Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Rumah Sakit Perbatasan China Jadi Rujukan Pasien Asia Tenggara, Tawarkan Layanan Modern dan Tradisional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rumah Sakit Perbatasan China Jadi Rujukan Pasien Asia Tenggara, Tawarkan Layanan Modern dan Tradisional
Foto: (Sumber : ANTARA/Xinhua)

Pantau - Rumah sakit di wilayah perbatasan China, tepatnya di Prefektur Otonom Etnis Hani dan Yi Honghe, Provinsi Yunnan, menjadi harapan bagi pasien dari berbagai negara Asia Tenggara.

Fasilitas yang dikenal sebagai rumah sakit Gerbang Negara ini melayani tidak hanya warga lokal, tetapi juga pasien internasional, terutama dari negara-negara Asia Tenggara.

Seorang pasien asal Vietnam, Vo Thi Lan Phuong, mengaku rutin berobat ke rumah sakit tersebut.

Ia mengatakan, "Ini kunjungan ketiga saya ke sini."

Meski menghadapi kendala bahasa, pasien tetap mendapatkan layanan optimal berkat dukungan staf medis.

Phuong menambahkan, "Saya merasa aman di sini, seperti di rumah sendiri."

Rumah sakit menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan pasien asing, termasuk papan petunjuk dalam bahasa Mandarin, Inggris, dan Vietnam.

Tersedia pula layanan pemandu medis berbahasa asing serta perangkat lunak penerjemahan medis cerdas.

Dokter yang menguasai bahasa asing juga ditugaskan untuk memperlancar komunikasi antara tenaga medis dan pasien.

Di Departemen Neurologi, terdapat dokter asal Vietnam yang secara khusus melayani pasien dengan bahasa ibu mereka.

Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan kenyamanan dan rasa aman pasien selama menjalani pengobatan.

Salah satu pasien Vietnam yang mengalami infark serebral dilaporkan berhasil pulih setelah menjalani terapi intensif.

Pasien yang sebelumnya tidak dapat berjalan dan harus menggunakan kursi roda kini mampu berjalan perlahan setelah menjalani terapi akupunktur dan pijat selama satu bulan.

Metode pengobatan tradisional China seperti observasi, mendengarkan, bertanya, dan pemeriksaan denyut nadi menjadi layanan yang banyak diminati.

Metode tersebut dipadukan dengan teknologi medis modern untuk memberikan hasil yang optimal.

Peningkatan jumlah pasien asing turut didorong oleh kebijakan bebas visa serta kemudahan pemeriksaan bea cukai di wilayah tersebut.

Pada 2025, jumlah lalu lintas penumpang di Pelabuhan Hekou tercatat mencapai 6,42 juta orang atau meningkat 11,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pelabuhan tersebut melayani lebih dari 90 negara dan kawasan.

Pihak rumah sakit menyatakan, "Seiring kian makmurnya pelabuhan itu, permintaan perawatan medis bagi pasien asing juga semakin menguat."

Sepanjang 2025, rumah sakit ini telah melayani lebih dari 10.000 pasien asing dari Vietnam, Thailand, Laos, hingga negara lainnya.

Untuk mendukung layanan darurat, rumah sakit membentuk mekanisme koordinasi lintas instansi serta jalur hijau bagi pasien kritis.

Jalur tersebut memungkinkan penanganan cepat bagi pasien lintas perbatasan dalam kondisi darurat.

Seorang pasien asal Malaysia yang pernah mengalami kecelakaan mengungkapkan, "Jika bukan karena rumah sakit dan para dokter China, saya tidak berani membayangkan kondisi saya sekarang."

Sebagai jalur penting pertukaran sejak masa kuno, Hekou kini tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga simbol kerja sama dan persahabatan lintas negara melalui layanan kesehatan.

Penulis :
Ahmad Yusuf