HOME  ⁄  Ekonomi

Kemenekraf Dorong Inovasi Kuliner Lokal Lewat Program MASAMO untuk Tingkatkan Daya Saing UMKM

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenekraf Dorong Inovasi Kuliner Lokal Lewat Program MASAMO untuk Tingkatkan Daya Saing UMKM
Foto: (Sumber :Kementerian Ekraf tingkatkan inovasi produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) subsektor kuliner lewat Program MASAMO di Aceh Jaya, Rabu (28/10/2026). ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif.)

Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat inovasi produk kuliner berbahan pangan lokal melalui Program Masak Bersama Master (MASAMO) untuk meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus menjaga minat beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi.

Program tersebut dilaksanakan di Desa Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya, pada Rabu (28/10/2026), dengan melibatkan 45 pelaku usaha kuliner.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan pengolahan pangan, memperpanjang masa simpan produk, dan membuka peluang pemasaran melalui jaringan ritel modern.

Kemenekraf Latih 45 Pelaku UMKM Kuliner di Aceh Jaya

Direktur Kuliner Kemenekraf Romi Astuti mengatakan pengembangan ekonomi kreatif perlu memanfaatkan potensi pangan lokal sebagai sumber inovasi produk.

Menurutnya, bahan pangan yang tersedia di daerah dapat diolah menjadi produk kuliner dengan nilai ekonomi lebih tinggi melalui kreativitas dan penguasaan teknik pengolahan.

"Melalui kegiatan MASAMO, kita ingin menunjukkan bahwa dari bahan pangan lokal yang sederhana, sentuhan kreativitas dapat melahirkan produk baru yang tidak hanya menarik, tetapi juga bernilai jual," ujar Romi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Program MASAMO menjadi bagian dari Program Aktivasi Desa Kreatif yang diarahkan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha di daerah.

Sebanyak 45 peserta mendapatkan pendampingan dari ahli kuliner profesional untuk mengembangkan produk berbasis komoditas perikanan setempat.

Pelatihan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan teknik pengolahan yang dapat meningkatkan kualitas dan daya tarik produk di pasar.

Ikan Lele Diolah Menjadi Kuliner Modern Bernilai Jual

Salah satu komoditas yang dikembangkan dalam Program MASAMO adalah ikan lele yang tersedia di wilayah Aceh Jaya.

Peserta dilatih mengolah ikan tersebut menjadi makanan dengan variasi rasa dan penyajian yang lebih beragam.

Produk yang diperkenalkan antara lain Lele Gulung Crispy with Black Curry dan Spaghetti with Acehnese Catfish Seasoning.

Pengembangan menu tersebut dilakukan untuk memperluas pilihan produk kuliner berbahan pangan lokal.

Kemenekraf berharap inovasi pengolahan dapat membantu pelaku UMKM menjangkau konsumen dengan kebutuhan dan selera yang berbeda.

Selain menciptakan variasi makanan, peserta juga dibekali keterampilan untuk menjaga kualitas produk agar sesuai dengan kebutuhan pasar.

Produk Kuliner Disiapkan Masuk Ritel Modern

Kemenekraf turut mendorong pengembangan produk kuliner menjadi makanan siap saji atau ready-to-eat (RTE) dengan spesifikasi komersial.

Peserta memperoleh pembekalan mengenai teknik pengolahan dan sterilisasi untuk memperpanjang masa simpan makanan.

Penguasaan teknik tersebut diharapkan dapat membantu UMKM menghasilkan produk yang lebih tahan lama dan memenuhi kebutuhan distribusi.

Produk dengan masa simpan lebih panjang juga berpeluang dipasarkan melalui jaringan ritel modern tanpa harus selalu bergantung pada sistem rantai pendingin atau cold chain.

Selain teknik produksi, pelaku usaha didorong memperhatikan standar kemasan dan mutu agar produk lebih siap memasuki pasar yang lebih luas.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperkuat daya saing kuliner daerah.

Subsektor Kuliner Sumbang Rp721,82 Triliun terhadap PDB pada 2025

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor kuliner mencatatkan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp721,82 triliun sepanjang 2025.

Nilai tersebut setara dengan 41,06 persen dari total PDB ekonomi kreatif nasional.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan peran subsektor kuliner dalam menopang kegiatan ekonomi kreatif Indonesia.

Namun, keberlanjutan usaha kuliner juga dipengaruhi oleh kemampuan pelaku usaha menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen.

Kemenekraf menilai inovasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, kualitas produk, dan peluang pemasaran.

Karena itu, pengembangan usaha tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kemampuan bersaing di pasar.

UMKM Dibekali Pemasaran Digital dan Pengelolaan Keuangan

Selain pelatihan pengolahan pangan, Kemenekraf memberikan pembekalan mengenai pengelolaan usaha dan keuangan.

Peserta juga mendapatkan materi pemasaran digital untuk membantu memperluas jangkauan penjualan produk.

Aspek perlindungan kekayaan intelektual turut diperkenalkan agar pelaku UMKM memahami pentingnya menjaga identitas dan hasil inovasi usahanya.

Pembekalan tersebut ditujukan untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Melalui Program Aktivasi Desa Kreatif, Kemenekraf mendorong pemanfaatan potensi pangan dan identitas lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah.

Penguatan keterampilan produksi, pengelolaan usaha, dan pemasaran diharapkan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat serta memperluas kontribusi industri kuliner terhadap perekonomian nasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026