HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat 98 Poin ke Rp18.070 per Dolar AS, Kemenangan Demokrat dan Anjloknya Harga Minyak Jadi Pendorong

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat 98 Poin ke Rp18.070 per Dolar AS, Kemenangan Demokrat dan Anjloknya Harga Minyak Jadi Pendorong
Foto: (Sumber :Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye..)

Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 98 poin ke posisi Rp18.070 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (5/11/2026), dipengaruhi kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum paruh waktu AS serta penurunan harga minyak mentah dunia.

Rupiah sebelumnya ditutup pada level Rp18.168 per dolar AS sebelum mengalami penguatan seiring membaiknya sentimen investor terhadap aset berisiko.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan hasil pemilu paruh waktu AS memunculkan ekspektasi perubahan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump.

“Dengan kemenangan Partai Demokrat, timbul ekspektasi bahwa Partai Demokrat akan membatasi ruang pemerintahan Trump terkait kebijakan tarif, pajak, defisit anggaran pemerintah, penerbitan obligasi pemerintah, sehingga mendorong investor global mengatur ulang portofolio investasinya lebih ke risk on,” ungkap Rully kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Kemenangan Demokrat Tekan Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi

Rully menjelaskan bahwa kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS mendorong pelaku pasar memperkirakan adanya pembatasan terhadap sejumlah kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.

Kebijakan yang menjadi perhatian investor mencakup tarif perdagangan, perpajakan, defisit anggaran, serta penerbitan surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Perubahan ekspektasi tersebut mendorong investor global menyesuaikan portofolio investasi dengan meningkatkan minat terhadap aset berisiko atau risk on.

Perkembangan ini turut memengaruhi pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat dan pergerakan indeks dolar AS.

Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tercatat turun 10,1 basis poin menjadi 4,86 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS melemah ke level 101,3.

Pelemahan dolar AS tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan.

Harga Minyak Brent Anjlok Lebih dari 8 Persen

Selain hasil pemilu AS, penurunan tajam harga minyak mentah dunia turut menjadi faktor yang memengaruhi penguatan rupiah.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Anadolu, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 8 persen hingga mendekati 95 dolar AS per barel.

Pada perdagangan Rabu (4/11/2026) pukul 18.50 GMT, harga minyak Brent turun sebesar 8,55 dolar AS atau 8,25 persen menjadi 95,05 dolar AS per barel.

Penurunan tersebut membuat harga minyak Brent berada di bawah level 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam satu bulan.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga mengalami penurunan signifikan.

Harga minyak WTI tercatat melemah sebesar 7,81 dolar AS atau 8,13 persen menjadi 88,28 dolar AS per barel.

Penurunan harga kedua jenis minyak mentah tersebut menjadi bagian dari perkembangan pasar global yang turut memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen Domestik Ikut Mendukung Penguatan Rupiah

Dari dalam negeri, perbaikan sentimen pasar tercermin melalui penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia.

Imbal hasil surat utang pemerintah RI tercatat melandai ke level 7,67 persen.

Pergerakan tersebut berlangsung di tengah perhatian pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2026.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan lebih kuat dibandingkan kuartal sebelumnya turut menjadi faktor pendukung sentimen domestik.

Dengan kombinasi perkembangan politik Amerika Serikat, pelemahan dolar, penurunan harga minyak, dan pergerakan pasar obligasi domestik, rupiah berhasil mengawali perdagangan Kamis di zona penguatan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026