
Pantau - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Nurchalis mendesak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh segera melakukan mitigasi bencana secara teknis dan berkala di jalur pantai barat-selatan (Barsela) Aceh untuk mencegah berulangnya longsor, batu runtuh, dan pohon tumbang yang membahayakan pengguna jalan.
Desakan tersebut disampaikan menyusul tingginya potensi bencana di sejumlah ruas jalan nasional yang melintasi kawasan perbukitan dan pegunungan di Aceh.
Nurchalis menyoroti kondisi jalur Gunung Gurutee di Kabupaten Aceh Jaya serta Gunung Kulu dan Gunung Paro di Kabupaten Aceh Besar yang dinilai rawan mengalami longsor dan pohon tumbang.
Menurutnya, gangguan di jalur tersebut tidak hanya mengancam keselamatan pengendara, tetapi juga menghambat transportasi masyarakat dan distribusi barang menuju ibu kota provinsi.
DPRA Soroti Ancaman Longsor di Gunung Gurutee dan Gunung Paro
Nurchalis mengatakan sejumlah ruas jalan nasional di kawasan pantai barat-selatan Aceh memiliki risiko bencana yang perlu mendapat perhatian serius.
Potensi bahaya tersebut meliputi pohon tumbang dari atas tebing, bebatuan yang menggelinding ke badan jalan, serta tanah longsor saat kondisi cuaca memburuk.
"Pencegahan ini penting dilakukan, sebagai upaya mencegah berulangnya peristiwa pohon tumbang dan longsor batu gunung di atas badan jalan, yang kerap mengancam keselamatan pengguna jalan dan menyebabkan terganggunya arus transportasi barang dan masyarakat yang melintasi jalur padat di wilayah ini," kata Nurchalis kepada ANTARA, Senin (2/11/2026).
Ia menyebut kawasan Gunung Gurutee, Gunung Kulu, dan Gunung Paro sebagai lokasi yang membutuhkan langkah pencegahan secara berkala.
Kondisi tebing dan pepohonan di sekitar jalur tersebut dinilai perlu diperiksa untuk mengidentifikasi potensi bahaya sebelum terjadi bencana.
Longsor Ganggu Transportasi dan Distribusi Logistik
Nurchalis menjelaskan bahwa bencana longsor dan pohon tumbang di jalur Barsela dapat menyebabkan arus kendaraan terhambat selama berjam-jam.
Gangguan tersebut berdampak pada perjalanan masyarakat dari wilayah pantai barat-selatan Aceh menuju ibu kota provinsi.
Selain menghambat mobilitas warga, kondisi itu juga berpotensi mengganggu distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat.
"Jalur lintas Barat-Selatan ini merupakan urat nadi transportasi umum sekaligus jalur ekonomi dan rantai pasok logistik masyarakat. Namun, saat cuaca buruk seperti hujan deras atau angin kencang (badai), kawasan ini menjadi sangat rawan dan membahayakan keselamatan pengguna jalan," ujar Nurchalis.
Menurutnya, ancaman longsor yang terus berulang juga dapat menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat yang harus melintasi kawasan tersebut.
Ia menilai penanganan yang terencana diperlukan agar kelancaran transportasi dan distribusi logistik tetap terjaga.
BPJN Diminta Petakan Pohon Rawan Tumbang dan Batu Longsor
DPRA meminta BPJN Aceh melakukan kajian teknis secara menyeluruh terhadap kondisi ruas jalan nasional di kawasan rawan bencana.
Kajian tersebut perlu mencakup pemetaan lokasi yang memiliki potensi longsor, pohon tumbang, dan runtuhan bebatuan.
Nurchalis secara khusus meminta petugas mengidentifikasi pohon yang sudah miring atau berisiko tumbang ke badan jalan.
Selain itu, bebatuan di tebing yang berpotensi runtuh juga perlu diperiksa dan ditangani sebelum menimbulkan kecelakaan.
Ia mendesak BPJN Aceh segera melakukan pemotongan pohon yang membahayakan serta penanganan terhadap material batu yang berisiko jatuh.
Langkah pencegahan tersebut dinilai penting untuk mengurangi ancaman terhadap pengguna jalan, terutama saat hujan deras dan angin kencang.
DPRA Pertanyakan Kelanjutan Wacana Terowongan Gurutee
Nurchalis turut menyoroti wacana pembangunan terowongan di kawasan Gunung Gurutee sebagai salah satu solusi jangka panjang.
Menurutnya, rencana tersebut selama ini belum menunjukkan kepastian mengenai waktu pelaksanaannya.
Ia menilai pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap solusi jangka panjang sekaligus menjalankan langkah mitigasi yang dapat segera dilakukan.
DPRA juga meminta BPJN Aceh menyampaikan informasi secara terbuka kepada masyarakat mengenai upaya pencegahan bencana yang telah dilaksanakan.
Transparansi tersebut dinilai diperlukan agar masyarakat mengetahui kondisi jalur dan langkah keselamatan yang dilakukan pemerintah.
Komisi IV DPRA Akan Diminta Panggil BPJN Aceh
Nurchalis menyatakan akan membawa persoalan berulangnya longsor dan pohon tumbang di jalur barat Aceh kepada Komisi IV DPRA yang membidangi infrastruktur.
Ia berencana menyampaikan aspirasi masyarakat agar komisi tersebut berkoordinasi dengan BPJN Aceh.
Koordinasi itu juga dapat dilakukan melalui pemanggilan pihak BPJN Aceh untuk membahas penanganan ruas jalan nasional yang rawan bencana.
"BPJN harus segera mengambil langkah-langkah konkret dan tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut," tegas Nurchalis.
Ia berharap langkah mitigasi dapat segera dilaksanakan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan menjaga kelancaran transportasi masyarakat di wilayah pantai barat-selatan Aceh.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




