
Pantau - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan 23 usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengikuti pendampingan lanjutan menuju penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) melalui program RISE To IPO.
Deputi Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengatakan sebanyak 23 perusahaan tersebut merupakan peserta terpilih melalui proses kurasi dari lebih dari 100 pendaftar.
“Ini jumlah yang terseleksi ya. Yang daftar lebih dari 100. Kami seleksi melalui RISE to IPO melalui SAPA UMKM,” ucap Bagus dalam peluncuran Go Public Academy for SMEs di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Program pendampingan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapan perusahaan dari sisi tata kelola, strategi bisnis, dan pemenuhan persyaratan untuk menjadi perusahaan terbuka.
Program RISE To IPO Jangkau 281 Perusahaan di Lima Kota
Bagus menjelaskan bahwa program RISE To IPO mulai dijalankan pada 9 Juli 2025 melalui kerja sama Kementerian UMKM dan BEI.
Sepanjang 2025 hingga 2026, program tersebut telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota.
Kelima kota tersebut meliputi Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung.
Program ini memberikan kesempatan kepada pelaku UKM untuk mengenal pasar modal sebagai salah satu alternatif pembiayaan dan pengembangan usaha.
Dari peserta yang mengikuti program pada 2025, sebanyak 23 perusahaan berhasil lolos seleksi untuk mendapatkan pendampingan lanjutan.
Perusahaan terpilih kemudian mengikuti kegiatan Intensive Coaching Clinic yang diselenggarakan pada 4 Februari 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan perusahaan sebelum memasuki tahapan yang lebih lanjut menuju IPO.
Kementerian UMKM Perkuat Tata Kelola dan Kesiapan Bisnis
Bagus menjelaskan bahwa pendampingan lanjutan tidak hanya berfokus pada proses pencatatan saham di bursa.
Program tersebut juga dirancang untuk memperkuat kesiapan internal perusahaan agar mampu memenuhi tuntutan sebagai perusahaan terbuka.
Aspek yang menjadi perhatian meliputi tata kelola perusahaan, strategi bisnis, serta kesiapan menghadapi kewajiban dan tanggung jawab di pasar modal.
Melalui pembinaan tersebut, peserta diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan usaha sebelum memutuskan untuk melakukan IPO.
Kementerian UMKM juga menyiapkan kelanjutan pendampingan bagi perusahaan yang mengikuti program RISE To IPO pada 2026.
Pendampingan intensif untuk kelompok peserta tersebut dijadwalkan berlangsung pada awal 2027.
Kementerian UMKM dan BEI Luncurkan Go Public Academy for SMEs
Sebagai kelanjutan program RISE To IPO, Kementerian UMKM bersama BEI meluncurkan Go Public Academy for SMEs di Jakarta pada Senin (2/11/2026).
Program tersebut dirancang untuk memberikan edukasi dan pembinaan secara bertahap kepada perusahaan yang memiliki potensi memanfaatkan pasar modal.
Melalui akademi tersebut, pelaku UKM diharapkan memperoleh pemahaman lebih luas mengenai persiapan menjadi perusahaan terbuka.
Pembinaan juga diarahkan untuk meningkatkan transparansi, kualitas tata kelola, dan daya saing perusahaan.
Dengan demikian, manfaat program tidak hanya ditujukan bagi perusahaan yang akhirnya melaksanakan IPO, tetapi juga bagi peserta yang ingin memperkuat pengelolaan bisnis.
Pemerintah Targetkan 10.000 Perusahaan Siap IPO pada 2045
Dalam jangka panjang, Go Public Academy for SMEs diharapkan mendukung target pembentukan 10.000 perusahaan yang siap melaksanakan IPO pada 2045.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kesiapan pelaku usaha untuk mengakses pembiayaan melalui pasar modal.
Kementerian UMKM dan BEI mengajak berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program tersebut.
Pihak yang diharapkan terlibat mencakup kementerian dan lembaga pemerintah, perguruan tinggi, serta asosiasi bisnis.
Selain itu, profesi penunjang pasar modal, investor, dan pelaku usaha juga didorong untuk berkontribusi dalam kegiatan edukasi serta pendampingan.
Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program dan memperluas jangkauan pembinaan perusahaan.
Sebanyak 23 UKM yang telah terpilih menjadi bagian dari tahap awal pendampingan lanjutan, sementara peserta program 2026 akan mendapatkan pembinaan intensif pada awal 2027.
- Penulis :
- Aditya Yohan




