HOME  ⁄  Geopolitik

Italia Desak Industri Pangan Perketat Keamanan Siber Setelah Serangan Rusak Bahan Makanan di Supermarket

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Italia Desak Industri Pangan Perketat Keamanan Siber Setelah Serangan Rusak Bahan Makanan di Supermarket
Foto: (Sumber :Ilusatrasi - Serangan siber. ANTARA/Anadolu/py/am..)

Pantau - Badan Keamanan Siber Nasional Italia mendesak peritel besar, operator logistik pangan, dan perusahaan pendingin industri memperkuat sistem keamanan siber setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas penyimpanan makanan terjadi di sejumlah negara Eropa.

Peringatan yang disampaikan pada Senin (2/11/2026) tersebut menyusul serangan siber yang mengganggu sistem pendingin sedikitnya empat supermarket Coop di Sisilia, Italia, hingga menyebabkan bahan pangan rusak.

Menurut laporan kantor berita Italia ANSA, serangan dilakukan dengan mengubah pengaturan suhu perangkat pendingin sehingga makanan tersimpan pada suhu yang melampaui batas aman.

Insiden tersebut kini diselidiki aparat keamanan Italia untuk mengungkap asal serangan dan kemungkinan keterkaitannya dengan kejadian serupa di negara Eropa lainnya.

Empat Supermarket Coop di Sisilia Jadi Sasaran Serangan Siber

Manajer Umum Grup Radenza, Giuseppe Spadaro, mengonfirmasi bahwa serangan menyasar sedikitnya tiga gerai supermarket Coop di Catania dan satu gerai di Palermo.

Grup Radenza merupakan perusahaan yang mengoperasikan sejumlah supermarket dengan merek Coop di Italia.

Serangan terhadap sistem pendingin menyebabkan suhu etalase penyimpanan makanan meningkat hingga melewati batas keamanan pangan.

"Serangan terjadi pada pukul 4 pagi. Kami sedang melakukan penilaian terhadap kerusakan yang ditimbulkan. Untuk beberapa kasus, masalah tersebut telah berhasil kami atasi," kata Spadaro.

Pihak perusahaan masih menghitung kerugian akibat kerusakan bahan pangan dan gangguan sistem pendingin.

Spadaro menyampaikan bahwa perusahaan telah menghubungi Badan Keamanan Siber Nasional Italia serta mengaktifkan prosedur penanganan dan penyelidikan lebih lanjut.

Polisi Siber Italia Selidiki Asal Serangan

Kepolisian khusus kejahatan siber Italia tengah menyelidiki sumber serangan dan cakupan gangguan terhadap sistem pendingin supermarket.

Penyidik juga mendalami kemungkinan hubungan antara serangan di Sisilia dan insiden serupa yang terjadi di sejumlah negara Eropa.

Pemerintah Italia dijadwalkan menggelar pertemuan pada Selasa (3/11/2026) di Palazzo Chigi untuk membahas perkembangan ancaman tersebut.

Pertemuan akan dipimpin Alfredo Mantovano, pejabat di kantor perdana menteri Italia, dan diperkirakan dihadiri para kepala badan intelijen serta Direktur Badan Keamanan Siber Nasional.

Pembahasan tersebut dilakukan menyusul meningkatnya perhatian terhadap keamanan sistem digital yang digunakan dalam penyimpanan dan distribusi pangan.

Serangan Serupa Dilaporkan Terjadi di Enam Negara Eropa

Gangguan terhadap sistem pendingin makanan sebelumnya juga dilaporkan terjadi di Belgia, Swedia, Luksemburg, Estonia, Belanda, dan Irlandia.

Di Belgia, kejaksaan federal telah memulai penyelidikan setelah sejumlah supermarket melaporkan adanya perubahan pengaturan perangkat pendingin secara jarak jauh.

Pelaku dilaporkan mengaktifkan fungsi pencairan es pada perangkat pendingin sehingga suhu penyimpanan meningkat melebihi batas yang diizinkan.

Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui pihak yang bertanggung jawab dan dampak serangan terhadap fasilitas penyimpanan pangan.

Uni Eropa Soroti Ancaman terhadap Rantai Pasok Pangan

Komisaris Pertanian dan Pangan Uni Eropa, Christophe Hansen, turut menyoroti serangkaian serangan siber yang menyasar sistem pendingin makanan.

Hansen menyebut insiden tersebut sebagai "upaya sengaja untuk mengganggu rantai pasok pangan kita dan merusak kepercayaan konsumen."

Ia menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke dalam pertemuan dengan para komisaris Uni Eropa lainnya dalam waktu dekat.

Serangkaian insiden tersebut mendorong perhatian pemerintah dan pelaku industri terhadap perlindungan sistem digital yang mengendalikan penyimpanan bahan pangan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026