HOME  ⁄  Ekonomi

PMI Manufaktur Indonesia Melonjak ke 54,0 pada Oktober 2026, Ekspansi Industri Terkuat dalam 31 Bulan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

PMI Manufaktur Indonesia Melonjak ke 54,0 pada Oktober 2026, Ekspansi Industri Terkuat dalam 31 Bulan
Foto: Arsip foto - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji ditemui usai melakukan pertemuan dengan Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia di Jakarta, Kamis 29/10/2026 (sumber: ANTARA/A Muzdaffar Fauzan)

Pantau - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyatakan bahwa kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menjadi 54,0 pada Oktober 2026 menunjukkan penguatan aktivitas industri nasional dengan laju ekspansi tertinggi dalam 31 bulan terakhir.

Berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis pada Senin, PMI Manufaktur Indonesia meningkat 1,6 poin dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 52,4.

Capaian tersebut menjadi laju ekspansi manufaktur terkuat sejak Maret 2024 sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas industri nasional semakin jauh berada di atas ambang batas ekspansi 50 poin.

"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin. Ini merupakan perkembangan yang positif dan menjadi indikasi bahwa aktivitas industri nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik," ujar Sarmuji dalam keterangan tertulisnya yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Sarmuji menegaskan bahwa momentum pertumbuhan tersebut perlu dipertahankan agar sektor manufaktur mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri.

Pesanan Baru Tumbuh Tercepat dalam Lima Tahun, Ekspor Cetak Rekor

Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 adalah pertumbuhan pesanan baru yang mencapai laju tercepat dalam lima tahun terakhir.

Peningkatan tersebut didukung oleh menguatnya kepercayaan pasar terhadap produk manufaktur Indonesia serta peluncuran berbagai produk baru oleh pelaku industri.

Selain permintaan domestik, sektor manufaktur nasional juga mencatatkan perkembangan positif dari pasar internasional.

Pesanan ekspor baru mengalami pertumbuhan dengan laju tertinggi sejak survei PMI Manufaktur Indonesia pertama kali dilaksanakan pada April 2011.

Capaian tersebut menunjukkan adanya penguatan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia di pasar global yang turut menopang ekspansi industri nasional.

Direktur Bidang Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Trevor Balchin, sebelumnya juga menyoroti kuatnya kinerja manufaktur Indonesia dalam laporan PMI Oktober 2026.

Menurut Trevor, peningkatan produksi dan pertumbuhan pesanan baru yang didukung permintaan ekspor menjadi faktor penting dalam penguatan aktivitas manufaktur nasional.

Penguatan permintaan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan produksi industri Indonesia terus mengalami perbaikan.

PMI Indonesia Ungguli Jepang, China, dan Sejumlah Negara Asia Pasifik

Berdasarkan data S&P Global yang disampaikan, PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik.

Berikut perbandingan PMI manufaktur tujuh negara pada Oktober 2026:

NegaraPMI Manufaktur
Indonesia54,0
Jepang53,3
Vietnam52,3
China52,0
Korea Selatan51,3
Malaysia51,0
Australia49,6

Indonesia mencatatkan nilai PMI tertinggi di antara tujuh negara tersebut dengan selisih 0,7 poin dibandingkan Jepang yang berada pada level 53,3.

Sementara itu, Australia menjadi satu-satunya negara dalam perbandingan tersebut yang mencatatkan PMI di bawah ambang batas ekspansi, yakni 49,6.

Nilai PMI di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.

Semakin tinggi nilai PMI di atas 50, semakin kuat pula laju perbaikan aktivitas manufaktur yang tercermin dalam hasil survei.

Meski mencatatkan kinerja positif, Kementerian Perindustrian mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh berpuas diri karena persaingan industri global masih menuntut peningkatan produktivitas dan daya saing.

Kemenperin Perkuat Industri Nasional dan Lindungi Pasar Domestik

Sarmuji menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan sektor manufaktur nasional.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat ekosistem manufaktur agar kegiatan produksi dapat berlangsung secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Pemerintah juga mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri guna memperkuat permintaan terhadap hasil produksi industri nasional.

Selain itu, Kemenperin berupaya mengamankan pasar domestik dari praktik persaingan impor yang tidak sehat agar industri dalam negeri memiliki kesempatan berkembang secara optimal.

Kebijakan lainnya mencakup peningkatan kepastian pasokan energi dan bahan baku yang menjadi kebutuhan utama dalam kegiatan produksi.

Sarmuji menegaskan bahwa perusahaan industri yang telah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sementara industri yang masih menghadapi keterbatasan perlu memperoleh dukungan agar dapat berkembang.

"Industri yang sudah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sedangkan industri yang masih membutuhkan dukungan harus kita pacu agar semakin berkembang. Kita ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," tegasnya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan industri tidak cukup hanya diukur berdasarkan kenaikan indikator survei, tetapi juga harus terlihat dari peningkatan kapasitas produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Dengan demikian, pemerintah berupaya memastikan penguatan sektor manufaktur dapat memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Indeks Kepercayaan Industri Naik ke 53,77 pada Oktober 2026

Selain kenaikan PMI, penguatan sektor manufaktur nasional juga tercermin dari meningkatnya Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian.

IKI pada Oktober 2026 tercatat sebesar 53,77 atau meningkat 1,84 poin dibandingkan September 2026 yang berada pada level 51,93.

Peningkatan tersebut menunjukkan adanya penguatan tingkat kepercayaan pelaku industri terhadap kondisi usaha secara bulanan.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, IKI Oktober 2026 juga mengalami peningkatan.

Pada Oktober 2025, IKI tercatat sebesar 53,50 sehingga capaian Oktober 2026 menunjukkan kenaikan sebesar 0,27 poin secara tahunan.

Kenaikan IKI secara bulanan dan tahunan tersebut memperlihatkan berlanjutnya penguatan sentimen pelaku industri terhadap kondisi usaha manufaktur nasional.

Pergerakan PMI dan IKI yang sama-sama meningkat pada Oktober 2026 menjadi dua indikator yang menunjukkan membaiknya aktivitas produksi dan kepercayaan industri Indonesia.

Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya menjaga momentum tersebut melalui penguatan ekosistem industri, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perlindungan pasar domestik dari persaingan tidak sehat, serta kepastian pasokan energi dan bahan baku.

Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan manufaktur tidak hanya tercermin dalam indikator ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan investasi, perluasan ekspor, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan perekonomian nasional.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026