HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Tegaskan AS Akan Ambil Uranium Diperkaya Iran di Tengah Kebuntuan Negosiasi Nuklir

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Trump Tegaskan AS Akan Ambil Uranium Diperkaya Iran di Tengah Kebuntuan Negosiasi Nuklir
Foto: (Sumber: Arsip foto - Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, Iran. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu (28/4/2024). Pembangkit Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir yang sering disebut-sebut dalam krisis internasional karena program nuklir Iran, saat ini menghasilkan 1.000 megawatt listrik per tahun. /ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri.)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya akan mengamankan persediaan uranium diperkaya milik Iran “dengan cara apa pun” di tengah kebuntuan negosiasi antara kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih, Washington, Kamis (30/4/2026).

“Kami ingin mendapatkannya. Kami akan mengambilnya dengan cara apa pun. Kami akan mendapatkannya. Kami akan mendapatkannya atau kami akan mengambilnya. Mereka akan memberikannya kepada kami atau kami akan mengambilnya,” ungkapnya.

Ia bahkan menambahkan, "Bahkan tidak akan sulit."

Kebuntuan Negosiasi dan Ketegangan Meningkat

Pernyataan Trump muncul saat pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait penyelesaian konflik dan program nuklir masih mengalami kebuntuan.

Sejumlah laporan menyebut Iran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz sambil menunda pembahasan program nuklir ke tahap selanjutnya.

Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang dicapai di antara kedua pihak.

Pengawasan IAEA Terhambat Konflik

Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa upaya verifikasi terhadap fasilitas nuklir Iran terkendala situasi keamanan.

“Akses seharusnya dilakukan pada 13 Juni, pada hari dimulainya serangan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan para inspektur sebelumnya dijadwalkan mengunjungi fasilitas nuklir baru Iran, namun rencana tersebut batal akibat konflik yang pecah pada waktu yang sama.

Grossi menambahkan bahwa sebelum eskalasi konflik, IAEA memantau secara ketat persediaan uranium diperkaya milik Iran.

Penulis :
Aditya Yohan