HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Tegaskan Tidak Ada Solusi Militer untuk Krisis Politik di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Iran Tegaskan Tidak Ada Solusi Militer untuk Krisis Politik di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Foto: (Sumber: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. ANTARA/Ahmet Serdar Eser/Anadolu/pri..)

Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak ada solusi militer untuk krisis politik serta memperingatkan Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab agar tidak meningkatkan eskalasi di Selat Hormuz.

Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut pada Selasa (5/5) melalui platform X dari Washington dengan menyoroti situasi terkini di kawasan Teluk.

Ia menegaskan bahwa pendekatan militer tidak akan menyelesaikan konflik yang tengah berlangsung.

"Peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Dengan adanya pembicaraan yang mengalami kemajuan lewat upaya baik Pakistan, Amerika harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam kubangan oleh pihak-pihak yang berniat buruk; begitu pula UEA," ungkapnya.

Araghchi juga menolak rencana Washington bertajuk Project Freedom untuk mengawal kapal dagang keluar dari Selat Hormuz dan menyebutnya sebagai langkah yang tidak efektif.

Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan pada Senin (4/5) dengan menargetkan wilayah Uni Emirat Arab menggunakan rudal dan pesawat nirawak.

Pihak UEA melaporkan telah mencegat 15 rudal dan empat drone dalam gelombang serangan tersebut.

Serangan itu juga memicu kebakaran di Zona Industri Minyak Fujairah yang merupakan pusat energi penting di pantai timur UEA.

Konflik ini merupakan lanjutan dari ketegangan sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang direspons dengan aksi balasan oleh Teheran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak 8 April sempat meredakan situasi, namun perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.

Informasi tambahan menyebut gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.

Penulis :
Ahmad Yusuf