HOME  ⁄  Ekonomi

Inflasi Indonesia Turun Jadi 3,23 Persen, Ekonom Ingatkan Risiko Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Inflasi Indonesia Turun Jadi 3,23 Persen, Ekonom Ingatkan Risiko Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah
Foto: (Sumber :Arsip - Tangkapan Layar Analis Makroekonomi Bank Danamon Irman Faiz dari Youtube Bank Danamon. (ANTARA/ Muhammad Heriyanto).)

Pantau - Perlambatan inflasi Indonesia menjadi 3,23 persen secara tahunan pada Oktober 2026 dinilai memberikan ruang bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi, meskipun risiko kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah masih membayangi.

Ekonom Utama PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz mengatakan tekanan inflasi yang mulai mereda menjadi perkembangan positif dalam jangka pendek, tetapi penyusutan surplus perdagangan dapat mengurangi ketahanan ekonomi terhadap gejolak eksternal.

“Inflasi yang lebih rendah saat ini memberikan sedikit ruang, tetapi penyusutan surplus perdagangan akan mengurangi bantalan terhadap gejolak aliran modal,” kata Irman dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Inflasi Oktober Melandai, Tekanan Harga Inti Ikut Menurun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada Oktober 2026 turun menjadi 3,23 persen dibandingkan September sebesar 3,28 persen.

Inflasi inti juga melandai dari 2,84 persen menjadi 2,56 persen secara tahunan.

Sementara itu, inflasi bulanan Oktober tercatat sebesar 0,22 persen, dengan inflasi inti bulanan hanya 0,12 persen.

Menurut Irman, perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga relatif terbatas dan memberikan ruang untuk mempertahankan stabilitas perekonomian.

Namun, ia mengingatkan bahwa risiko dari luar negeri tetap perlu diwaspadai karena dapat kembali meningkatkan biaya produksi dan harga barang di dalam negeri.

Kenaikan Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah Berisiko Dorong Inflasi

Irman menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor energi.

Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku dan energi impor.

“Harga minyak yang lebih tinggi akan meningkatkan permintaan valuta asing dan biaya produksi, sementara risiko pelemahan rupiah yang berkelanjutan dapat memperbesar biaya bahan baku impor, transportasi, dan distribusi,” ujarnya.

Menurutnya, besarnya kenaikan biaya yang diteruskan kepada konsumen akan bergantung pada daya beli masyarakat, kemampuan perusahaan menyerap tambahan biaya, dan kebijakan harga energi pemerintah.

Selain energi, kenaikan harga pangan juga masih menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi.

BPS mencatat inflasi kelompok harga bergejolak pada Oktober mencapai 5,81 persen secara tahunan, terutama dipengaruhi kenaikan harga cabai dan tomat.

Kelompok tersebut menyumbang 0,13 poin persentase terhadap inflasi bulanan Oktober, sementara kenaikan tarif angkutan udara turut memberikan tekanan harga.

Surplus Perdagangan Indonesia Menyusut pada September 2026

Dari sektor perdagangan luar negeri, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS atau sekitar Rp61,02 triliun.

Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan surplus Agustus sebesar 3,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp64,47 triliun.

Surplus September didukung peningkatan ekspor produk terkait minyak sawit dan mesin listrik serta penurunan impor minyak dan gas sebesar 7,4 persen secara bulanan.

Penurunan impor tersebut membuat defisit perdagangan migas menyempit menjadi 2,32 miliar dolar AS dari sebelumnya 2,54 miliar dolar AS.

Namun, Irman memperkirakan surplus perdagangan berpotensi kembali menurun menjelang akhir tahun akibat meningkatnya kebutuhan impor energi dan bahan produksi.

“Kami memperkirakan surplus perdagangan akan menyusut cukup besar menjelang akhir tahun karena penurunan impor energi pada September bersifat sementara,” ujar dia.

Peningkatan kebutuhan impor tersebut diperkirakan sejalan dengan aktivitas industri dalam negeri yang terus berkembang.

Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober dari 52,4 pada September.

Sementara itu, surplus perdagangan kumulatif Januari hingga September 2026 tercatat sebesar 10,61 miliar dolar AS atau sekitar Rp192,69 triliun.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus sebesar 33,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp609,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Danamon Proyeksikan BI-Rate Capai 6,25 Persen pada Akhir 2026

Irman menilai penyusutan surplus perdagangan membuat pengelolaan likuiditas dan stabilitas nilai tukar rupiah semakin penting.

Menurutnya, intervensi di pasar valuta asing dapat diperlukan untuk meredam tekanan terhadap rupiah akibat perubahan arus modal.

Penyesuaian suku bunga juga dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan daya tarik aset berdenominasi rupiah.

“Kami mempertahankan proyeksi BI-Rate pada akhir 2026 sebesar 6,25 persen, dengan stabilitas eksternal tetap menjadi pertimbangan utama,” tutur Irman.

Sebelumnya, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi.

Bank Indonesia menyatakan inflasi Oktober masih berada dalam rentang sasaran 2,5 persen dengan toleransi satu poin persentase.

Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat pengendalian pasokan serta harga pangan, termasuk mengantisipasi gangguan produksi akibat perubahan cuaca.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026