
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah sebesar 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.089 per dolar AS pada perdagangan Jumat (6/11/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelemahan tersebut membuat rupiah bergerak turun dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada pada level Rp18.082 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar mengenai keamanan jalur distribusi minyak internasional.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami serangan di kawasan Timur Tengah, sehingga menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan.
“Pasar merespons negatif terhadap kapal-kapal tanker yang mendapat serangan di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Serangan Kapal Tanker di Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak
Berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sedikitnya lima kapal telah melaporkan insiden keamanan sejak Minggu, 1 November 2026, di kawasan perairan Timur Tengah.
Frekuensi kejadian pada awal November tersebut dilaporkan mendekati tingkat insiden selama Oktober 2026, ketika tercatat sebanyak 35 insiden yang melibatkan kapal.
Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda mengalami kebakaran dalam sejumlah insiden terpisah.
Menurut pernyataan Korps Garda Revolusi Islam, insiden tersebut terjadi setelah kapal-kapal yang bersangkutan mencoba melintasi rute yang dinyatakan tidak sah melalui Selat Hormuz.
Perkembangan keamanan di Selat Hormuz menjadi perhatian pelaku pasar karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur strategis pengangkutan minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah menuju pasar internasional.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kelancaran distribusi minyak dan meningkatkan ketidakpastian pasokan energi global.
Selain insiden di Selat Hormuz, Arab Saudi turut mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di sekitar kawasan Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak negara tersebut di pesisir Laut Merah.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya serangan yang dilakukan kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah tersebut semakin meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko gangguan pengiriman minyak melalui jalur pelayaran internasional.
Serangan Ukraina terhadap Kilang Minyak Rusia Tambah Tekanan Pasar
Ibrahim menjelaskan bahwa kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak tidak hanya berasal dari perkembangan konflik di Timur Tengah, tetapi juga meluas ke kawasan lain, termasuk Rusia.
Ukraina dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia, sehingga menambah perhatian pelaku pasar terhadap keamanan infrastruktur energi global.
Berdasarkan analisis rekaman video yang dilakukan Reuters, kilang minyak Ryazan yang merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di Rusia diduga menjadi sasaran serangan pesawat nirawak atau drone pada malam sebelumnya.
“Kekhawatiran mengenai pasokan juga meluas hingga ke luar Timur Tengah. Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Menurut analisis video Reuters, kilang Ryazan salah satu yang terbesar di Rusia tampaknya menjadi sasaran dalam serangan pesawat nirawak (drone) yang terjadi semalam,” ungkap Ibrahim.
Serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak tersebut menjadi faktor tambahan yang memperkuat kekhawatiran pasar mengenai potensi terganggunya produksi dan distribusi energi.
Perkembangan tersebut turut menambah ketidakpastian di pasar komoditas energi yang sedang mencermati situasi keamanan di berbagai kawasan penghasil minyak.
Hasil Pemilu Paruh Waktu AS Belum Jamin Penyelesaian Konflik
Selain perkembangan di sektor energi, Ibrahim menilai prospek geopolitik global masih berada dalam kondisi tidak menentu setelah berlangsungnya pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.
Dalam pemilihan tersebut, Partai Demokrat disebut berhasil mengambil alih kendali atas kedua majelis Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump.
Perubahan komposisi politik di Kongres AS sempat menimbulkan harapan bahwa tekanan politik dapat mempercepat upaya penyelesaian berbagai konflik internasional.
Namun, Ibrahim menilai perubahan keseimbangan kekuatan politik tersebut tidak secara otomatis menjamin tercapainya kesepakatan diplomatik.
“Hasil tersebut sempat memicu harapan bahwa tekanan politik dapat mempercepat upaya untuk mengakhiri konflik. Namun, hasil pemilihan tersebut tidak menjamin tercapainya terobosan diplomatik,” kata Ibrahim.
Ketidakpastian mengenai perkembangan politik Amerika Serikat dan penyelesaian konflik internasional menjadi faktor yang turut memengaruhi sentimen pelaku pasar keuangan.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian dalam mencermati pergerakan mata uang berbagai negara, termasuk rupiah, di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.
Kurs JISDOR Bank Indonesia Turut Melemah ke Rp18.130 per Dolar AS
Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar valuta asing, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatatkan penurunan pada perdagangan Jumat (6/11/2026).
Kurs JISDOR tercatat berada pada level Rp18.130 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.094 per dolar AS.
Dengan demikian, kurs JISDOR mengalami pelemahan sebesar Rp36 per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar valuta asing ditutup pada level Rp18.089 per dolar AS atau melemah 7 poin dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp18.082 per dolar AS.
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak akibat serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah dan fasilitas pengolahan energi di Rusia.
Ketidakpastian geopolitik internasional, termasuk perkembangan politik Amerika Serikat setelah pemilihan paruh waktu, turut menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar dalam menentukan pergerakan mata uang.
- Penulis :
- Leon Weldrick




