HOME  ⁄  Geopolitik

AS Izinkan BP Lanjutkan Pembayaran ke Iran dan Rusia di Tengah Sanksi Energi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

AS Izinkan BP Lanjutkan Pembayaran ke Iran dan Rusia di Tengah Sanksi Energi
Foto: (Sumber: Logo BP di Stasiun Pengisi Bahan bakar Umum (SPBU) London, Inggris (REUTERS/Luke MacGregor) (Reuters).)

Pantau - Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) memperpanjang izin bagi perusahaan energi BP Plc untuk melakukan pembayaran kepada Iran dan Rusia dalam proyek ladang gas utama di Azerbaijan.

BP Tetap Diizinkan Bermitra dengan Iran dan Rusia

Laporan Bloomberg pada Rabu (6/5) menyebut BP tetap diperbolehkan bekerja sama dengan Naftiran Intertrade Co. (NICO), anak perusahaan minyak nasional Iran yang masuk daftar hitam sanksi AS, serta perusahaan energi Rusia, Lukoil PJSC.

Keputusan tersebut dinilai bertolak belakang dengan kebijakan Operation Economic Fury yang sebelumnya digagas Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Namun, BP tidak mengungkapkan berapa lama izin tersebut diperpanjang oleh OFAC.

“Tindakan OFAC yang tidak dipublikasikan tidak sepenuhnya sesuai dengan retorika absolutis terkait Iran. Saya memperkirakan hal itu akan berlanjut, terlepas dari perkembangan dalam konflik saat ini,” ungkap mantan penyelidik sanksi utama OFAC Jeremy Paner kepada Bloomberg.

Konflik AS-Iran Masih Berlanjut

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Pada 7 April 2026, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata untuk meredakan konflik.

Meski demikian, pembicaraan lanjutan di Pakistan belum menghasilkan terobosan signifikan dan Presiden Donald Trump memutuskan memperpanjang masa gencatan senjata agar Iran memiliki waktu menyusun “proposal terpadu”.

Di tengah proses diplomasi tersebut, AS juga dilaporkan masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sambil menunggu putaran negosiasi baru.

Penulis :
Ahmad Yusuf