HOME  ⁄  Nasional

PP IKA UNJ Dorong Kurikulum Sekolah Lindungi Anak dari Perundungan Siber hingga Penyalahgunaan AI

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

PP IKA UNJ Dorong Kurikulum Sekolah Lindungi Anak dari Perundungan Siber hingga Penyalahgunaan AI
Foto: (Sumber :Forum Diskusi Pedagogik (FDP) Seri ke-3 yang diselenggarakan oleh PP IKA UNJ dengan tema "Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital" di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (30/10/2026). ANTARA/Universitas Negeri Jakarta..)

Pantau - Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (PP IKA UNJ) mendorong penguatan kurikulum pendidikan untuk melindungi anak dari ancaman dunia digital, mulai dari perundungan siber, kecanduan gawai, paparan konten berbahaya, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI).

Upaya tersebut dinilai penting agar sekolah tidak hanya menangani masalah setelah terjadi, tetapi juga membekali peserta didik dengan kemampuan mengenali dan mencegah risiko sejak dini.

Hal itu menjadi pembahasan dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) Seri ke-3 bertema "Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital" di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (30/10/2026).

PP IKA UNJ Minta Kurikulum Jadi Pelindung Anak di Dunia Digital

Panitia penyelenggara FDP Seri ke-3 Afif Yusuf mengatakan perkembangan teknologi digital membawa tantangan serius bagi tumbuh kembang anak.

Menurutnya, sistem pendidikan perlu mengembangkan pendekatan pencegahan agar peserta didik mampu menghadapi berbagai risiko saat menggunakan teknologi.

"Kurikulum formal dinilai perlu menjadi instrumen pencegahan untuk melindungi anak dari perundungan siber, kecanduan gawai, paparan konten berbahaya, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)," kata Afif di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Afif menilai pendekatan yang hanya dilakukan setelah munculnya masalah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman di ruang digital.

Penggunaan gawai tanpa pendampingan juga berpotensi menimbulkan kecanduan, perundungan siber, serta penurunan integritas akademik akibat penyalahgunaan AI.

"Kita butuh langkah terstruktur, kurikulum formal harus bertransformasi menjadi perisai perlindungan, dan pendidik wajib hadir sebagai kompas moral," jelas Afif.

Ia menegaskan perlindungan anak perlu dimulai dari lingkungan pendidikan melalui kurikulum yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Guru Diminta Jadi Teladan dan Pembimbing Moral Siswa

Ketua Harian PP IKA UNJ Suherman Saji mengatakan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan akademik.

Suherman yang hadir mewakili Ketua Umum PP IKA UNJ Sugeng Suparwoto menilai peserta didik juga perlu dibekali kemampuan menjaga diri dari berbagai ancaman digital.

Menurutnya, anak harus memiliki kesadaran etis, kemampuan mengenali risiko, dan kecakapan mempertimbangkan dampak aktivitas mereka di internet.

"Kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan ilmu kognitif. Peserta didik harus memiliki kemampuan mengantisipasi risiko digital sebelum mereka menjadi korban atau pelaku. Di sinilah guru harus tampil sebagai penunjuk arah dan teladan," ujar Suherman.

Ia menekankan pentingnya peran pendidik dalam membangun karakter serta membimbing siswa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

KPAI Ingatkan Anak Berisiko Jadi Sasaran Predator Siber

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kawiyan mengingatkan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya mengandalkan regulasi pemerintah.

Menurutnya, keberadaan PP Tunas dan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2025 perlu didukung pendampingan langsung dari berbagai pihak.

Kawiyan mengatakan anak-anak berisiko terpapar konten berbahaya dan menjadi sasaran predator siber apabila tidak memperoleh pengawasan yang memadai.

"Jangan biarkan anak-anak kita diasuh oleh gawai semata. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan platform digital harus bersinergi kuat membangun ekosistem yang aman," tegas Kawiyan.

Ia menekankan pentingnya kerja sama antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan penyedia layanan digital dalam membangun lingkungan internet yang lebih aman bagi anak.

UNJ Ingatkan AI Tidak Boleh Menggantikan Proses Berpikir Siswa

Selain membahas perlindungan anak, forum tersebut menyoroti penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam kegiatan pembelajaran.

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNJ Hadi Nasbey mengatakan teknologi AI seharusnya digunakan untuk membantu proses belajar.

Menurutnya, penggunaan AI tidak boleh menjadi jalan pintas yang menggantikan kemampuan siswa dalam memahami materi, menganalisis informasi, dan menghasilkan pemikiran secara mandiri.

Hadi juga mengingatkan risiko menurunnya integritas akademik apabila teknologi digunakan untuk menyelesaikan tugas tanpa melalui proses belajar yang semestinya.

"AI itu asisten, bukan pengganti proses berpikir manusia. Tantangan terbesarnya bukan sebatas pada kasus plagiasi instan, melainkan bagaimana kita mendidik anak agar jujur dalam prosesnya. Secanggih apa pun teknologinya, ia tidak akan pernah bisa menggantikan peran pendidik sebagai penjaga moral," pungkas Hadi.

Ia menilai guru tetap memiliki peran penting dalam membangun kejujuran dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Penguatan Karakter dan Empati Jadi Kunci Pendidikan Digital

Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ sekaligus moderator FDP Seri ke-3 Aan Harinurdin mengatakan perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan karakter dan empati.

Menurutnya, kemampuan teknologi dalam membantu pembelajaran tidak dapat menggantikan peran manusia dalam memberikan keteladanan moral.

"Keteladanan moral hanya bisa ditularkan dari manusia ke manusia. Itulah tugas mulia pendidik untuk memanusiakan kurikulum kita di era digital," imbuh Aan.

Forum tersebut menekankan perlunya kurikulum yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membekali anak dengan literasi digital, kesadaran etis, dan kemampuan melindungi diri.

Melalui penguatan kurikulum dan pendampingan pendidik, PP IKA UNJ mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih siap menghadapi risiko perkembangan teknologi digital.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026