
Pantau - Sekitar 250.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (7/11/2026) untuk memprotes kenaikan biaya hidup yang menjadi perhatian masyarakat di negara tersebut.
Jumlah peserta aksi tersebut dilaporkan surat kabar Le Figaro dengan mengutip data serikat pekerja kaum muda.
Sebelumnya, Pemerintah Prancis memperkirakan sebanyak 170.000 orang akan mengikuti demonstrasi di seluruh negeri, termasuk sekitar 60.000 orang di Paris.
Aksi protes tersebut merupakan kelanjutan dari gelombang demonstrasi yang berlangsung sejak pertengahan September 2026.
Demonstrasi Bermula dari Protes Pelajar
Gelombang demonstrasi di Prancis bermula ketika para pelajar sekolah menengah menggelar aksi di sejumlah kawasan pinggiran Paris pada pertengahan September.
Para pelajar turun ke jalan untuk menuntut perbaikan kondisi sekolah.
Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi demonstrasi massal yang melibatkan masyarakat di berbagai wilayah Prancis.
Tuntutan dalam gelombang protes itu juga mencakup persoalan kenaikan biaya hidup.
Sejumlah demonstrasi berlangsung ricuh sehingga pemerintah meningkatkan pengamanan dan melakukan penangkapan terhadap ratusan orang.
Aksi Terbesar Diikuti 550 Ribu Orang
Demonstrasi terbesar dalam rangkaian aksi tersebut berlangsung secara nasional pada 17 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi pada tanggal tersebut.
Jumlah itu lebih besar dibandingkan dengan sekitar 250.000 peserta yang dilaporkan mengikuti aksi pada Sabtu (7/11/2026).
Dalam menangani demonstrasi yang berujung kericuhan, aparat keamanan Prancis menggunakan gas air mata, granat kejut, dan meriam air untuk membubarkan massa.
Pemerintah Prancis juga meningkatkan langkah pengamanan menyusul meluasnya aksi protes di berbagai wilayah negara tersebut.
- Penulis :
- Gerry Eka




