
Pantau - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mendorong generasi muda terlibat aktif dalam transformasi sektor pertanian nasional melalui pemanfaatan teknologi, digitalisasi, dan inovasi budidaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia yang berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Saleh dalam Forum Rembuk Pemuda Indonesia sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (3/11/2026), dengan menekankan pentingnya regenerasi petani dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian.
“Dalam rangka mewujudkan keberlanjutan dan kedaulatan pangan, peran pemuda sangat-sangat strategis. Pemudalah yang menjadi kreator modernisasi teknologi dan digitalisasi pangan, pemudalah yang menjadi inovator budidaya pertanian,” kata Saleh.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi tantangan pertanian nasional, termasuk perubahan iklim, ancaman krisis pangan global, dan perkembangan teknologi.
Pemerintah berharap kehadiran pemuda dapat mempercepat perubahan sektor pertanian menjadi lebih modern, produktif, efisien, dan memiliki daya tarik bagi generasi berikutnya.
Wamentan Dorong Pertanian Modern Berbasis Teknologi dan Digitalisasi
Saleh Mustafa menegaskan bahwa sektor pertanian perlu meninggalkan pandangan lama yang mengidentikkan pekerjaan petani dengan aktivitas konvensional dan menguras tenaga.
Perkembangan teknologi dinilai membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan berbagai inovasi dalam kegiatan produksi, pengelolaan lahan, hingga usaha pertanian.
"Pertanian tidak lagi harus identik dengan pekerjaan konvensional yang kotor dan melelahkan, tetapi dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi, digitalisasi, dan inovasi," ujarnya.
Pemanfaatan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Saleh, generasi muda memiliki kemampuan untuk menjadi penggerak modernisasi melalui pengembangan teknologi dan inovasi budidaya pertanian.
Keterlibatan pemuda juga diperlukan untuk membangun sektor pertanian yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pangan nasional.
Tenaga Kerja Pertanian Naik 4,66 Persen pada 2026
Wamentan Saleh mengungkapkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor pertanian menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026.
Berdasarkan data yang disampaikannya, tenaga kerja pertanian mengalami peningkatan sebesar 4,66 persen.
Kenaikan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperluas keterlibatan generasi muda, khususnya kelompok milenial, dalam pembangunan pertanian nasional.
"Tenaga kerja pertanian pun naik. Ke depannya, saya harapkan tenaga pertanian ini meningkat dari kalangan milenial," tutur Saleh.
Meski demikian, peningkatan jumlah pekerja dinilai perlu diimbangi dengan regenerasi petani dan penguatan kompetensi sumber daya manusia.
Kehadiran generasi milenial diharapkan membawa pendekatan baru dalam pengelolaan usaha pertanian melalui teknologi, inovasi, dan peningkatan efisiensi produksi.
Pemerintah juga mendorong agar sektor pertanian semakin menarik bagi generasi muda sehingga keberlanjutan tenaga kerja dan produksi pangan dapat terjaga.
Perubahan Iklim dan Krisis Pangan Global Jadi Tantangan Pertanian
Selain mendorong modernisasi pertanian, Saleh mengingatkan pentingnya kemampuan Indonesia dalam mengantisipasi berbagai ancaman terhadap ketahanan pangan nasional.
Sejumlah tantangan yang menjadi perhatian meliputi krisis pangan global, dinamika geopolitik, serta perubahan iklim yang dapat memengaruhi produksi pertanian.
Menurutnya, kemampuan membaca kondisi dan memperkirakan risiko menjadi bagian penting dalam menyusun kebijakan pertanian yang tepat.
Saleh menyoroti pentingnya intelijen pertanian sebagai instrumen untuk menganalisis perkembangan masa lalu, kondisi saat ini, serta memprediksi potensi ancaman pada masa mendatang.
Pendekatan tersebut diperlukan agar pemerintah dan pelaku pertanian dapat menyiapkan langkah antisipasi sebelum risiko berdampak terhadap produksi pangan.
Fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pola tanam, ketersediaan air, dan produktivitas pertanian.
Pemerintah Siapkan Adaptasi Iklim Lewat Perluasan Tanam dan Infrastruktur
Menghadapi perubahan iklim, Wamentan Saleh menekankan pentingnya strategi adaptasi yang mempertimbangkan kondisi alam.
Pemerintah mendorong sejumlah langkah untuk menjaga produksi pangan, termasuk peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT), optimalisasi penggunaan pompa air, dan penguatan infrastruktur pertanian.
Upaya tersebut diarahkan untuk membantu petani menghadapi perubahan pola cuaca serta menjaga keberlanjutan kegiatan produksi.
“Strategi untuk meningkatkan ketahanan pangan ini, kita tidak boleh melawan alam. Kita harus beradaptasi dengan alam,” tegasnya.
Menurut Saleh, penyesuaian strategi pertanian terhadap kondisi lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Keterlibatan generasi muda melalui inovasi teknologi juga diharapkan dapat mendukung penerapan strategi adaptasi tersebut di berbagai wilayah pertanian.
Generasi Muda Diajak Jadi Penggerak Kedaulatan Pangan Indonesia
Wamentan Saleh Mustafa mengajak pemuda untuk melihat sektor pertanian sebagai ruang pengabdian sekaligus peluang berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Menurutnya, kemajuan pertanian tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan sumber daya manusia dalam mengembangkan inovasi dan menghadapi tantangan masa depan.
Generasi muda diharapkan mampu mengambil peran dalam modernisasi teknologi, digitalisasi pangan, pengembangan budidaya, dan pengelolaan usaha pertanian yang produktif.
“Jadilah hidup kita bermanfaat bagi yang lain. Semoga pertanian Indonesia berdaulat dan Indonesia menjadi adil, makmur, dan sejahtera,” kata Saleh.
Melalui keterlibatan pemuda, penguatan sumber daya manusia, dan penerapan teknologi, pemerintah berharap transformasi pertanian nasional dapat mendukung terwujudnya kedaulatan pangan yang berkelanjutan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




