HOME  ⁄  Geopolitik

Wapres JD Vance Sebut Negosiasi Damai AS-Iran Alami Kemajuan, Trump Tetap Siapkan Opsi Militer

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Wapres JD Vance Sebut Negosiasi Damai AS-Iran Alami Kemajuan, Trump Tetap Siapkan Opsi Militer
Foto: (Sumber :Arsip foto - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. /ANTARA/Anadolu Agency/pri..)

Pantau - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyatakan Washington telah mencapai kemajuan dalam perundingan damai dengan Iran dan optimistis penyelesaian konflik dapat dicapai melalui jalur diplomasi, meskipun opsi tindakan militer tetap disiapkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Vance kepada wartawan pada Senin (2/11/2026), setelah membahas perkembangan negosiasi dengan Presiden AS Donald Trump.

"Presiden dan saya sama-sama merasa cukup optimistis mengenai prospek tercapainya penyelesaian melalui negosiasi. Kami akan terus mengupayakannya," kata Vance.

Washington menegaskan bahwa salah satu tujuan utama perundingan adalah memastikan Iran tidak membangun kembali program nuklirnya.

Vance Sebut AS dan Iran Capai Kemajuan Perundingan

Vance mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Trump sebelum menyampaikan perkembangan negosiasi kepada wartawan.

"Saya baru saja berbicara dengan Presiden Amerika Serikat, sekitar satu jam yang lalu mengenai hal ini," kata Vance kepada para wartawan.

Menurutnya, pemerintah AS melihat adanya peluang untuk mencapai penyelesaian melalui perundingan dengan Teheran.

Namun, Vance mengakui bahwa proses diplomasi masih menghadapi ketidakpastian karena sikap Iran dinilai sulit diprediksi.

"Pihak Iran memang selalu agak sulit ditebak, dan seperti yang selalu dikatakan oleh Presiden, dia tetap menyiapkan opsi tindakan kinetik (militer). Dia juga menyiapkan opsi non-kinetik, namun kami jelas telah mencapai kemajuan. Kita lihat saja apakah kami bisa mencapai kemajuan lebih lanjut," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih mempertahankan pilihan tindakan militer maupun nonmiliter selama proses negosiasi berlangsung.

AS Tidak Tetapkan Tenggat Waktu bagi Iran

Vance juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan adanya batas waktu yang diberikan kepada Iran sebelum AS kembali melancarkan serangan.

"Tidak, kami tidak menetapkan tenggat waktu," jawab Vance.

Ia menegaskan bahwa fokus utama Washington adalah mencegah Iran membangun kembali program nuklir yang menurut AS telah dilumpuhkan.

"Setelah melumpuhkan program nuklir mereka, kami ingin memastikan bahwa mereka tidak membangunnya kembali atau mencoba untuk membangunnya kembali. Itulah hal yang paling penting bagi Amerika Serikat," tegasnya.

Vance menyebut AS menginginkan jaminan yang dapat diperiksa untuk memastikan komitmen Iran terhadap persoalan tersebut.

"Kami yakin ada jalan ke arah sana, tetapi hal itu benar-benar memerlukan komitmen yang tegas dan dapat diverifikasi bahwa mereka tidak akan membangun kembali program nuklir tersebut," tambahnya.

Trump Sebut Iran Ingin Mencapai Kesepakatan

Beberapa jam sebelum pernyataan Vance, Presiden Donald Trump juga menyampaikan perkembangan mengenai kemungkinan kesepakatan dengan Iran.

Trump berbicara dalam acara pembukaan kembali Lincoln Memorial Reflecting Pool di Washington pada Senin (2/11/2026).

"Mereka ingin membuat kesepakatan, dan itu bisa saja terjadi," kata Trump, seraya menambahkan bahwa Iran telah meminta Washington untuk berhenti menargetkan para pemimpin mereka, "dan kami akan memenuhinya."

Trump menyampaikan pernyataan tersebut ketika konflik antara AS dan Iran telah memasuki bulan kesembilan.

Meski kedua pejabat AS menyatakan optimisme, belum ada pengumuman mengenai kesepakatan damai akhir antara Washington dan Teheran.

Ketegangan Timur Tengah Berlanjut Sejak Februari

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut memicu tindakan balasan Iran di sejumlah wilayah Timur Tengah dan memperpanjang konflik regional.

Upaya diplomatik kemudian dilakukan untuk mencari penyelesaian atas perselisihan tersebut.

Pada Juni 2026, Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman sebagai bagian dari proses diplomasi.

Namun, ketegangan tetap berlanjut, terutama terkait pengaturan keamanan dan navigasi di Selat Hormuz.

Pemerintah AS menyatakan akan terus mengupayakan penyelesaian melalui negosiasi sambil mempertahankan opsi tindakan lain apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026