HOME  ⁄  Geopolitik

Iliana Yotova Unggul dalam Pilpres Bulgaria 2026, Berpeluang Jadi Presiden Perempuan Pertama Hasil Pemilihan Langsung

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Iliana Yotova Unggul dalam Pilpres Bulgaria 2026, Berpeluang Jadi Presiden Perempuan Pertama Hasil Pemilihan Langsung
Foto: Presiden Bulgaria sekaligus kandidat presiden, Iliana Iotova, memberikan suaranya di tempat pemungutan suara dalam putaran kedua pemilihan presiden Bulgaria di Sofia, Bulgaria, Minggu 1/11/2026 (sumber: Anadolu Agency/Hristo Vladev)

Pantau - Iliana Yotova berpeluang mencatat sejarah sebagai presiden perempuan pertama Bulgaria yang terpilih melalui pemilihan langsung setelah unggul dalam penghitungan paralel pemilihan presiden putaran kedua pada Minggu, 1 November 2026.

Berdasarkan penghitungan paralel lembaga survei Trend yang mencakup 100 persen tempat pemungutan suara, pasangan Iliana Yotova dan calon wakil presidennya, Kiril Valchev, memperoleh 58,1 persen suara.

Sementara itu, pasangan Andrey Gyurov dan Georgi Kandev memperoleh 38,9 persen suara, tertinggal 19,2 poin persentase dari pasangan Yotova dan Valchev.

Keunggulan tersebut membuka peluang bagi Yotova untuk memperoleh mandat langsung dari rakyat setelah sebelumnya menjabat sebagai presiden menggantikan Rumen Radev yang mengundurkan diri pada Januari 2026.

Meski demikian, hasil penghitungan paralel tersebut belum menjadi penetapan resmi karena kemenangan pasangan calon masih harus dikukuhkan oleh otoritas pemilihan Bulgaria.

Perjalanan Politik Iliana Yotova dari Parlemen Eropa hingga Presiden Bulgaria

Sebelum menduduki jabatan tertinggi di Bulgaria, Iliana Yotova telah memiliki pengalaman politik di tingkat internasional melalui kiprahnya sebagai anggota Parlemen Eropa.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan karier politiknya sebelum bergabung dengan Rumen Radev sebagai pasangan dalam pemilihan presiden Bulgaria.

Yotova kemudian menjabat sebagai wakil presiden selama dua periode kepemimpinan Radev dan memperoleh pengalaman panjang dalam menjalankan tugas di lingkungan kepresidenan.

Pada pemilihan presiden 2021, pasangan Rumen Radev dan Iliana Yotova kembali memenangkan pemungutan suara putaran kedua dengan perolehan 63,9 persen.

Kemenangan tersebut memperpanjang masa jabatan keduanya sekaligus memperkuat posisi Yotova dalam struktur kepemimpinan nasional Bulgaria.

Perubahan besar terjadi pada Januari 2026 ketika Radev memutuskan mengundurkan diri dari jabatan presiden untuk terlibat langsung dalam politik kepartaian.

Berdasarkan konstitusi Bulgaria, pengunduran diri presiden menyebabkan wakil presiden mengambil alih jabatan kepala negara sehingga Yotova secara otomatis menggantikan Radev.

Sejak saat itu, Yotova menjalankan tugas sebagai presiden Bulgaria sebelum mengikuti pemilihan untuk memperoleh mandat langsung dari masyarakat.

Setelah meninggalkan kursi kepresidenan, Radev mendirikan partai politik Progressive Bulgaria sebagai kendaraan politiknya dalam pemilihan parlemen.

Partai tersebut berhasil memperoleh 131 dari total 240 kursi Majelis Nasional Bulgaria dalam pemilihan parlemen April 2026.

Perolehan tersebut memberikan Progressive Bulgaria mayoritas mutlak di parlemen sekaligus memperkuat pengaruh politik Radev dalam pemerintahan nasional.

Progressive Bulgaria kemudian memberikan dukungan kepada Yotova dalam pemilihan presiden 2026.

Yotova Ungguli Andrey Gyurov dalam Pemilihan Presiden Putaran Kedua

Iliana Yotova mengikuti pemilihan presiden putaran pertama pada 25 Oktober 2026 dengan status sebagai presiden petahana yang berupaya memperoleh mandat pertamanya melalui pemilihan langsung.

Pada putaran pertama, pasangan Yotova dan Kiril Valchev menempati posisi teratas dengan perolehan 34,76 persen suara.

Pasangan Andrey Gyurov dan Georgi Kandev menyusul di posisi kedua dengan memperoleh 31,95 persen suara.

Selisih perolehan suara yang relatif tipis menunjukkan persaingan ketat antara kedua pasangan dalam tahap awal pemilihan.

Karena tidak ada pasangan yang memenuhi persyaratan kemenangan langsung pada putaran pertama, dua pasangan dengan suara terbanyak melanjutkan persaingan pada 1 November 2026.

Hasil penghitungan paralel putaran kedua menunjukkan peningkatan keunggulan Yotova dengan perolehan 58,1 persen suara dibandingkan Gyurov yang mendapatkan 38,9 persen.

Pemilihan presiden tersebut berlangsung di tengah ketidakstabilan politik Bulgaria yang ditandai dengan seringnya penyelenggaraan pemilihan parlemen.

Sejak April 2021, Bulgaria telah menyelenggarakan delapan kali pemilihan parlemen yang mencerminkan tantangan dalam membangun pemerintahan stabil dan berkelanjutan.

Perbedaan Sikap terhadap Perang Rusia-Ukraina Warnai Pilpres Bulgaria

Salah satu isu utama yang membedakan pandangan Iliana Yotova dan Andrey Gyurov selama kampanye adalah kebijakan luar negeri Bulgaria, khususnya terkait perang Rusia dan Ukraina.

Yotova mengambil posisi menentang pemberian bantuan militer tambahan dari Bulgaria kepada Ukraina karena menilai konflik tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan militer.

Ia lebih menekankan pentingnya diplomasi dan perundingan sebagai jalan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan.

Yotova juga menyerukan pembentukan "koalisi untuk perdamaian" yang berfokus pada upaya diplomatik guna mendorong penyelesaian perang Rusia-Ukraina.

Pandangan tersebut berbeda dengan sikap Gyurov yang mengkritik pengurangan dukungan terhadap Ukraina dan mendorong kerja sama lebih erat dengan negara-negara anggota NATO serta Uni Eropa.

Perbedaan kebijakan tersebut menjadikan arah hubungan internasional Bulgaria sebagai salah satu persoalan penting dalam persaingan kedua kandidat.

Selain mengutamakan diplomasi, Yotova menekankan pentingnya kemandirian Bulgaria dalam menentukan kebijakan luar negeri tanpa meninggalkan komitmen sebagai bagian dari "Eropa yang kuat."

Setelah memberikan hak suaranya dalam pemilihan putaran kedua, Yotova kembali menegaskan komitmennya terhadap pendekatan perdamaian.

"Saya memilih presiden perdamaian," kata Yotova setelah memberikan suaranya pada putaran kedua.

Yotova juga menginginkan Bulgaria menjadi negara yang "mengambil keputusannya sendiri," dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional dalam menentukan arah kebijakan.

Ia turut menekankan perlunya membangun konsensus nasional melalui dialog politik serta memperkuat lembaga negara agar dapat menjalankan fungsinya secara efektif.

Yotova Pernah Veto Aturan Pemilu untuk Lindungi Hak Pilih Warga Bulgaria

Dalam menjalankan tugas sebagai presiden sejak Januari 2026, Yotova pernah menggunakan kewenangan konstitusionalnya untuk memveto undang-undang terkait penyelenggaraan pemilihan umum.

Undang-undang tersebut mengatur pembatasan jumlah tempat pemungutan suara bagi warga negara Bulgaria yang tinggal di luar wilayah Uni Eropa.

Yotova menolak ketentuan tersebut karena menilai pembatasan tempat pemungutan suara berpotensi mengurangi kesempatan warga Bulgaria di luar negeri untuk menggunakan hak pilih.

Keputusan tersebut menjadi salah satu kebijakan yang diambil Yotova selama menjalankan tugas sebagai kepala negara.

Keunggulan Yotova dalam penghitungan paralel pemilihan presiden 2026 menjadi pencapaian penting setelah hampir satu dekade berkecimpung dalam institusi kepresidenan Bulgaria.

Perjalanan politiknya mencakup pengalaman sebagai anggota Parlemen Eropa, dua periode menjabat wakil presiden mendampingi Rumen Radev, hingga mengambil alih jabatan presiden pada Januari 2026.

Apabila hasil penghitungan paralel dikukuhkan oleh otoritas pemilihan, Yotova akan memperoleh mandat langsung sebagai presiden perempuan pertama Bulgaria yang terpilih melalui pemungutan suara rakyat.

Hasil pemilihan tersebut juga akan menentukan arah kepemimpinan Bulgaria dalam menghadapi tantangan stabilitas politik, kebijakan luar negeri, serta penguatan lembaga demokrasi nasional.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026