
Pantau - Dalam beberapa dekade terakhir, burung Australian White Ibis (Threskiornis molucca) telah beradaptasi dengan kehidupan perkotaan di Australia, termasuk di kawasan Coburg Lake Reserve, Melbourne. Salah satu daya tarik utama area ini adalah sebuah pulau kecil yang kini dikenal sebagai Bin Chicken Island. Dipenuhi pepohonan rendah yang sebagian terendam air, pulau ini menjadi tempat tinggal koloni besar burung ibis.
Misteri Asal Usul Koloni Ibis
Keberadaan koloni ibis di Bin Chicken Island masih menjadi tanda tanya. Penelitian oleh kelompok lingkungan menunjukkan bahwa preferensi ibis untuk bersarang di pohon, ditambah dengan melimpahnya sumber makanan, telah mendorong burung ini menjadikan pulau tersebut sebagai rumah.
Perjalanan Ibis: Dari Habitat Alami ke Kota
Dahulu dikenal sebagai Sacred Ibis yang dihormati di Mesir kuno, burung ini sering dikaitkan dengan mitologi dewa Thoth. Namun, ibis di Bin Chicken Island bukanlah spesies invasif dari Mesir, melainkan burung asli Australia yang telah belajar hidup berdampingan dengan manusia.
Baca juga: Menelusuri Sejarah dan Keunikan Rumah Terkecil di Toronto
Sejak 1970-an, Australian White Ibis bermigrasi dari lahan basah pedalaman ke kawasan perkotaan di pantai timur Australia akibat kekeringan dan kerusakan habitat. Saat ini, burung ini dilindungi di bawah Wildlife Act 1975. Bin Chicken Island menjadi tempat perlindungan ideal bagi ibis, yang berperan penting dalam pengendalian hama alami dengan memakan serangga kecil, larva, dan ikan.
Tantangan Ekosistem Lokal
Meskipun populasi ibis di Bin Chicken Island terlihat tidak berbahaya, dampaknya cukup signifikan. Burung ini sering menunjukkan perilaku agresif terhadap spesies burung lain, merusak vegetasi untuk membuat sarang, dan mencemari air danau akibat penumpukan kotoran.
Selain itu, masyarakat sekitar mengeluhkan polusi suara, bau, dan gangguan terhadap ekosistem setempat. Sebagai solusi, Dewan Moreland bersama Friends of Merri Creek dan Merri Creek Management Committee merancang Rencana Pengelolaan Ibis Putih. Langkah ini mencakup pengendalian populasi melalui pencegahan bersarang, pelumasan telur, dan pemulihan habitat untuk satwa liar lainnya.
Meski ada yang menganggap populasi ibis sebagai masalah, banyak pula yang melihat sisi humor. Sebutan seperti “penjara koloni” untuk burung “napi bersayap” menghiasi komentar publik. Bahkan, Google Maps menampilkan Bin Chicken Island sebagai "tempat camping" lengkap dengan ulasan kocak.
Baca juga: Batman Park, Warisan Sejarah di Tepi Sungai Yarra
Ibis dalam Budaya Populer
Kehadiran ibis yang kerap terlihat mencari makan di tempat sampah menjadikannya inspirasi budaya populer. Burung ini dijuluki “bin chicken,” “tip turkey,” hingga “picnic pirate,” dan muncul dalam karya seni, acara televisi, hingga video viral.
Mockumentary “Planet Earth: Bin Chicken” (2017) karya David Johns dan Matt Eastwood mengeksplorasi dampak urbanisasi terhadap habitat burung ini dengan gaya satir. Serial animasi “Bin Chickens” (2018), yang didanai oleh Screen Australia dan ABC, menyoroti perjuangan ibis dalam menghadapi pembangunan perkotaan.
Dalam seni instalasi “Rolling Musical Screech” (2017) oleh Sue Pedley, ibis dirayakan sebagai bagian tak terpisahkan dari lanskap kota. Sementara itu, film “Ibis” karya Linden Braye (2016) mengkritik limbah manusia dengan menggunakan perilaku ibis sebagai metafora.
Baca juga: The Big Chair, Kursi Raksasa dengan Sejarah Unik di Washington DC
Mengunjungi Bin Chicken Island
Ketika mengunjungi Bin Chicken Island, pastikan untuk mematuhi pedoman konservasi, seperti tidak memberi makan burung. Pulau ini berada di Coburg Lake Reserve, yang juga menawarkan jalur hiking, area piknik, dan taman bermain untuk pengunjung.
Bin Chicken Island tidak hanya menarik sebagai habitat burung ibis, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di tengah urbanisasi.
- Penulis :
- Latisha Asharani



