HOME  ⁄  Geopolitik

Jerman Lanjutkan Upaya Pembelian Rudal Tomahawk dan Peluncur Typhon dari Amerika Serikat

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Jerman Lanjutkan Upaya Pembelian Rudal Tomahawk dan Peluncur Typhon dari Amerika Serikat
Foto: (Sumber: Rudal Tomahawk - ANTARA/Matthew Daniels/Handout via REUTERS.)

Pantau - Jerman kembali melanjutkan upaya membeli rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat dan berharap memperoleh peluncur Typhon di tengah pembahasan penguatan sistem pertahanan jarak jauh di Eropa.

Informasi tersebut dilaporkan surat kabar Financial Times yang mengutip sumber terkait.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengatakan Berlin masih melakukan konsultasi intensif dengan Amerika Serikat terkait kemungkinan penempatan rudal Tomahawk di Jerman.

Sebelumnya, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan tidak memperkirakan pengiriman rudal Tomahawk dari Amerika Serikat ke Jerman akan segera terjadi.

Meski demikian, Friedrich Merz tidak menutup kemungkinan situasi tersebut dapat berubah di masa depan.

Menteri Pertahanan Jerman Siapkan Proposal ke Washington

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius berencana melakukan perjalanan ke Washington untuk kembali mengajukan proposal pembelian sistem rudal jarak jauh kepada Gedung Putih.

Perjalanan tersebut bergantung pada kemungkinan terlaksananya pertemuan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.

Berlin disebut siap membayar lebih mahal demi menjamin pembelian sistem rudal tersebut.

Pada Juli 2024, pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Jerman mengumumkan rencana penempatan sistem rudal presisi jarak jauh milik Amerika Serikat di Jerman mulai tahun 2026.

Sistem tersebut disebut memiliki kemampuan yang jauh melampaui persenjataan yang saat ini ditempatkan di Eropa.

Rusia Soroti Rencana Penempatan Rudal di Jerman

Rencana penempatan sistem pertahanan tersebut mencakup rudal SM-6, rudal jelajah Tomahawk, dan senjata hipersonik.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan jika Amerika Serikat menempatkan senjata semacam itu di Jerman, maka Rusia tidak lagi menganggap dirinya terikat pada moratorium penempatan sistem serangan jarak menengah dan jarak pendek.

Penulis :
Gerry Eka