
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 86 poin atau 0,47 persen menjadi Rp18.082 per dolar AS pada perdagangan Kamis, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp18.168 per dolar AS.
Penguatan mata uang Indonesia tersebut terutama dipengaruhi pelemahan dolar AS di pasar keuangan global, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta sentimen positif dari pertumbuhan ekonomi domestik.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan bahwa tekanan terhadap dolar AS memberikan peluang bagi rupiah untuk mencatatkan penguatan.
"Penguatan ini terutama didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik," ujar Amru di Jakarta, Kamis.
Menurut Amru, pelemahan dolar AS terjadi setelah hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan global.
Selain faktor politik, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menekan dolar karena membuat aset investasi berdenominasi mata uang tersebut menjadi relatif kurang menarik bagi investor.
"Kondisi ini memberikan dukungan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," kata Amru.
Pelemahan Dolar AS dan Harga Minyak Dunia Dukung Rupiah
Melemahnya dolar AS di pasar global memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih kuat terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan minat investor terhadap aset keuangan global.
Selain itu, pelemahan harga minyak dunia turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan nilai tukar rupiah.
Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan biaya impor energi Indonesia sehingga dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar mata uang nasional.
Meski demikian, Amru mengingatkan bahwa sejumlah indikator perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat.
Berdasarkan laporan ADP, jumlah tenaga kerja swasta Amerika Serikat bertambah sebanyak 86 ribu orang pada Oktober 2026, melampaui perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan 69 ribu tenaga kerja.
Aktivitas sektor jasa Amerika Serikat juga masih berada dalam fase ekspansi, sebagaimana tercermin dari indeks Institute for Supply Management (ISM) Services Purchasing Managers' Index (PMI) yang tercatat pada level 54,5.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan kemungkinan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed diperkirakan masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang.
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, Lampaui Ekspektasi Pasar
Dari sisi domestik, penguatan rupiah turut mendapat dukungan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang mencapai 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen sekaligus melampaui perkiraan pasar.
Kinerja ekonomi yang lebih baik dari ekspektasi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Amru menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor yang memberikan kontribusi terhadap aktivitas perekonomian.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia masih cukup kuat, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor. Kondisi ini turut memberikan kepercayaan bagi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia," ujar Amru.
Menurut Amru, kombinasi pelemahan dolar AS dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui perkiraan memberikan peluang bagi rupiah untuk melanjutkan tren penguatan.
Meski demikian, pergerakan nilai tukar tetap berpotensi mengalami fluktuasi akibat perubahan kondisi ekonomi dan sentimen pasar keuangan internasional.
Kurs JISDOR Bank Indonesia Turut Menguat
Penguatan rupiah juga tercermin dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.
Berdasarkan data JISDOR, nilai tukar rupiah tercatat menguat menjadi Rp18.094 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.140 per dolar AS.
Dengan demikian, kurs JISDOR menunjukkan penguatan rupiah sebesar 46 poin terhadap dolar AS.
Pergerakan tersebut sejalan dengan penguatan rupiah di pasar valuta asing yang mendapat dukungan dari faktor eksternal maupun domestik.
Amru menilai bahwa rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan apabila tekanan terhadap dolar AS berlanjut dan kondisi ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif.
Namun, pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati perkembangan indikator ekonomi Amerika Serikat, terutama data ketenagakerjaan, aktivitas sektor jasa, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
Perubahan sentimen investor global dan dinamika pasar keuangan internasional juga berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam perdagangan berikutnya.
Secara keseluruhan, pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, harga minyak dunia yang melemah, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi faktor utama yang mendukung penguatan rupiah pada perdagangan Kamis.
- Penulis :
- Leon Weldrick




