HOME  ⁄  Ekonomi

BI Prediksi Perdagangan Bali Menguat pada Triwulan IV 2026, Libur Akhir Tahun Dongkrak Pariwisata dan UMKM

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BI Prediksi Perdagangan Bali Menguat pada Triwulan IV 2026, Libur Akhir Tahun Dongkrak Pariwisata dan UMKM
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Sejumlah wisatawan memadati kawasan wisata kuliner di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali. ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.)

Pantau - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memperkirakan sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penopang utama kinerja dunia usaha di Bali pada triwulan IV 2026, seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan permintaan masyarakat menjelang libur akhir tahun.

Hasil survei dunia usaha BI menunjukkan saldo bersih tertimbang (SBT) pada periode Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 47,76 persen atau tetap berada dalam rentang positif.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan peningkatan aktivitas ekonomi diperkirakan didorong oleh konsumsi domestik serta kelancaran distribusi barang selama musim liburan.

“Kami perkirakan permintaan domestik dan distribusi barang menguat,” kata Achris di Denpasar, Bali, Selasa (3/11/2026).

Menurut BI, aktivitas pariwisata yang terus berlangsung turut meningkatkan permintaan terhadap produk makanan, minuman, serta berbagai produk industri lokal.

Perdagangan dan Pariwisata Jadi Penggerak Ekonomi Bali

BI memperkirakan sektor perdagangan besar dan eceran akan mengalami penguatan pada tiga bulan terakhir 2026 karena meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pergantian tahun.

Pertumbuhan aktivitas perdagangan tersebut berkaitan erat dengan sektor pariwisata yang masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Bali.

Kunjungan wisatawan dan kegiatan ekonomi pendukung pariwisata mendorong permintaan berbagai kebutuhan konsumsi, terutama produk makanan dan minuman.

Peningkatan aktivitas wisata juga diperkirakan memberikan dampak terhadap kinerja usaha akomodasi, restoran, dan transportasi.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara sektor pariwisata dan berbagai kegiatan usaha lain di Bali.

Menurut BI, aktivitas pariwisata menghasilkan efek pengganda terhadap perdagangan dan industri lokal karena meningkatnya kebutuhan barang dan jasa.

Penguatan permintaan domestik juga diperkirakan mendukung aktivitas distribusi barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta wisatawan selama periode liburan.

Survei BI Catat SBT Dunia Usaha Bali Sebesar 47,76 Persen

Proyeksi kinerja dunia usaha Bali pada triwulan IV 2026 didasarkan pada survei yang dilakukan Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali.

Hasil survei menunjukkan saldo bersih tertimbang diperkirakan mencapai 47,76 persen pada periode tersebut.

SBT merupakan indikator yang digunakan BI untuk mengukur perkembangan kegiatan usaha berdasarkan jawaban responden survei.

Penghitungan dilakukan dengan mencari selisih antara persentase responden yang melaporkan peningkatan kegiatan usaha dan responden yang melaporkan penurunan, kemudian memperhitungkan bobot masing-masing sektor.

Nilai SBT yang berada pada rentang positif menunjukkan bahwa kegiatan dunia usaha secara umum diperkirakan masih mengalami peningkatan.

BI menilai proyeksi tersebut sejalan dengan potensi meningkatnya aktivitas pariwisata dan perdagangan menjelang akhir tahun.

Sektor perdagangan besar dan eceran diperkirakan menjadi salah satu penerima manfaat dari meningkatnya permintaan produk lokal dan kebutuhan konsumsi wisatawan.

BI Dorong Perbankan Tingkatkan Pembiayaan UMKM

Penguatan aktivitas perdagangan dan pariwisata dinilai membuka peluang bagi lembaga jasa keuangan untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Peningkatan pembiayaan diperlukan untuk mendukung kebutuhan modal usaha, distribusi barang, serta pengembangan kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

BI terus memperkuat kebijakan makroprudensial guna mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan ke sektor riil.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong perbankan meningkatkan pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas.

Melalui kebijakan tersebut, BI memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang memenuhi ketentuan penyaluran kredit atau pembiayaan.

Berdasarkan catatan bank sentral, total insentif KLM yang diterima perbankan secara nasional hingga minggu pertama Oktober 2026 mencapai Rp458,5 triliun.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendukung penyaluran pembiayaan bagi dunia usaha, termasuk sektor perdagangan dan UMKM.

BI Turunkan Giro Wajib Minimum Mulai Desember 2026

Selain memperkuat insentif pembiayaan, Bank Indonesia juga menyiapkan langkah untuk meningkatkan kecukupan likuiditas rupiah dalam sistem perbankan.

Kebijakan tersebut dilakukan melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap.

Untuk bank umum konvensional, GWM akan diturunkan sebesar dua poin persentase dari sembilan persen menjadi tujuh persen.

Sementara itu, ketentuan GWM bagi bank umum syariah ditetapkan sebesar 5,5 persen mulai 1 Desember 2026.

Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari upaya BI memperkuat ketersediaan likuiditas perbankan agar penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor prioritas dapat meningkat.

Dengan dukungan aktivitas pariwisata, perdagangan, serta kebijakan pembiayaan, kinerja dunia usaha Bali diperkirakan tetap berada dalam kondisi positif hingga akhir 2026.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026