
Pantau - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, dengan anggaran mencapai 17,5 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk membuka peluang penemuan cadangan minyak dan gas bumi (migas) baru.
Kegiatan tersebut ditandai dengan pelaksanaan tajak sumur baru (spud in) sebagai tahap awal eksplorasi untuk membuktikan potensi kandungan hidrokarbon di Wilayah Kerja (WK) Blok B Aceh.
Kepala BPMA, Mawardi Nur, mengatakan bahwa pengeboran sumur Rayeu D-1 menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan potensi cadangan migas sekaligus menjaga keberlanjutan produksi energi di Aceh.
"Pengeboran Rayeu D-1 merupakan bagian dari upaya kita untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh," kata Mawardi Nur di Banda Aceh, Senin (2/11/2026).
Sumur eksplorasi tersebut berlokasi di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, dan menjadi bagian dari pengembangan potensi hidrokarbon di Wilayah Kerja Blok B.
Pengeboran dilakukan untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon pada prospek Rayeu D sekaligus mengonfirmasi hasil survei seismik tiga dimensi (3D) yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Sumur Rayeu D-1 Ditargetkan Hasilkan 300 Barel Kondensat dan 11,4 Juta Kaki Kubik Gas per Hari
PT Pema Global Energi menargetkan potensi produksi awal sumur Rayeu D-1 sebesar 300 barel kondensat per hari atau barrels of condensate per day (BCPD).
Selain kondensat, sumur tersebut diperkirakan memiliki potensi produksi gas mencapai 11,4 juta standar kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD).
Namun, angka tersebut masih merupakan perkiraan potensi produksi yang harus dibuktikan melalui proses pengeboran dan pengujian sumur sebelum dapat dipastikan sebagai kapasitas produksi aktual.
Pengeboran Rayeu D-1 menggunakan metode pengeboran berarah (directional drilling) yang memungkinkan lintasan sumur diarahkan menuju target reservoir di bawah permukaan tanah.
Kegiatan tersebut menggunakan perangkat pengeboran BMA-16 berkapasitas 1.500 tenaga kuda atau horsepower (HP) yang dioperasikan oleh PT Bina Mitra Artha (BMA).
Sumur Rayeu D-1 ditargetkan mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki terukur berarah atau feet measured depth (MD), dengan kedalaman vertikal sebenarnya mencapai 6.894 kaki atau true vertical depth (TVD).
Sasaran utama dan sekunder pengeboran berada pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, khususnya lapisan LS-1 dan LS-2 yang menjadi target eksplorasi hidrokarbon.
Mawardi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga bertujuan memastikan potensi cadangan migas berdasarkan hasil survei seismik 3D yang sebelumnya telah dilakukan pada struktur Rayeu D.
"Pengembangan struktur Lower Seurula diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan produksi hidrokarbon di blok B," ujar Mawardi.
BPMA berharap hasil pengeboran dapat membuka peluang penambahan cadangan minyak dan gas bumi sekaligus mendukung keberlanjutan kegiatan operasi hulu migas di Aceh.
"Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif sehingga mampu menambah potensi cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja Blok B," ujar Mawardi.
Anggaran Pengeboran Capai 17,5 Juta Dolar AS, Pekerjaan Ditargetkan Selesai dalam 74 Hari
Berdasarkan persetujuan Authorization for Expenditure (AFE), kegiatan pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 memiliki anggaran sebesar 17,5 juta dolar AS.
Dengan anggaran tersebut, operasi pengeboran menggunakan perangkat pengeboran diperkirakan berlangsung selama 50 hari.
Sementara itu, keseluruhan kegiatan hingga penyelesaian sumur ditargetkan membutuhkan waktu sekitar 74 hari.
Jangka waktu tersebut mencakup tahapan pengeboran, komplesi atau penyelesaian sumur, pembersihan sumur (clean-up well), hingga pengujian sumur (well testing).
Tahapan pengujian diperlukan untuk mengetahui keberhasilan eksplorasi sekaligus mengevaluasi kemampuan sumur dalam menghasilkan kondensat dan gas sesuai potensi yang telah diperkirakan.
BPMA menekankan pentingnya kerja sama antara PT Pema Global Energi, kontraktor pengeboran, dan seluruh pihak terkait agar setiap tahapan pekerjaan dapat terlaksana sesuai target.
Selain mengejar keberhasilan eksplorasi, BPMA meminta seluruh pihak mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan selama kegiatan pengeboran berlangsung.
Penerapan standar keselamatan dinilai penting karena kegiatan eksplorasi migas memiliki risiko operasional yang harus dikelola untuk mencegah kecelakaan maupun dampak terhadap lingkungan.
"Keberhasilan pengeboran ini tidak hanya diukur dari pencapaian target teknis, tetapi juga dari pelaksanaan operasi yang aman dan bertanggung jawab," kata Mawardi Nur.
Seluruh tahapan pengeboran juga harus dilaksanakan secara efektif dan sesuai dengan ketentuan serta peraturan yang berlaku.
Melalui pengeboran Rayeu D-1, BPMA dan PT Pema Global Energi berharap dapat membuktikan potensi hidrokarbon pada Formasi Lower Seurula sekaligus membuka peluang peningkatan cadangan dan produksi migas di Wilayah Kerja Blok B Aceh.
- Penulis :
- Shila Glorya




