HOME  ⁄  Geopolitik

Bentrokan Perbatasan Pakistan-Afghanistan Tewaskan Sembilan Warga Sipil dalam Dua Hari

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Bentrokan Perbatasan Pakistan-Afghanistan Tewaskan Sembilan Warga Sipil dalam Dua Hari
Foto: (Sumber: Kerusakan parah terlihat akibat dugaan serangan udara Pakistan di Kabul, Afghanistan, Jumat (13/3/2026). ANTARA/Anadolu/Hamid Sabawoon/pri..)

Pantau - Sedikitnya sembilan orang tewas dan 15 lainnya terluka akibat bentrokan perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan dalam dua hari terakhir.

Insiden tersebut terjadi di distrik suku Bajaur, wilayah barat laut Pakistan, yang disebut Islamabad sebagai akibat penargetan warga sipil oleh pasukan perbatasan Afghanistan.

Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar mengatakan korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak.

Ia menegaskan serangan tersebut dilakukan tanpa provokasi dan bersifat kriminal.

Saling Tuduh dan Serangan Balasan

Tarar juga mengungkapkan bahwa tiga warga sipil terluka saat bermain kriket akibat serangan drone quadcopter pada Jumat.

“Serangan ini terang-terangan dan memalukan,” ungkapnya.

Pakistan menuduh kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atau yang disebut Fitna Al Khwarij mendapat dukungan dari Kabul.

Namun, pemerintah Afghanistan belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut dan sebelumnya telah membantah keterlibatan dengan TTP.

Di sisi lain, Kabul menuding Pakistan melakukan serangan rudal di provinsi Kunar yang menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan melukai 70 orang, termasuk pelajar.

Konflik Berlanjut Meski Ada Gencatan Senjata

Pakistan membantah tuduhan tersebut dan menyatakan hanya menargetkan kelompok teroris dengan upaya meminimalkan korban sipil.

Klaim dari kedua pihak hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.

Bentrokan terbaru ini terjadi setelah konflik besar pada Maret yang menewaskan ratusan orang di kedua sisi perbatasan.

Meski sempat tercapai gencatan senjata saat Idul Fitri pada 18 Maret, ketegangan kembali meningkat.

Upaya diplomasi melalui mediasi China di Urumqi sebelumnya menghasilkan kesepakatan untuk membahas solusi komprehensif, namun situasi di lapangan masih belum stabil.

Penulis :
Ahmad Yusuf