional dapat saling terhubung dalam layanan pembayaran, komputasi awan, dan transfer data.
“Hal ini menunjukkan bagaimana pemerintah dan industri dapat bekerja sama melalui kemitraan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut,” kata Bhredipta.
Investasi Digital Diharapkan Dorong UMKM dan Lapangan Kerja
Bhredipta mengatakan peningkatan kapasitas dan kepastian kebijakan dapat menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam memperluas investasinya.
“Menjadikan aspek ini sebagai bagian dari pertimbangan bisnis akan membantu mereka untuk melakukan investasi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya,” katanya menambahkan.
Menurut USABC, penguatan sektor digital diharapkan dapat mendukung penyediaan layanan perbankan, layanan digital, dan pelayanan publik yang lebih aman.
Perusahaan teknologi serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga diharapkan memperoleh kesempatan untuk berkembang di pasar yang lebih luas.
Sementara itu, sektor perbankan, manufaktur, dan logistik berpotensi meningkatkan pemanfaatan AI, komputasi awan, serta keamanan siber dalam kegiatan operasional.
Pengembangan teknologi tersebut juga diharapkan membuka kesempatan bagi pekerja untuk meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan industri digital.
Bagi pemerintah, pertumbuhan sektor digital berpotensi meningkatkan penerimaan pajak, menciptakan lapangan kerja terampil, dan memperbaiki efektivitas belanja publik untuk pengembangan sistem digital.
USABC berharap kerja sama pemerintah dan industri dapat memperkuat iklim investasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan




