HOME  ⁄  Ekonomi

Harga Cabai Rawit Tembus Rp88.642 per Kilogram, Surabaya Genjot Penanaman di Pekarangan untuk Tekan Inflasi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Harga Cabai Rawit Tembus Rp88.642 per Kilogram, Surabaya Genjot Penanaman di Pekarangan untuk Tekan Inflasi
Foto: (Sumber :Arsip - Petani memanen cabai di kawasan Lakarsantri, Surabaya, Jawa Timur belum lama ini. Pemkot Surabaya terus menggenjot produksi dan penanaman cabai melalui kelompok tani serta program urban farming guna menjaga stabilitas pasokan dan menekan harga menjelang akhir tahun. ANTARA/Diskominfo Surabaya..)

Pantau - Harga cabai rawit nasional mencapai rata-rata Rp88.642 per kilogram pada Oktober 2026, melampaui batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram, sehingga upaya peningkatan produksi melalui pertanian perkotaan menjadi salah satu langkah untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai merah pada pekan keempat Oktober 2026 meningkat 23,47 persen dibandingkan September, sedangkan harga cabai rawit naik 12,49 persen.

Dibandingkan Desember 2025, kenaikan harga cabai rawit bahkan mencapai 29,71 persen.

Lonjakan harga tersebut terjadi di berbagai daerah, dengan kenaikan harga cabai merah tercatat di 327 kabupaten dan kota serta cabai rawit di 269 kabupaten dan kota.

Di Surabaya, Jawa Timur, pemerintah kota terus mendorong penanaman cabai melalui kelompok tani dan program pertanian perkotaan atau urban farming untuk memperkuat pasokan menjelang akhir 2026.

Harga Cabai Merah dan Rawit Naik di Ratusan Daerah

Kenaikan harga cabai menjadi salah satu perhatian dalam pengendalian inflasi pangan menjelang akhir tahun.

Berdasarkan data BPS, harga cabai merah meningkat 23,47 persen pada pekan keempat Oktober dibandingkan September 2026.

Sementara itu, cabai rawit mengalami kenaikan sebesar 12,49 persen dalam periode yang sama.

Harga rata-rata nasional cabai rawit mencapai Rp88.642 per kilogram atau Rp31.642 lebih tinggi dibandingkan batas atas HAP sebesar Rp57.000 per kilogram.

Kenaikan harga cabai merah terjadi di 327 kabupaten dan kota, sedangkan cabai rawit mengalami kenaikan di 269 kabupaten dan kota.

Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga cabai terjadi di banyak wilayah Indonesia.

Cabai Jadi Penyumbang Inflasi Jawa Timur pada Oktober 2026

BPS Jawa Timur mencatat inflasi bulanan provinsi tersebut sebesar 0,07 persen pada Oktober 2026.

Sementara itu, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat mencapai 3,09 persen.

Cabai merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,05 poin persentase.

Cabai rawit turut memberikan andil sebesar 0,02 poin persentase terhadap inflasi bulanan.

Selain kedua jenis cabai tersebut, komoditas tomat, labu siam, dan ikan bandeng juga menjadi pendorong inflasi di Jawa Timur.

Kenaikan harga cabai turut memengaruhi pengeluaran rumah tangga karena komoditas tersebut banyak digunakan sebagai bahan pelengkap makanan sehari-hari.

Cuaca dan Keterbatasan Air Hambat Produksi Cabai

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produksi dan ketersediaan cabai di pasaran.

BPS Jawa Timur mencatat sebagian besar wilayah provinsi tersebut belum memasuki musim hujan hingga Oktober 2026.

Keterbatasan air dan kondisi cuaca yang kurang mendukung menyebabkan kerusakan tanaman serta penurunan hasil panen di sejumlah wilayah.

Penurunan produksi tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan cabai yang tersedia di pasar.

Secara nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran di 529 zona musim.

Wilayah yang mengalami kemunduran awal musim hujan tersebut mencakup sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengingatkan bahwa permintaan cabai cenderung meningkat menjelang akhir tahun.

Meskipun pasokan nasional diperkirakan mencukupi, kelancaran distribusi dari sentra produksi menuju daerah konsumen tetap menjadi faktor penting dalam menjaga harga.

Pemkot Surabaya Dorong Penanaman Cabai melalui Pertanian Perkotaan

Pemerintah Kota Surabaya terus menggenjot produksi dan penanaman cabai melalui kelompok tani serta program pertanian perkotaan.

Program tersebut memanfaatkan lahan yang tersedia di kawasan perkotaan untuk mendukung produksi pangan, termasuk cabai.

Kegiatan budidaya cabai juga dilakukan oleh petani di kawasan Lakarsantri, Surabaya, Jawa Timur.

Peningkatan penanaman diarahkan untuk membantu menjaga ketersediaan cabai di tengah tekanan harga menjelang akhir tahun.

Dalam artikel opini yang diterbitkan ANTARA pada Rabu, 4 November 2026, Abdul Hakim menyoroti potensi pemanfaatan pekarangan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan perkotaan.

Pengembangan pertanian perkotaan dinilai perlu didukung data, pendampingan, dan jaringan distribusi agar manfaatnya dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Langkah tersebut dapat melengkapi upaya pengendalian harga melalui peningkatan produksi di sentra pertanian dan perbaikan distribusi pangan.

Dengan harga cabai rawit yang telah melampaui HAP, penguatan produksi lokal dan kelancaran pasokan menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas harga pangan menjelang akhir 2026.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026