
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 74,43 poin atau 1,48 persen ke level 4.955,83 pada pembukaan perdagangan Jumat (6/11/2026), mengikuti tekanan jual di bursa saham Asia dan global.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan penurunan 7,39 poin atau 1,44 persen ke posisi 506,25.
Tekanan pasar dipengaruhi sejumlah sentimen global, termasuk kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat, ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS, serta perkembangan konflik antara Washington dan Teheran.
Analis Ingatkan Investor Waspadai Koreksi IHSG
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan IHSG masih memiliki peluang menguat, tetapi investor perlu mewaspadai risiko koreksi lanjutan.
Dalam kajiannya, Liza menyebut sejumlah level teknikal yang perlu diperhatikan pelaku pasar untuk menentukan arah pergerakan indeks.
"IHSG masih ada peluang lanjut ke resistance terdekat 5.072 atau 5.129 dan 5.143. Selain itu antisipasi jika koreksi, IHSG kembali menguji support terdekat 4.980 atau 4.907 atau 4.824. Investor disarankan tetap berhati-hati dan menunggu konfirmasi sinyal yang jelas," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Level resistance merupakan area yang berpotensi menjadi hambatan kenaikan indeks, sedangkan support merupakan area yang diperhatikan untuk melihat kemungkinan tertahannya penurunan.
Pelemahan IHSG pada awal perdagangan membawa indeks ke bawah level 4.980 yang disebut sebagai salah satu area support terdekat.
Kemenangan Demokrat dan Kebijakan The Fed Tekan Sentimen Global
Liza menjelaskan bahwa kemenangan Partai Demokrat yang menguasai Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat memunculkan ekspektasi perubahan arah kebijakan Washington.
Salah satu perhatian investor adalah kemungkinan penerapan regulasi lebih ketat terhadap pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selain perkembangan politik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Menurut Liza, pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 75 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada bulan berikutnya.
"Ekspektasi tersebut didukung ketahanan sejumlah indikator ekonomi, meskipun investor masih menunggu laporan ketenagakerjaan AS untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai kondisi pasar tenaga kerja," ujar Liza.
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam memperkirakan keputusan kebijakan moneter berikutnya.
Konflik AS-Iran dan Keamanan Pelayaran Jadi Perhatian Investor
Perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Liza mengatakan kemenangan Partai Demokrat memunculkan harapan terhadap penyelesaian konflik melalui pendekatan diplomatik.
Iran dilaporkan sedang meninjau proposal yang disampaikan melalui mediator regional, meskipun kedua negara belum mencapai kesepakatan mengenai persyaratannya.
Di sisi lain, risiko keamanan pelayaran di kawasan Teluk Persia masih menjadi perhatian.
Sedikitnya lima insiden yang berkaitan dengan kapal dilaporkan terjadi sejak Minggu (1/11/2026).
"Meski ekspor minyak mentah kawasan Teluk mulai mendekati level sebelum perang, ancaman terhadap jalur perdagangan dan kenaikan biaya transportasi masih menjadi risiko," ujar Liza.
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen pada Kuartal III 2026
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 tercatat sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen.
Konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi gabungan sebesar 82,78 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan, didukung peningkatan aktivitas restoran, hotel, dan transportasi.
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi meningkat 6,06 persen secara tahunan.
Pertumbuhan investasi tersebut antara lain ditopang kenaikan investasi kendaraan sebesar 12,96 persen.
Konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,95 persen secara tahunan, seiring peningkatan belanja pegawai aparatur sipil negara dan realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski ekonomi mengalami percepatan, kontribusi pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga dan investasi tercatat sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
"Dukungan stimulus pemerintah, membaiknya ekspektasi pelaku usaha, serta penguatan konsumsi dan investasi diharapkan menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," ujar Liza.
Wall Street dan Bursa Asia Serentak Melemah
Tekanan pasar global terlihat dari penurunan tajam indeks saham utama Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (5/11/2026).
Indeks S&P 500 melemah 4,36 persen, Nasdaq Composite turun 5,52 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 3,44 persen.
Bursa Eropa juga mayoritas berakhir di zona merah dengan Euro Stoxx 50 turun 0,29 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,43 persen, dan DAX Jerman turun 0,43 persen.
Sementara itu, indeks CAC 40 Prancis bergerak berlawanan arah dengan kenaikan 0,34 persen.
Pelemahan berlanjut ke pasar saham Asia pada perdagangan Jumat pagi.
Indeks Nikkei Jepang turun 5,19 persen ke level 57.908,86, sedangkan Kospi Korea Selatan melemah 3,53 persen ke posisi 5.192,62.
Indeks Shanghai turun 1,10 persen ke 3.652,74 dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,40 persen ke 24.696,95.
Adapun indeks Straits Times Singapura terkoreksi 2,27 persen ke posisi 5.173,99.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual terjadi secara luas di pasar saham global, sementara investor domestik masih mencermati perkembangan ekonomi dan kebijakan internasional untuk menentukan arah investasi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




