
Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.149 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (3/11/2026), seiring penurunan tajam harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah.
Penguatan tersebut terjadi dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp18.156 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat secara terbatas, meskipun pergerakannya cenderung berfluktuasi dalam kisaran sempit.
“Rupiah diperkirakan masih berfluktuatif dalam rentang ketat dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup besar oleh harapan pembicaraan damai Timteng (Timur Tengah),” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 8 Persen
Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang mendukung pergerakan rupiah pada awal perdagangan.
Mengutip laporan Anadolu, harga minyak Brent turun hingga berada di bawah 105 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak awal Oktober 2026.
Pada perdagangan Senin (2/11/2026) pukul 17.00 GMT, minyak Brent sebagai acuan internasional diperdagangkan pada harga 104,43 dolar AS per barel atau melemah 7,94 persen.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 7,62 dolar AS per barel atau 7,32 persen menjadi 96,50 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak tersebut terjadi ketika kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda akibat perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Perundingan AS-Iran Pengaruhi Sentimen Pasar
Menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei telah menyetujui langkah pemerintah untuk mengupayakan penyelesaian konflik melalui negosiasi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi telah bertukar pesan dengan Washington melalui mediator Qatar di Doha pada Senin (2/11/2026).
Baghaei juga menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz mensyaratkan pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu (31/10/2026) menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump lebih mengutamakan penyelesaian konflik melalui diplomasi.
Rubio juga menyebut Trump belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berhubungan dengan stabilitas pasokan energi global.
Investor Tunggu Data Ekonomi AS dan Indonesia
Selain perkembangan geopolitik, investor masih mencermati sejumlah agenda ekonomi penting yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Lukman mengatakan perhatian pasar tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk laporan JOLTS dan Non-Farm Payrolls (NFP), serta data aktivitas ekonomi dari Institute for Supply Management (ISM).
Dari dalam negeri, investor menantikan pengumuman pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2026 yang dijadwalkan pada Kamis (5/11/2026).
“Data AS di antaranya data pekerjaan Jolt dan NFP serta data ISM, dari domestik investor menantikan data PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal III Indonesia pada hari Kamis. PDB YoY (year on year) Indonesia diperkirakan 5,2 persen, turun dari 5,29 persen, sedangkan QoQ (quarter over quarter) tumbuh 1,3 persen, lebih rendah dari 3,73 persen sebelumnya,” ungkap Lukman.
Investor juga mencermati perkembangan menjelang pemilihan legislatif paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp18.100–Rp18.200
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen pasar saham yang relatif lemah.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan mata uang domestik meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan.
Dengan mempertimbangkan perkembangan harga energi, kondisi geopolitik, dan agenda data ekonomi, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS.
- Penulis :
- Aditya Yohan




