HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.168 per Dolar AS, Penurunan Surplus Perdagangan Indonesia Tekan Nilai Tukar

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp18.168 per Dolar AS, Penurunan Surplus Perdagangan Indonesia Tekan Nilai Tukar
Foto: Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta (sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.168 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2026), dipengaruhi sentimen penurunan surplus perdagangan Indonesia dan perkembangan ekonomi global.

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah pada perdagangan sebelumnya ditutup di level Rp18.160 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan bahwa penurunan surplus perdagangan Indonesia menjadi salah satu faktor domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah.

"Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11/2026) menyampaikan bahwa Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Meski masih mencatatkan surplus, angka tersebut lebih rendah dibandingkan 3,55 miliar dolar AS pada Agustus," ucap Amru kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Surplus perdagangan Indonesia pada September 2026 tercatat turun sebesar 190 juta dolar AS dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 3,55 miliar dolar AS.

Meskipun neraca perdagangan masih mencatatkan surplus, penurunan tersebut memberikan sentimen terhadap pasar valuta asing, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk transaksi perdagangan internasional.

Surplus Perdagangan Menurun, Pertumbuhan Impor Lampaui Ekspor

Amru menjelaskan bahwa pertumbuhan impor Indonesia tercatat mencapai 18,41 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 11,87 persen.

Peningkatan impor terutama terjadi pada kelompok barang modal dan bahan baku yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi serta aktivitas industri dalam negeri.

Pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan sektor industri terhadap berbagai komponen produksi dari luar negeri.

Namun, peningkatan impor juga berpotensi menambah permintaan valuta asing, khususnya dolar AS, yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dari pasar internasional.

Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap rupiah apabila peningkatan permintaan dolar AS tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan valuta asing yang memadai.

Dengan demikian, meskipun Indonesia masih mempertahankan surplus perdagangan, pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Data Tenaga Kerja AS dan Kebijakan The Fed Pengaruhi Pergerakan Rupiah

Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan ekonomi Amerika Serikat, terutama kondisi pasar tenaga kerja dan ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dirilis pada Selasa (3/11/2026) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat mencapai 7,52 juta.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar dan memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat.

Kuatnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat berpotensi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih lama.

Ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan dolar AS terhadap berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) pada perdagangan Rabu dilaporkan mengalami koreksi sekitar 0,40 persen menuju level 101,46.

Penurunan indeks dolar AS tersebut menunjukkan adanya pelemahan mata uang Amerika Serikat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

"Koreksi dolar AS tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik, meskipun tekanan dari faktor domestik masih perlu diperhatikan," ungkap Amru.

Pasar Menanti Data Ekonomi AS dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Rabu malam, terutama laporan ketenagakerjaan ADP dan indeks aktivitas sektor jasa ISM Services PMI.

Laporan ketenagakerjaan ADP menjadi indikator untuk melihat perkembangan jumlah tenaga kerja sektor swasta di Amerika Serikat.

Sementara itu, ISM Services PMI memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi sektor jasa yang menjadi salah satu komponen penting dalam perekonomian AS.

Kedua indikator tersebut diperkirakan memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa waktu mendatang.

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis (5/11/2026).

Data tersebut dinilai penting untuk memberikan gambaran mengenai kondisi fundamental perekonomian nasional di tengah dinamika perdagangan internasional dan ketidakpastian ekonomi global.

"Data ini diperkirakan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global," kata Amru.

Kurs JISDOR Bank Indonesia Justru Menguat ke Rp18.140 per Dolar AS

Di tengah pelemahan rupiah pada perdagangan pasar valuta asing, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang ditetapkan Bank Indonesia justru menunjukkan penguatan.

Kurs JISDOR Bank Indonesia pada Rabu (4/11/2026) tercatat berada di level Rp18.140 per dolar AS, menguat 8 poin dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.148 per dolar AS.

Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kurs penutupan pasar valuta asing dan kurs referensi JISDOR mencatatkan arah perubahan yang berbeda pada perdagangan Rabu.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global, mulai dari penurunan surplus perdagangan Indonesia, pertumbuhan impor yang melampaui ekspor, hingga perkembangan indikator ekonomi Amerika Serikat.

Pelaku pasar akan terus mencermati data ekonomi terbaru dari kedua negara untuk menilai prospek pergerakan rupiah dan arah kebijakan moneter dalam periode mendatang.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026