
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menetapkan penanganan banjir di Kali Prancis, Kota Tangerang, Banten, sebagai prioritas pemerintah untuk menjaga mobilitas masyarakat dan kelancaran operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Langkah tersebut dilakukan menyusul kejadian banjir yang sebelumnya mengganggu akses menuju bandara dan menyebabkan penundaan lebih dari 150 penerbangan.
AHY menyampaikan hal itu setelah meninjau kondisi Kali Prancis bersama jajaran pemerintah daerah di Tangerang, Jumat (6/11/2026).
Pemerintah kini melakukan normalisasi sungai, menyiapkan pompa air, serta merencanakan pembangunan kolam retensi untuk mengurangi risiko banjir menjelang periode Januari dan Februari 2027.
Banjir Kali Prancis Pernah Ganggu Lebih dari 150 Penerbangan
AHY mengatakan kawasan sekitar Kali Prancis merupakan salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus karena banjir berulang kali terjadi, terutama pada awal tahun.
"Permasalahan banjir ini kerap kali terjadi, terutama yang sangat diwaspadai adalah di bulan-bulan Januari dan Februari," ujar AHY.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, banjir pada Januari 2025 dan awal 2026 sempat mengganggu mobilitas masyarakat menuju kawasan Bandara Soekarno-Hatta.
Genangan yang terjadi juga berdampak langsung terhadap kelancaran operasional penerbangan.
Dalam laporan tersebut, penundaan penerbangan tercatat mencapai 20 persen dan melibatkan lebih dari 150 penerbangan.
Kondisi itu memengaruhi tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance serta aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan transportasi udara.
Karena itu, pemerintah memandang penanganan banjir di kawasan tersebut penting untuk mengurangi risiko gangguan serupa.
Sedimentasi dan Pendangkalan Sungai Jadi Penyebab Utama
Dari hasil peninjauan lapangan bersama kepala daerah, AHY menyebut sedimentasi dan pendangkalan Kali Prancis beserta anak-anak sungainya sebagai faktor utama penyebab banjir.
Penumpukan sedimen mengurangi kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko luapan ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah sedang melakukan normalisasi Kali Prancis menggunakan sejumlah ponton ekskavator.
Pekerjaan tersebut bertujuan mengembalikan kapasitas tampungan sungai dan memperlancar aliran air.
Normalisasi menjadi salah satu langkah yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem pada awal tahun mendatang.
Pemerintah Siapkan Pompa dan Kolam Retensi 3,4 Hektare
Selain normalisasi sungai, pemerintah menyiapkan sejumlah fasilitas pengendalian banjir di kawasan yang rawan tergenang.
Fasilitas tersebut meliputi pompa air stasioner jenis submersible dan pompa bergerak yang dapat ditempatkan sesuai kebutuhan.
Beberapa titik yang menjadi perhatian berada di kilometer 31 dan kilometer 33, termasuk kawasan depan Hotel POP.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas saluran masuk dan keluar air untuk mempercepat pengaliran genangan.
"Kita juga memperbesar kapasitas crossing inlet maupun outlet, serta rencana pembangunan kolam retensi di atas lahan seluas kurang lebih 3,4 hektare," tambahnya.
Kolam retensi tersebut direncanakan sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir di kawasan Kali Prancis.
Namun, AHY belum menyampaikan jadwal pembangunan maupun anggaran yang dibutuhkan untuk merealisasikan kolam retensi tersebut.
AHY Minta Koordinasi Tangerang dan Jakarta Diperkuat
AHY menegaskan penanganan banjir Kali Prancis tidak dapat dilakukan oleh satu pemerintah daerah saja.
Hal itu karena kawasan aliran sungai tersebut berkaitan dengan wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Jakarta.
Menurutnya, koordinasi lintas pemerintah daerah dan instansi diperlukan agar langkah penanggulangan banjir dapat dilakukan secara menyeluruh.
Penanganan tersebut mencakup perbaikan kapasitas sungai, penguatan sistem drainase, serta pengelolaan wilayah yang memperhatikan kondisi lingkungan.
AHY juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur harus memperhatikan tata ruang untuk menghindari munculnya risiko bencana baru.
"Tata ruang harus menjadi panglima dalam pembangunan. Jangan sampai kita membangun tapi mengabaikan tata ruang dan keseimbangan lingkungan, yang pada akhirnya membawa bencana buat kita semua," kata dia.
Pemerintah berharap langkah normalisasi dan penguatan infrastruktur pengendalian banjir dapat mengurangi potensi genangan di sekitar Kali Prancis, khususnya menjelang periode hujan pada Januari dan Februari.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




