
Pantau - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa rencana operasi pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz bukan merupakan misi NATO di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik di kawasan tersebut.
Keputusan itu disampaikan Starmer saat Inggris mulai menyusun langkah bersama mitra internasional untuk menjaga kelancaran jalur perdagangan energi global.
Inggris Bangun Aliansi di Luar NATO
Starmer mengatakan Inggris akan bekerja sama dengan sejumlah negara di luar kerangka NATO untuk merancang operasi yang dinilai lebih fleksibel dan inklusif.
"Kami bekerja sama dengan pihak lain untuk menyusun rencana yang kredibel untuk Selat Hormuz guna memastikan bahwa kami dapat membuka kembali jalur pelayaran," kata Starmer.
Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak akan melibatkan NATO sebagai institusi utama dalam misi tersebut.
"Izinkan saya tegaskan itu tidak akan dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO. Itu harus menjadi aliansi mitra itulah sebabnya kami bekerja sama dengan mitra di Eropa di Teluk dan dengan AS," katanya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sejumlah negara termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Trump menilai pengamanan Selat Hormuz penting untuk menjaga stabilitas jalur perdagangan minyak global.
Ia juga memperingatkan NATO akan menghadapi masa depan buruk jika tidak ikut terlibat dalam pengamanan kawasan tersebut.
Penolakan dan Opsi Patroli Bersama
Sejumlah negara Eropa merespons berbeda terhadap usulan tersebut, termasuk Polandia yang menolak untuk berpartisipasi dalam misi tersebut.
Prancis juga dilaporkan menolak inisiatif yang diajukan oleh Trump terkait pengerahan kekuatan militer di Selat Hormuz.
Di sisi lain, negara-negara Eropa dan kawasan Teluk tengah membahas opsi patroli bersama setelah konflik mereda.
Uni Eropa juga mempertimbangkan untuk memperluas misi angkatan laut Aspides ke Selat Hormuz yang saat ini beroperasi di Laut Merah dengan melibatkan kapal Yunani dan Italia.
Namun Yunani menyatakan akan menolak jika misi tersebut diperluas ke wilayah Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS.
Eskalasi konflik tersebut menyebabkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz terganggu.
Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas dunia sehingga gangguan di kawasan tersebut berdampak langsung pada ekspor dan produksi energi global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





