
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berbalik melemah 31,22 poin atau 0,61 persen ke level 5.065,61 pada perdagangan Selasa (3/11/2026) pukul 09.50 WIB, setelah sebelumnya dibuka menguat di tengah perhatian investor terhadap sentimen global dan domestik.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan penurunan 1,77 poin atau 0,34 persen menjadi 516,12.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif karena pelaku pasar mempertimbangkan perkembangan geopolitik, kebijakan suku bunga global, dan indikator ekonomi Indonesia.
Analis Perkirakan IHSG Berpotensi Menguji Level 4.980
Liza menyampaikan bahwa IHSG memiliki peluang menguat menuju area hambatan teknikal atau resistance pada level 5.182, 5.249, dan 5.268.
Namun, jika tekanan jual kembali meningkat, indeks berisiko menguji area penopang atau support pada level 4.980 dan 4.907.
“IHSG potensi bergerak di kisaran resistance 5.182 atau 5.249 atau 5.268. Sedangkan jika skenario kembali volatile melemah, IHSG diperkirakan rentan kembali menguji support terdekat di 4.980 atau 4.907. Jika breakdown IHSG bisa lanjut menuju support terdekat 4.800,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan IHSG masih menghadapi risiko penurunan apabila tekanan pasar berlanjut.
Perundingan AS-Iran dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Perhatian
Dari pasar global, investor mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah kedua negara kembali membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran menginginkan kesepakatan dan menilai peluang tercapainya penyelesaian masih terbuka.
Pemimpin Tertinggi Iran juga dilaporkan telah menyetujui upaya pemerintah untuk melanjutkan pembicaraan guna mengakhiri konflik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa Washington lebih mengutamakan penyelesaian diplomatik, sementara pejabat Iran menyebut pembicaraan melalui mediator Qatar masih memungkinkan tercapainya kesepakatan.
Di sisi kebijakan moneter, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1,25 persen sesuai ekspektasi pasar.
Investor juga menunggu keputusan suku bunga dari bank sentral Inggris, Australia, Norwegia, dan Swedia sepanjang pekan ini.
Selain itu, pemilihan legislatif paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026 menjadi perhatian karena hasilnya berpotensi memengaruhi kebijakan ekonomi dan regulasi.
PMI Manufaktur Indonesia Naik ke Level 54
Dari dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan peningkatan pada Oktober 2026.
Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur naik menjadi 54 dari 52,4 pada September 2026.
Angka tersebut merupakan tingkat ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.
Neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 juga mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Dengan capaian tersebut, surplus perdagangan kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 10,61 miliar dolar AS.
Nilai ekspor nasional tumbuh 5,58 persen secara tahunan menjadi 221,23 miliar dolar AS.
Sementara itu, inflasi Oktober tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan.
Inflasi sepanjang tahun kalender mencapai 2,4 persen atau masih berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen dengan toleransi satu persen.
Bursa Asia Bergerak Beragam, Wall Street Ditutup Variatif
Pergerakan bursa saham global turut menjadi perhatian investor pada perdagangan Selasa pagi.
Pada perdagangan Senin (2/11/2026), bursa Eropa ditutup menguat dengan indeks Euro Stoxx 50 naik 0,78 persen, FTSE 100 Inggris bertambah 0,29 persen, DAX Jerman meningkat 0,63 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,98 persen.
Sementara itu, Wall Street bergerak beragam dengan indeks S&P 500 turun 0,5 persen ke level 7.542,92 dan Nasdaq Composite melemah 1,1 persen menjadi 25.164,32.
Indeks Dow Jones Industrial Average justru naik 0,4 persen ke posisi 51.986,30.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei melemah 0,33 persen menjadi 63.081,86 dan Shanghai turun 0,86 persen ke posisi 3.606,74.
Indeks Hang Seng menguat 0,17 persen menjadi 23.466,95, sedangkan Kospi melemah 3,10 persen menjadi 5.675,17 dan Straits Times turun 0,57 persen menjadi 5.273,83.
Pergerakan bursa regional yang beragam tersebut berlangsung ketika pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi dan kebijakan global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




